PSSI Serukan Sepakbola Aman, Tolak Perundungan dan Ancaman di Media Sosial

beritajatim.com
6 jam lalu
Cover Berita
Surabaya (beritajatim.com) – PSSI menyerukan kepada seluruh pecinta sepakbola Indonesia untuk menjaga ruang olahraga tetap aman, baik di stadion maupun di media sosial.
Seruan tersebut sejalan dengan pesan FIFA melalui kampanye “Protecting players online around the world” yang disertai slogan “Stop Hate, Protect Football”. Pesan itu menjadi relevan setelah perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 berakhir dengan kegagalan menembus semifinal.
Hasil tersebut memang memunculkan kekecewaan di kalangan suporter. Salah satu persoalan yang sempat mendapat perhatian adalah serangan di media sosial terhadap bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, beserta keluarganya.
Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi menegaskan bahwa kritik terhadap pemain maupun tim tetap diperlukan sebagai bagian dari evaluasi. Namun, kritik harus diarahkan pada performa, keputusan, dan proses yang memang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami mengakui bahwa hasil di Piala AFF 2026 belum memenuhi harapan. Namun, evaluasi harus dilakukan dengan kepala dingin dan tanggung jawab, bukan melalui kebencian,” ujar Yunus Nusi.
Menurut Yunus, pemain tetap memiliki hak untuk dihormati meski tampil di bawah ekspektasi. Kekalahan dalam pertandingan tidak semestinya menjadi alasan bagi seseorang untuk menyerang pemain secara pribadi, terlebih sampai melibatkan keluarga.
“Pemain boleh dikritik secara sportif, tetapi martabat dan keselamatan mereka—termasuk keluarga—harus tetap dihormati. Kekalahan bukan alasan untuk membenarkan kebencian,” katanya.
PSSI melihat perkembangan media sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem sepakbola saat ini. Interaksi antara pemain dan suporter semakin dekat, tetapi kondisi tersebut juga membawa risiko ketika kekecewaan disampaikan tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Perundungan, doxing, dan ancaman tidak lagi dapat dianggap sebagai bentuk ekspresi suporter. Konten semacam itu dapat merugikan korban dan menciptakan lingkungan digital yang tidak sehat bagi pemain maupun keluarganya.
Karena itu, PSSI mengajak suporter membangun budaya kritik yang lebih dewasa. Kritik tetap dibutuhkan untuk mendorong perbaikan, tetapi harus disampaikan dengan bahasa yang bertanggung jawab tanpa merendahkan martabat pemain.
Menjaga sepakbola tetap aman bukan berarti menghilangkan kritik. Justru, kritik yang sehat dapat menjadi bagian penting dalam proses evaluasi dan perkembangan tim.
Suporter dapat menilai permainan pemain, mempertanyakan strategi pelatih, maupun memberikan masukan terhadap kinerja tim. Namun, batas antara kritik dan serangan personal harus tetap dijaga.
PSSI juga mengimbau masyarakat untuk tidak ikut menyebarluaskan konten yang mengandung ujaran kebencian, perundungan, doxing, atau ancaman. Jika menemukan konten semacam itu, suporter didorong untuk melaporkannya melalui mekanisme yang tersedia, bukan memperbesar penyebarannya dengan membagikan ulang.
“Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepakbolanya,” pungkas Yunus. (faw/ian)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Debut Kurang Memuaskan, Mohamed Salah Bertekad Menebusnya di Liga Europa
• 7 jam lalu
0
thumb
Melanggar Penyaluran BBM Subsidi, 59 SPBU di Sulsel Dijatuhi Sanksi
• 8 jam lalu
0
thumb
Digembok Sehari, Saham YPAS-BEEF Beredar Kembali di Zona Hijau
• 8 jam lalu
0
thumb
Apresiasi Pameran Foto 'Prahara Pulau Emas', Wali Kota Medan: Foto Jurnalistik Menggugah Empati dan Menciptakan Harapan
• 9 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Hutan dan Lahan Meluas, Memicu Krisis Kesehatan
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.