Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat sebanyak 4.914 rumah di Kabupaten Ngada mengalami kerusakan akibat gempa yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Data perkembangan penanganan bencana hingga Kamis, 20 Agustus 2026, menunjukkan ribuan rumah terdampak tersebut tersebar di 12 kecamatan dengan tingkat kerusakan berat, sedang, dan ringan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT Mahadin Sibarani mengatakan kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga, tetapi juga berbagai fasilitas publik dan infrastruktur.
"Kerusakan rumah di Kabupaten Ngada tersebar di 12 kecamatan dengan kategori rusak berat, sedang, dan ringan," kata Mahadin Sibarani dalam keterangannya di Kupang, Kamis.
Gempa Rusak Fasilitas Publik dan Menelan Dua Korban JiwaSelain ribuan rumah warga, gempa mengakibatkan kerusakan pada satu kawasan perkampungan, yakni Kampung Dhokudou/Tololela di Desa Manubhara.
Kerusakan infrastruktur jalan tercatat terjadi pada 12 titik ruas jalan di Kabupaten Ngada.
Sebanyak 55 kantor pemerintahan juga mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.
Pada sektor kesehatan, BPBD mencatat sebanyak 41 fasilitas kesehatan masyarakat dan enam fasilitas kesehatan hewan terdampak.
Dari sektor pendidikan, sebanyak 85 satuan pendidikan mengalami kerusakan.
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada 32 rumah ibadah.
BPBD NTT mencatat dua orang meninggal dunia dan 43 orang mengalami luka-luka akibat gempa di Kabupaten Ngada.
Dari 43 korban luka, sebanyak 16 orang mengalami luka berat, tiga orang luka sedang, dan 24 orang luka ringan.
"Korban telah ditangani oleh petugas kesehatan," kata Mahadin.
Sebanyak 2.551 Warga Mengungsi di 81 TitikDampak gempa juga menyebabkan ribuan warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke lokasi yang dinilai lebih aman.
Sebanyak 2.551 jiwa dari 1.425 kepala keluarga tercatat berada di 81 titik pengungsian yang tersebar di Kabupaten Ngada.
Kecamatan Riung menjadi wilayah dengan lokasi pengungsian terbanyak, yakni mencapai 67 titik.
Sementara itu, Kecamatan Bajawa memiliki dua titik pengungsian dan Kecamatan Aimere sebanyak 12 titik.
Pemerintah Kabupaten Ngada telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 30 hari, terhitung mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026.
Dalam penanganan darurat, BPBD terus meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bahaya pascagempa.
Masyarakat untuk sementara diimbau tidak tinggal di dalam rumah guna mengurangi risiko apabila terjadi gempa susulan.
Warga juga diminta menjauhi wilayah yang memiliki risiko tanah longsor.
Khusus masyarakat di wilayah pesisir, BPBD mengimbau warga melakukan pengungsian sementara sebagai langkah antisipasi terhadap potensi tsunami.
BPBD juga meminta masyarakat tetap berhati-hati apabila gempa susulan masih terjadi.
Bantuan Logistik Disalurkan ke Wilayah TerdampakBantuan logistik dan sembako untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak telah disalurkan ke Kecamatan Riung, Riung Barat, dan Aimere.
BPBD NTT masih melanjutkan penanganan sekaligus pendataan untuk mengetahui perkembangan jumlah korban dan kerusakan akibat gempa di Kabupaten Ngada.
"Hingga saat ini penanganan sudah dilakukan dan pendataan masih terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan dampak gempa di Kabupaten Ngada," kata Mahadin.
Sebelumnya, PT TASPEN (Persero) pada Selasa, 18 Agustus 2026, turut menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa di Flores.
Bantuan berupa 400 paket sembako dan berbagai kebutuhan lainnya dengan total nilai Rp155 juta tersebut terutama ditujukan kepada masyarakat terdampak di wilayah Riung, Kabupaten Ngada.
Penyaluran bantuan dilakukan melalui Ikatan Keluarga Ngada (IKADA) di Kota Kupang.





Komentar (0)