Jakarta: Peluang bisnis Indonesia tidak lagi hanya berpusat di Jakarta. Melihat potensi ekonomi di berbagai daerah, Singapore Chamber of Commerce Indonesia (SingCham) resmi memperluas jangkauannya dengan membuka perwakilan di Bali.
Langkah tersebut diumumkan saat SingCham merayakan 20 tahun kiprahnya melalui forum bisnis bertajuk Riding the Rebound: New Growth Paradigms di The KPMG Clubhouse, Menara Astra, Jakarta.
Baca juga: Ada Pilihan Hotel Baru di Singapura, The Hari Resmi Masuk Jaringan IHGForum ini mempertemukan lebih dari 100 pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, dan akademisi untuk membahas arah baru hubungan ekonomi Singapura dan Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.
Duta Besar Singapura untuk Indonesia, H.E. Kwok Fook Seng, hadir sebagai tamu kehormatan dalam acara tersebut.
Kenapa Bali?Pembukaan perwakilan SingCham di Bali menjadi bagian dari strategi organisasi untuk mengikuti perkembangan investasi yang semakin menyebar ke luar Jakarta.
Bali dinilai memiliki peluang ekonomi yang kuat, khususnya di sektor pariwisata, layanan, ekonomi kreatif, hingga bisnis berkelanjutan.
Bagi perusahaan Singapura, ekspansi ini juga membuka akses yang lebih luas untuk melihat peluang investasi di daerah sekaligus membangun koneksi dengan pelaku bisnis lokal.
Chairman SingCham Indonesia Shoeb Kagda mengatakan, selama 20 tahun SingCham telah berkembang dari organisasi yang membantu perusahaan Singapura masuk ke pasar Indonesia menjadi platform yang mempertemukan dunia usaha, pemerintah, dan akademisi.
"Peluncuran Perwakilan SingCham Bali mencerminkan semakin besarnya peluang ekonomi di luar Jakarta sekaligus komitmen kami untuk mendukung perusahaan di mana pun mereka memilih untuk berinvestasi dan berkembang di Indonesia," kata Shoeb.
Hubungan Dagang Singapura-Indonesia Makin BesarEkspansi SingCham terjadi ketika hubungan ekonomi kedua negara semakin erat.
Singapura masih menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia. Realisasi investasinya mencapai sekitar US$20 miliar pada 2025. Sementara itu, perdagangan bilateral kedua negara telah melampaui US$60 miliar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Singapura bukan sekadar soal investasi, tetapi juga mencakup perdagangan, teknologi, pendidikan, hingga pengembangan talenta.
Potensi tersebut dinilai semakin besar karena Indonesia memiliki pasar domestik yang luas, pertumbuhan kelas menengah, ekonomi digital, dan ekosistem kewirausahaan yang terus berkembang.
AI Bukan Cuma Soal TeknologiSalah satu topik utama dalam forum adalah perkembangan artificial intelligence (AI).
Para pemimpin bisnis menilai perusahaan tidak cukup hanya membeli atau menggunakan teknologi AI. Perusahaan juga perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bekerja bersama teknologi tersebut.
Artinya, kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar justru semakin penting ketika AI mengambil alih lebih banyak pekerjaan rutin.
Dr Tan Hong Ming, Assistant Dean (Digital Operations), NUS Business School, mengatakan masa depan dunia kerja tetap akan bertumpu pada manusia meskipun AI terus mengubah berbagai industri.
Menurutnya, investasi terhadap kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, dan pembelajaran berkelanjutan perlu berjalan seimbang dengan investasi teknologi.
Lima Tren yang Bakal MenentukanForum SingCham mengidentifikasi lima hal yang dinilai akan menjadi kunci hubungan bisnis Singapura-Indonesia ke depan.
Pertama, AI dan talenta harus berjalan beriringan. Perusahaan perlu memastikan karyawan memiliki keterampilan yang relevan dengan perubahan teknologi.
Kedua, pertumbuhan Indonesia akan semakin ditentukan produktivitas dan inovasi. Ekonomi digital, kelas menengah, layanan kesehatan, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan menjadi sejumlah sektor yang dinilai punya prospek.
Ketiga, kolaborasi lintas negara akan semakin penting. Ketidakpastian geopolitik dan perubahan rantai pasok global membuat kerja sama antara pemerintah, bisnis, dan akademisi menjadi semakin strategis.
Keempat, ketahanan bisnis bukan lagi pilihan. Perusahaan perlu memiliki strategi menghadapi perubahan ekonomi, teknologi, dan geopolitik, termasuk melalui diversifikasi dan perencanaan jangka panjang.
Kelima, talenta menjadi investasi masa depan. Pengembangan pemimpin generasi berikutnya melalui pendidikan, pengalaman lintas negara, dan peningkatan keterampilan dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara.
Bagi generasi muda, perubahan ini juga berarti peluang karier yang semakin beragam. Kemampuan digital saja tidak cukup. Mereka juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi lintas budaya, dan terus belajar.
Fokus ke Dekade BerikutnyaMemasuki usia 20 tahun, SingCham melihat hubungan ekonomi Singapura dan Indonesia memasuki fase baru.
Pembukaan perwakilan di Bali menjadi salah satu tanda bahwa peluang bisnis mulai bergerak lebih luas dari pusat ekonomi tradisional.
Di tengah perkembangan AI, perubahan pola investasi, dan ketidakpastian geopolitik, kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan institusi pendidikan dinilai akan menjadi faktor penting dalam menciptakan pertumbuhan baru.
Dengan ekspansi ke Bali, SingCham tidak hanya memperluas wilayah operasionalnya, tetapi juga ingin menangkap peluang ekonomi Indonesia yang semakin tersebar di berbagai daerah.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda






Komentar (0)