3.618 Gempa Susulan Terjadi, Warga Flores Masih Tak Berani Tidur di Rumah

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

BANDUNG, KOMPAS-Hingga Kamis (20/8/2026) sore, tercatat 3.618 gempa susulan di Perairan Flores, Nusa Tenggara pasca gempa utama berkekuatan Magnitudo 7,7. Rentetan gempa susulan itu diperkirakan masih berpotensi terjadi dengan kekuatan cukup signifikan setidaknya hingga dua minggu ke depan.

Guru Besar Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano kepada Kompas, memaparkan, pola kegempaan di Indonesia menunjukkan dua minggu pertama setelah gempa utama sebagai periode yang perlu mendapatkan perhatian paling besar. Dalam periode tersebut, gempa susulan dengan magnituda satu tingkat di bawah gempa utama masih berpotensi terjadi.

Berdasarkan analisisnya, sekitar 70 persen gempa susulan biasanya terjadi dalam radius sekitar 50 kilometer dari pusat gempa utama. Lokasinya tidak selalu berada tepat di titik gempa utama, tetapi bergeser di sekitar kawasan tersebut.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Kamis pukul 09.00 WIB, gempa M 7,7 itu berpusat di Kabupaten Nagekeo. Akibatnya, 72 warga  meninggal dunia dan 900 lainnya luka-luka.

Sebanyak 82.691 orang mengungsi akibat gempa tersebut. Data juga mencatat 18.091 keluarga terdampak yang masih dalam proses pendataan pemerintah daerah setempat dan BNPB.  

Baca JugaRentetan Gempa di Flores Timur dan Konstruksi Tahan Gempa yang Dilupakan

Sebanyak 11.699 rumah rusak berat, 6.542 rumah rusak sedang, dan 10.760 rumah rusak ringan. Gempa juga berdampak pada 804 fasilitas pendidikan, 195 rumah ibadah, 237 fasilitas kesehatan, 257 kantor, 116 fasilitas umum dan 45 titik jalan.

“Warga di wilayah terdampak masih perlu waspada gempa susulan dalam dua minggu setelah gempa utama,” kata Irwan.

Irwan menuturkan, frekuensi gempa susulan diperkirakan semakin berkurang setelah dua minggu. Dalam 100 hari pertama atau sekitar tiga bulan, misalnya, jumlah gempa diperkirakan turun sekitar 10 persen dibandingkan kondisi saat ini. Setelah enam bulan, gempa susulan diperkirakan semakin jarang dan magnitudonya semakin kecil.

“Gempa dengan magnitudo besar memang dapat diikuti banyak gempa susulan sebagai bagian dari proses penyesuaian kerak bumi setelah pelepasan energi utama,” paparnya.

Irwan pun menyatakan, kondisi tersebut bukan fenomena black swan earthquake atau gempa yang belum terpetakan dengan kekuatan merusak yang besar dan terjadi berulang kali. Kawasan Sesar Busur Sunda-Banda yang mencakup Flores dan wilayah sekitarnya memiliki sejarah gempa besar dan merusak.

Gempa 8,3 Mw, kata dia, pernah terjadi di Pulau Sumba pada tahun 1977. Flores kemudian mengalami gempa dengan kekuatan 7,8 Mw pada tahun 1992.

“Dalam rentang sekitar empat dekade, lebih dari 30 gempa merusak tercatat di kawasan Busur Sunda-Banda. Gempa-gempa tersebut juga diikuti aktivitas gempa susulan,” tuturnya.

Irwan juga menekankan pentingnya penanganan warga selama periode gempa susulan seperti tempat tinggal sementara, fasilitas mandi, kakus dan layanan kesehatan. Pemerintah perlu memprioritaskan asesmen kerusakan untuk mengetahui bangunan masyarakat yang terdampak.

“Warga yang rumahnya mengalami kerusakan sebaiknya tidak kembali ke dalam bangunan sebelum kondisi dinyatakan aman. Hunian sementara yang layak diperlukan untuk mengurangi resiko korban akibat gempa susulan,” tambahnya.

Tidur di luar

Di sejumlah kabupaten di Pulau Flores yang terdampak, warga masih merasakan gempa susulan hingga saat ini. Kondisi tersebut menyebabkan warga tidak berani tinggal di rumahnya dan memilih untuk tidur di lapangan maupun teras rumah.

Hal inilah yang dirasakan Joni (35), warga Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Ia mengatakan, warga tidak berani tidur di dalam rumah setelah gempa susulan yang terjadi sejak malam hingga pagi.

“Saya dan para warga tidur di tenda darurat yang kami beli sendiri. Gempa susulan dengan kekuatan getaran yang sangat terasa sudah terjadi sejak Kamis dini hari tadi,” ungkapnya.

Sementara di Kabupaten Manggarai Timur, sejumlah desa di wilayah pegunungan belum mendapatkan bantuan seperti tenda dan selimut hingga kini. Febrianus Orli (30), warga Desa Nampar Tabang mengatakan, bantuan belum menjangkau desanya dan desa tetangga yakni Liang Keruk secara optimal.

Padahal, dua warga dalam kondisi luka-luka dan seluruh warga di Desa Nampar Tabang sudah mengungsi. Sementara di Desa Liang Keruk, tercatat tiga korban meninggal dunia dan 94 orang luka-luka.

“Seluruh warga di dua desa ini menggunakan tenda darurat. Belum ada bantuan dari pemerintah. Bantuan hanya disalurkan ke wilayah pesisir saja,” ungkapnya.

Baca JugaGempa Flores Magnitudo 7,7, Ini Kesaksian Warga yang Mengungsi


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
"Extended concourse" MRT jadi solusi kepadatan serta pusat kegiatan
• 18 jam lalu
0
thumb
IHSG Sesi 1 Menguat 1,46% ke 6.487, Tertinggi di Asia
• 9 jam lalu
0
thumb
Kisah Pilu Warga Marapokot Bertahan Hidup di Tengah Puing Pascagempa NTT
• 20 jam lalu
0
thumb
Kronologi Kecelakaan Maut di Bekasi, Pasutri Tewas dan si Ibu Sempat Lempar Anaknya Sebelum Dihantam Truk
• 17 jam lalu
0
thumb
Sudah Lakoni 4 Laga Uji Coba, PSIM Masih Cari Formula Terbaik Jelang Super League 2026/2027
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.