CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Setiap hari, kendaraan melintas di Jalan Haji Andi Saleh Daeng Tompo, kawasan Losari, Makassar. Nama itu mungkin terdengar biasa bagi warga kota, tetapi di baliknya tersimpan kisah seorang tokoh yang ikut memainkan peran dalam perjalanan awal Republik Indonesia di Sulawesi Selatan.
Tokoh tersebut adalah Ince Achmad Saleh Daeng Tompo. Ia lahir di Kabupaten Bantaeng pada 15 Januari 1909 dan kemudian dikenal sebagai salah satu figur penting dalam kehidupan politik dan pers di Sulawesi Selatan.
Data mengenai dirinya juga tercatat dalam dokumentasi anggota Konstituante sebagai tokoh dari Fraksi Partai Nasional Indonesia (PNI).
Jejak Saleh Daeng Tompo mulai terlihat kuat pada masa awal kemerdekaan. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Sulawesi menghadapi situasi politik yang tidak sederhana.
Kabar kemerdekaan harus disebarluaskan, sementara pemerintahan Republik Indonesia di daerah perlu segera dikonsolidasikan.
Dalam situasi itu, Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi membentuk Pusat Keselamatan Rakyat (PKR), sebuah organisasi yang menghimpun berbagai tokoh dari latar belakang daerah dan kelompok berbeda.
Saleh Daeng Tompo termasuk di dalamnya bersama Lanto Daeng Pasewang, Zainal Abidin, W.S.T. Pondaag, I.P.L. Tobing, Suwarno dan tokoh lainnya.
Dokumentasi pemerintah yang diterbitkan Kementerian Pendidikan juga mencatat Saleh Daeng Tompo sebagai anggota PKR.
Peran tersebut menempatkannya dalam salah satu fase penting sejarah Makassar setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
PKR menjadi wadah konsolidasi berbagai kekuatan masyarakat untuk mempertahankan keberadaan Republik di Sulawesi.
Namun, perjuangan Saleh Daeng Tompo tidak berhenti pada aktivitas politik. Ia juga mengambil bagian dalam perkembangan pers di Makassar.
Pada pertengahan 1946, Sam Ratulangi merintis surat kabar Kebenaran. Kepemimpinan media tersebut kemudian diserahkan kepada Ince Saleh Daeng Tompo.
Bersama sejumlah rekannya, ia mengelola surat kabar yang membawa haluan republiken dan berupaya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat Makassar.
Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Selatan yang tersimpan dalam repositori pemerintah mencatat bahwa Kebenaran menjadi salah satu media yang digunakan kaum republiken untuk memengaruhi opini publik setelah kemerdekaan.
Surat kabar itu mengangkat berbagai persoalan politik, termasuk sikap tokoh-tokoh lokal terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan.
Salah satu tulisan yang kemudian membuat Kebenaran berhadapan dengan kekuasaan kolonial adalah pemberitaan mengenai sikap Raja Bone Andi Mappanyukki.
Media tersebut memuat pernyataan sang raja yang menunjukkan penolakan terhadap upaya menjauhkannya dari gerakan kemerdekaan.
Haluan politik Kebenaran membuat media itu tidak berumur panjang. Setelah edisi awalnya terbit, surat kabar tersebut diberedel oleh administrasi NICA. Peristiwa itu menjadi bagian dari tekanan terhadap pers republiken di Makassar pada masa Revolusi Fisik.
Perjalanan Saleh Daeng Tompo kemudian berlanjut ke arena politik nasional. Namanya tercatat sebagai anggota Konstituante Republik Indonesia dari Fraksi PNI.
Risalah resmi MPR menunjukkan nama Hadji Intje Achmad Saleh Daeng Tompo dalam daftar anggota Konstituante yang mengikuti persidangan pada 1956 hingga 1959.
Keterlibatannya dalam Konstituante menunjukkan bahwa kiprahnya tidak hanya terbatas pada perjuangan politik di Makassar.
Ia ikut berada dalam lembaga yang bertugas membahas dan menyusun dasar konstitusional bagi Indonesia pada periode demokrasi parlementer.
Nama Saleh Daeng Tompo juga bersinggungan dengan perkembangan pemerintahan dan kehidupan perkotaan Makassar.
Sejumlah sumber sejarah mencatat keterlibatannya dalam pemerintahan daerah, sementara catatan mengenai perjalanan olahraga kota juga mengaitkannya dengan PSM Makassar.
Salah satu catatan sejarah menyebut Saleh Daeng Tompo pernah menjadi wali kota harian Makassar sekaligus ketua PSM pada masa itu.
Jejak namanya kini masih mudah ditemukan di pusat Kota Makassar. Pemerintah Kota Makassar mencatat Jalan Ince Saleh Daeng Tompo sebagai salah satu ruas yang berada di kawasan strategis sekitar Losari.
Nama jalan tersebut juga muncul dalam sejumlah pengaturan lalu lintas pemerintah kota ketika kawasan tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan.
Kini, Jalan Haji Andi Saleh Daeng Tompo tidak hanya menjadi bagian dari jaringan jalan di kawasan perkotaan Makassar.
Ia juga menjadi pengingat tentang seorang tokoh yang melewati berbagai medan perjuangan, dari konsolidasi politik setelah Proklamasi, pers republiken, pemerintahan daerah, hingga parlemen nasional.
Nama itu mungkin hanya terbaca sekilas di papan jalan. Namun bagi sejarah Makassar, Saleh Daeng Tompo meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada ruas jalan yang mengabadikan namanya.





Komentar (0)