Mozaik Perdamaian dalam Kolaborasi Para Seniman

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Pesan perdamaian terasa sangat relevan untuk menyikapi kondisi dunia saat ini yang sedang tidak baik baik saja. Di tengah hingar bingar perang di berbagai sudut dunia, seni menjadi salah satu media untuk menyuarakan pesan itu. Lebih dari sekedar estetika, seniman melalui lukisannya menjadi alat perubahan yang dapat menggugah pikiran dan tindakan untuk menyudahi segala bentuk peperangan, penindasan dan kesewang-wenangan.

Melalui sebuah lukisan besar berukuran 2,8 x 7 meter berjudul “Law of The Jungle” (2026), Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memiliki ide gagasan keresahan terhadap keadaan dunia membuat lukisan kolaborasi yang dilukis bersama 22 seniman yang tergabung dalam SBY Art Comunity. Para seniman memvisualisasikan ide SBY tersebut diawali sketsa digital hingga eksekusi yang tidak berbarengan. Pembuatan lukisan berurutan mulai dari seniman asal Jakarta, Solo bergantian hingga terakhir SBY ditemani anggota komunitas dari Bandung dan Jakarta untuk penyelesaian akhir.

Lukisan itu menampilkan sosok raja hutan singa dan harimau yang memangsa rusa yang tampak tak berkdaya. Di bawah rusa tertulis pesan “The Might is Right.” Sementara sesosok lelaki dengan jubah tampak berjalan diantara reruntuhan bangunan melalui sebuah jalan yang bertuliskan kalimat kutipan dari ahli sejarah Yunani Thukidides, “The strong do what they can, and the weak suffer what they must” (Yang kuat bisa berbuat sekehendaknya dan yang lemah akan menderita sebagai akibatnya).

Lukisan itu menjadi ikon dari pameran lukisan dengan tema “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” yang berlangsung pada 18 hingga 30 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki Jakarta. “Dalam pembuatan lukisan utama dalam pameran tersebut para seniman harus mampu menahan ego untuk berkarya bersama membuat satu lukisan besar dengan tone yang selaras,” ungkap Gie Sanjaya, kurator pameran.

Kata “collaboration” dalam judul pameran merujuk pada kehadiran seniman tamu Christopher Lehmpfuhl dari Kornfeld Galerie Berlin, Jerman dan lima seniman cilik. Selain itu pameran ini kolaborasi juga bermakna lintas generasi dengan adanya rentang usia seniman antara 10 tahun sampai 76 tahun. Sebuah keunikan tersendiri dari pameran ini karena adanya sister city collaboration antara Jakarta dan Berlin sekaligus menandai HUT DKI yang ke 499 tahun ini.

Pameran ini merupakan tema pameran kedua sejak dibentuknya badan SBY Art Community (SAC) oleh SBY yang mempunyai visi mewujudkan komunitas ini sebagai wadah untuk menyuarakan perdamaian, inklusivitas dan pelestarian lingkungan lewat seni terutama seni lukis. Tema perdamaian dan cita cita akan dunia ini dipilih sebagai fokus utama untuk merespons dinamika global dan kebutuhan akan solidaritas. Sebanyak 150 karya lukisan dari 27 seniman Indonesia ditampilkan termasuk karya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), seniman cilik dan Christopher Lehmpfuhl.

Seniman anggota SBY Art Community yang terlibat dalam pameran yaitu : Agung Fitriana, Agus TBR, Akbar Linggaprana, Bambang Sugiarto, Catur Nugroho, Cia Syamsiar, Flavia Giulietta, Guntur Wibowo, I Gede Arya Sucitra, Imam Bawon, Koelo Maryam, La Ode Umar Arsuria, Masdibyo, Naufal Abshar, Ricki Roganda Sitepu, Rizky Romansyah, Susilo Bambang Yudhoyono, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Tony Siswoyo, Willy Himawan, Zusfa Roihan serta para seniman cilik: Jaden Anders (Tangerang Selatan), Navya Adiba Zahra (Malang), I Gusti Ayu Mirah Djelantik (Bali), Darka Astatanu Hasmanto (Yogyakarta), Garnetta Joy Pasalli (Bandung).

Dua galeri yang digunakan sekaligus memisahkan dua sub tema dalam pameran. Galeri Emiria Soenassa menyajkan lukisan sesuai tema utama. Adapun galeri Oesman Effendi menampilkan lukisan-lukisan lansekap atau En Plein Air dalam istilah bahasa Perancis yang berarti melukis langsung di luar ruang.

Art for Peace and Better Future: Collaboration” mengomunikasikan seni bukan hanya aktivitas estetis, tetapi juga tindakan etis: setiap sapuan kuas, setiap percakapan dan setiap perjumpaan membuka kemungkinan baru bagi hubungan antar manusia. Layaknya sebuah mosaik, melalui karya, Christopher Lehmpfuhl dan seluruh anggota SBY Art Community memperlihatkan bahwa perdamaian tidak pernah hadir sebagai satu suara, melainkan sebagai himpunan pengalaman yang saling melengkapi.

Lukisan-lukisan SBY dan sebagian perupa peserta lainnya menyampaikan pesan dengan begitu gamblang dan mudah dicerna untuk perdamaian dan pelestarian lingkungan. Simbol pesan perdamaian banyak direpresentasikan dengan merpati, bunga, wajah anak-anak, perempuan, serta pesan pelestarian yang terlihat dari alam-alam yang rusak hingga bendera Palestina yang saat ini masih berjuang untuk merdeka dari belenggu zionisme Israel.

Seperti lukisan karya Guntur Wibowo berjudul “Harapan” (2026) yang banyak menampilkan unsur merpati biru dari origami hingga merpati asli berterbangan. Sementara sosok orang mengenakan caping dengan wajah yang tertutup membawa sebuah kapal tanker menggambarkan diri yang lemah terimbas dengan kondisi perang di Timur Tengah.

Melalui lukisan ini, Guntur hendak menyampaikan pesan ke kita semua bahwa perdamaian dapat dimulai dari diri kita sendiri, kemudian simbol monas yang melambangkan Kota Jakarta selanjutnya negara kita untuk terus menyuarakan kebaikan untuk kebaikan dunia.

Lukisan Guntur merupakan representasi dari banyak lukisan yang menyuarakan bahwa perdamaian dapat kita suarakan sesuai latar belakang kita masing-masing. Seperti halnya seniman melalui karyanya, aparat dengan kekuasaannya, pejabat dengan wewenangnya.

“Seriuh-riuhnya peperangan, masih tetap ada orang baik yang berdiri dengan kokohnya. Jadi saya tetap yakin akan kebaikan itu tetap akan menang,” ujar seniman lulusan IKJ ini.

Adapun galeri Oesman Effendi lebih banyak menampilkan eksplorasi keindahan alam dan makhluk hidup. Christopher Lehmpfuhl selaku seniman tamu mendapatkan kehormatan oleh SBY untuk melukis bersama di sejumlah lokasi yang estetik, seperti Monas, Borobudur, Pacitan dan Cisarua.

Selama dua minggu, ia melukis bersama para seniman SBY Art Community di lokasi-lokasi tersebut menjadikan setiap lokasi sebagai ruang dialog antara pengalaman yang dihayati, cahaya, cuaca, materialitas, dan kehadiran fisik pelukis.

Ia menerjemahkan pengalamannya di Indonesia menjadi permukaan-permukaan lukisan yang kaya akan tekstur, warna, gerak, dan cahaya. Jakarta menghadirkan denyut kota metropolitan yang dinamis, Borobudur memancarkan resonansi spiritual sebagai sebuah warisan dunia, sementara bentang pegunungan Cisarua seperti Gunung Gede, Gunung Salak dan pesisir selatan Pacitan menawarkan pengalaman yang sama kuatnya dalam memperlihatkan keragaman lansekap Indonesia.

Christopher membuat sejumlah lukisan dengan dua metode. Seri lukisan tentang Monas dan Jakarta dibuat dengan teknik hand painting atau mengaplikasikan lapisan impasto tebal secara langsung menggunakan tangan. Sementara seri Candi Borobudur dan Prambana dibuat dengan kuas dan cat minyak di atas kanvas. Bagi seniman yang telah menjadi sahabat SBY ini, pameran di Indonesia menjadi debut perdananya.



Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Selain Penggelapan Dana, Mantan Asisten Diana Pungky Kini Juga Diduga Mengaku sebagai Sang Artis
• 10 jam lalu
0
thumb
Simak Jadwal SIM Keliling di Depok dan Bekasi Kamis 20 Agustus 2026
• 12 jam lalu
0
thumb
Singkirkan Malaysia, Kim Sang Sik Ungkap Perubahan Besar Vietnam Jelang Hadapi Thailand di Piala AFF 2026
• 10 jam lalu
0
thumb
Tiba di NTT, Gibran Wapres Bersama Mahasiswa UI Pastikan Pemulihan Pascabencana Berjalan Optimal
• 7 jam lalu
0
thumb
Makassar Jadi Tuan Rumah EIRC 2026, Ratusan Atlet Roller Skate Nasional Siap Berlaga
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.