Pemerintah mengungkap salah satu rencana di industri perkeretaapian. Salah satunya adalah menggandeng Swiss untuk mengembangkan lokomotif bersama.
Hal ini disampaikan oleh Menteri PPN/kepala Bappenas, Rachmat Pambudy dalam Indonesia International Transportation Summit (IITS) 2026.
Menurut dia, hal ini bisa diimplementasi lewat peran masing-masing seperti Swiss di urusan teknologi dan Indonesia di urusan bahan baku produksi.
“Dan satu hal yang ingin kita lakukan bersama adalah memproduksi kereta api, termasuk lokomotif. Jadi, mari kita bekerja sama. Dengan teknologi dari Swiss, manajemen dari Swiss, dan bahan baku dari Indonesia, kita dapat memproduksi sesuatu untuk memenuhi permintaan global,” kata Rachmat dalam IITS 2026 di Tribrata Hotel, Jakarta pada Kamis (20/8).
Dia menjelaskan meski Swiss negara kecil, negara itu tak hanya terkenal dengan keindahan dan cokelatnya. Swiss juga memiliki teknologi mulai dari teknologi untuk jam seperti Swatch sampai teknologi pesawat terbang. Untuk itu, ia melirik potensi kerja sama pengembangan lokomotif tersebut
“Swatch kemudian berkembang menjadi industri otomotif, menjadi mobil kecil yang dikembangkan bersama Mercedes, menggunakan mesin Mercedes, tetapi mereknya tetap Swatch. Dan kita mengimpor produk tersebut dari Swiss. Produk lainnya adalah pesawat terbang. Pesawat juga merupakan sebuah bentuk kerajinan. Mereknya Piper,” ujarnya.
Adapun nantinya, jika kerja sama tersebut bisa dilakukan, hal itu juga akan diarahkan ke arah transportasi berkelanjutan. Alih-alih menggunakan bahan bakar fosil, Rachmat ingin mendorong bahan bakar terbarukan seperti biofuel.
Hal ini karena Indonesia menurutnya punya segala sumber bahan bakar terbarukan mulai dari biofuel sampai tenaga surya.
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber bahan baku biofuel yang sangat kaya. Indonesia juga memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah, mulai dari angin, tenaga surya, laut, panas bumi, hingga berbagai jenis biomass lainnya. Karena merupakan negara tropis, Indonesia sangat kaya akan produksi biomass,” kata Rachmat.






Komentar (0)