Jalan Penghubung 3 Desa di Sikka Tertutup Longsor, Distribusi Logistik Tersendat

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Sikka: Akses jalan utama yang menghubungkan tiga desa di Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih tertutup material longsor setelah gempa melanda wilayah tersebut.

Jalan tersebut menghubungkan Desa Natakoli, Desa Hale, dan Desa Hebing menuju Desa Egon Gahar serta jalan negara Trans Flores di Kecamatan Waigete. Jalur ini menjadi akses penting bagi aktivitas masyarakat, pelayanan kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, dan penyaluran bantuan bagi warga terdampak bencana.

Material tanah dan batu menutupi badan jalan. Sebuah batu berukuran besar juga masih berada di lokasi dan belum dapat disingkirkan secara manual. Kondisi tersebut membuat kendaraan roda dua dan roda empat belum dapat melintas. Akibatnya, distribusi logistik menuju tiga desa ikut terhambat.

Kebutuhan pokok dan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa harus dikirim melalui jalur alternatif karena kendaraan pengangkut tidak dapat menggunakan akses utama. Sekretaris Camat Mapitara, Stefanus Raga, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena jalan itu merupakan jalur terdekat bagi warga tiga desa menuju Desa Egon Gahar dan jalan negara Trans Flores di Kecamatan Waigete.

“Jalan tersebut merupakan jalan satu-satunya dari tiga desa tersebut menuju Desa Egon Gahar dan ke jalan negara Trans Flores di Kecamatan Waigete sehingga bisa lebih dekat ke Kota Maumere,” ujar Stefanus saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores, Kamis, 20 Agustus 2026.
 

Baca Juga :

Gempa Dangkal M 5,2 Guncang Manggarai NTT


Penutupan akses membuat distribusi bantuan dan kebutuhan masyarakat harus melewati jalur yang lebih jauh. Kendaraan dari tiga desa tersebut harus menggunakan jalur alternatif melalui pesisir selatan Flores. Rute tersebut melewati Kecamatan Doreng, Bole, dan Hewokloang sebelum kembali terhubung dengan jalan negara Trans Flores.

Jarak perjalanan yang lebih panjang menjadi kendala dalam penyaluran kebutuhan warga, terutama selama masa tanggap darurat ketika pangan, air, obat-obatan, dan kebutuhan dasar harus segera diterima masyarakat.

“Kendaraan harus memutar jauh lagi dan jarak tempuhnya lebih lama. Orang pun takut melintasi jalan tersebut karena bisa terkena material longsor sebab daerah tersebut rawan longsor,” kata Stefanus.

Terputusnya akses juga berdampak pada pelayanan kesehatan. Ambulans Puskesmas Mapitara yang membawa pasien untuk dirujuk ke RS TC Hillers Maumere harus melewati jalur alternatif. Kondisi tersebut menjadi kendala karena pasien yang membutuhkan rujukan memerlukan perjalanan menuju fasilitas kesehatan lanjutan dengan akses yang dapat dilalui kendaraan.

Gangguan akses juga memengaruhi mobilitas warga Desa Egon Gahar menuju pusat pelayanan di Kecamatan Mapitara. Warga harus menghadapi perjalanan lebih panjang untuk menuju Puskesmas Mapitara maupun Kantor Camat Mapitara.



Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama perwakilan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia bertolak menuju Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta. Foto: ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Wakil Presiden.


Di tengah situasi pascagempa, keterbatasan akses jalan membuat mobilitas warga, tenaga kesehatan, dan petugas pelayanan menjadi semakin terbatas. Stefanus mengatakan pihak Kecamatan Mapitara telah melaporkan kondisi jalan tersebut kepada Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores.

Pemerintah kecamatan berharap alat berat segera dikirim untuk menyingkirkan material longsor dan batu besar yang menutup badan jalan.

“Saya sudah melaporkan ke Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores dan mudah-mudahan alat berat segera dikirim agar akses transportasi bisa berjalan lancar seperti semula,” ungkapnya, Kamis, 20 Agustus 2026.

Pembukaan kembali akses tersebut dinilai penting bagi warga Desa Natakoli, Hale, dan Hebing. Jalan yang kembali dapat dilalui akan mempermudah distribusi logistik dan bantuan kepada masyarakat terdampak. Akses tersebut juga diperlukan untuk mendukung mobilitas ambulans serta memudahkan warga memperoleh pelayanan kesehatan dan pemerintahan tanpa harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh.

Selama jalan utama masih tertutup material longsor, warga tiga desa harus menggunakan jalur yang lebih panjang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam masa tanggap darurat pascagempa, terbukanya akses jalan menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menjaga distribusi logistik dan pelayanan kemanusiaan tetap berjalan. (Marianus Marselus)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Destiniasi wisata yang masih tutup di NTT hingga pemulihan BTS
• 12 jam lalu
0
thumb
Penghijauan IKN Pulihkan Ekosistem dan Habitat Satwa Kalimantan
• 20 jam lalu
0
thumb
5 Berita Terpopuler: Purbaya Sudah Menghitung, Status Kepegawaian Guru PPPK Dialihkan ke Pemerintah Pusat
• 12 jam lalu
0
thumb
Kemenhaj Cek 400 Ribu Data Antrean Haji yang Berisiko Tidak Valid
• 22 jam lalu
0
thumb
Hasil Kejuaraan Dunia BWF 2026: Berjuang keras Taklukan Wakil Hong Kong, Sabar/Reza Kunci Satu Tempat di Babak 16 Besar
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.