Oleh: Pendiri Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf (IKHW).
REPUBLIKA.CO.ID, Di habitat hutan Sumatra, gajah bukan hanya pemakan tumbuhan dengan kebutuhan pakan yang sangat besar. Di balik kebiasaan menjelajah, memilih daun, merobohkan batang, mengupas kulit kayu, dan memakan pucuk-pucuk muda, terdapat kemungkinan perilaku yang jauh lebih kompleks: gajah memilih tumbuhan bukan hanya karena kandungan gizinya, tetapi juga karena manfaat biologis tertentu bagi tubuhnya.
Fenomena ini dikenal dalam kajian perilaku satwa sebagai self-medication atau pengobatan diri. Pada gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus), bukti mengenai perilaku tersebut masih terbatas, tetapi penelitian di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Bengkulu, mulai memberikan petunjuk bahwa hutan dapat berfungsi sebagai semacam “apotek alami” bagi gajah.
Baca Juga
Menko Polkam Ungkap Luas Kebakaran Hutan Capai 107 Hektare
Disanksi Saudi karena Pelanggaran Asuransi, Skrining Kesehatan Calon Jamaah Haji 2027 Diperketat
Keajaiban HUT RI: Bayi Gajah Sumatera Lahir di Pusat Konservasi Sumsel
Penelitian yang dilakukan di PLG Seblat mengidentifikasi empat jenis tumbuhan yang oleh para mahout dikaitkan dengan fungsi pengobatan bagi gajah Sumatra, yaitu putri malu (Mimosa pudica), Clerotopis gigantea, sirih hutan (Piper aduncum), dan Eleutherine palmifolia (Irayani dkk., 2025).
Penelitian tersebut penting karena tidak hanya mengandalkan pengetahuan tradisional, tetapi juga melakukan analisis fitokimia terhadap tumbuhan yang dianggap mempunyai manfaat kesehatan bagi gajah. Dari analisis tersebut ditemukan kelompok senyawa seperti flavonoid, alkaloid, saponin, steroid dan tanin yang pada berbagai tumbuhan diketahui memiliki aktivitas biologis, termasuk aktivitas antimikroba, anti-inflamasi dan antioksidan (Irayani dkk., 2025).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Temuan tersebut memberikan perspektif baru terhadap cara kita memahami hubungan gajah dengan vegetasi hutan. Selama ini tumbuhan yang dimakan gajah lebih sering dipandang sebagai sumber energi dan serat. Padahal, tumbuhan merupakan “paket kimiawi” yang sangat kompleks. Daun, kulit batang, akar, pucuk, buah dan getah dapat mengandung berbagai metabolit sekunder yang berfungsi sebagai pertahanan tanaman terhadap herbivora, jamur, bakteri dan serangga.
Mahout (pawang) memandikan gajah sumatra (Elphas maximus sumatranus) di sungai Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, Senin (12/5/2025). Sebanyak 10 gajah jinak terdiri dari tiga jantan serta tujuh betina dibina dikawasan pusat pelatihan gajah tersebut. Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat memiliki luas sekitar 6800 hektar, dan merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Selain sebagai kawasan konservasi bagi gajah liar sumatera, PLG Seblat juga merupakan habitat bagi beberapa flora dan fauna langka khas Pulau Sumatra. - ( ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi)
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Komentar (0)