Dua Bayi Lahir di Tenda RS Darurat Daerah Aeramo Nagekoe NTT

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Nagekeo: Gempa bumi dan gempa susulan di Nusa Tenggara Timur (NTT) memaksa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Daerah Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dipindahkan ke tenda darurat.

Kerusakan gedung, sejumlah peralatan medis yang terdampak, serta padamnya aliran listrik membuat pelayanan kesehatan berlangsung dalam kondisi terbatas. Namun, dokter, bidan, dan perawat tetap bertahan untuk memberikan pertolongan kepada pasien.

Di tengah situasi tersebut, dua persalinan berlangsung di tenda darurat. Keterbatasan fasilitas membuat tenaga kesehatan harus mengandalkan peralatan yang masih dapat digunakan untuk menangani pasien.

Dokter spesialis kandungan, dr Paramita Sari, mengatakan kondisi rumah sakit saat itu membuat proses persalinan harus dilakukan di tenda darurat.

“Semuanya pasrah kita dengan keterbatasan. Ada guncangan gempa, kemudian peralatan semuanya rusak, gedungnya tidak memadai, kemudian listrik kita padam. Jadi memang proses persalinannya itu dilakukan di tenda darurat,” ujar dr Paramita, Kamis, 20 Agustus 2026.

Salah satu persalinan berlangsung dalam situasi penuh keterbatasan. Maria Florida Noko Kelen, 39, harus menjalani operasi caesar darurat atau sectio caesarea (SC), lebih dari dua bulan sebelum perkiraan hari kelahiran. Di saat proses persalinan berlangsung, gempa susulan masih terjadi. Operasi ditangani dokter spesialis kandungan, dr Yona Sara Pardede.

Kondisi bayi yang berada dalam posisi sungsang membuat tindakan medis membutuhkan kehati-hatian lebih. Berat bayi diperkirakan sekitar 1,3 hingga 1,4 kilogram.
 

Baca Juga :

RSUD dr Ben Mboy Ruteng Kekurangan Obat dan Alat Kesehatan Pascagempa


“Di tengah-tengah operasi itu gempa masih banyak tremor. Bed-nya juga tidak gampang dinaik-turunkan. Bayinya sekitar 1.300 sampai 1.400 gram dan posisinya sungsang,” kata dr Yona.

Posisi sungsang membuat proses kelahiran harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari risiko cedera pada bayi. Di sisi lain, gempa masih dapat dirasakan selama tindakan berlangsung.

“Kalau lahir sungsang kita harus pelan-pelan. Sementara gempa bisa terjadi kapan saja. Kita takut kakinya patah, tangannya patah. Kita juga takut terjadi cedera leher,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, dr. Yona mengaku hanya dapat berdoa sembari melanjutkan tindakan medis. “Tuhan, tolong. Tuhan, bantu saya,” ucapnya mengenang situasi ketika operasi berlangsung.

Operasi akhirnya selesai. Bayi prematur tersebut lahir dengan selamat dengan berat sekitar 1,3 kilogram. Bayi tersebut kemudian diberi nama Gempita. Nama itu diambil dari kata “gempa”, merujuk pada kondisi saat kelahirannya.


Tenda khusus ruang operasi di RS Lapangan NTT. Foto: dok. Kemenkes.


Bagi Maria Florida, keselamatan dirinya dan anaknya tidak terlepas dari keberadaan tenaga kesehatan yang tetap bertugas ketika situasi bencana berlangsung.

“Gedung sudah ambruk. Saat itu sebenarnya berpikir untuk menyelamatkan diri masing-masing. Tapi dokter, bidan, dan perawat masih tetap setia dengan kami yang membutuhkan,” tutur Maria.

Persalinan lainnya juga dilakukan di tenda darurat. Dengan fasilitas yang terbatas, tenaga kesehatan tetap memberikan pertolongan hingga bayi lahir dengan selamat. Maria mengaku bersyukur dokter dan bidan tetap mendampinginya selama kondisi darurat.

“Puji Tuhan, teman-teman bidan dan dokter tidak meninggalkan saya begitu saja. Mereka sangat menolong saya dalam keadaan darurat, di bawah tenda,” katanya.

Tenda darurat di Rumah Sakit Daerah Aeramo tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan setelah gempa. Di lokasi tersebut, dua persalinan juga berlangsung ketika gempa dan gempa susulan masih terjadi.

Kerusakan fasilitas, padamnya listrik, dan keterbatasan peralatan tidak menghentikan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Dua bayi akhirnya lahir dengan selamat. Salah satunya lahir lebih awal dari perkiraan melalui operasi caesar saat gempa susulan masih mengguncang.

Di tengah kondisi bencana, tenaga kesehatan Rumah Sakit Daerah Aeramo tetap menjalankan tugas untuk memastikan proses persalinan dan keselamatan ibu serta bayi dapat ditangani dengan fasilitas yang tersedia. (Marianus Marselus)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
TNI Kejar Kelompok Bersenjata Penyandera 9 Warga Sipil di Mimika
• 23 jam lalu
0
thumb
Prabowo apresiasi dedikasi Paskibraka kibarkan Sang Merah Putih
• 13 jam lalu
0
thumb
Gempa M 5,7 Guncang Ruteng NTT
• 21 jam lalu
0
thumb
Airlangga Buka Suara soal Desil Bansos yang Bikin Warga Kaget: Basisnya Data Sensus
• 10 jam lalu
0
thumb
Pemadaman Jalur Udara Karhutla Gunung Arjuno-Welirang Terkendala Jarak Pandang
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.