Cerita Lirih Korban Gempa NTT Belum Dapat Bantuan

liputan6.com
5 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Krisis pasokan pangan dan air bersih mulai mengancam ratusan pengungsi di Posko Binaan Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Bantuan logistik yang tak kunjung tiba membuat warga terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut dirasakan Zaitun (36), salah satu warga yang mengungsi di Posko Binaan Satar Kampas. Ia mengatakan persediaan beras dan air minum mulai menipis, sementara warga tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa.

Advertisement

BACA JUGA: Kapal Rumah Sakit TNI AD Berlayar ke NTT Bantu Korban Gempa

"Kami di sini sudah tidak berdaya," kata Zaitun kepada Liputan6.com, Rabu 19 Agustus 2026.

Untuk bertahan hidup, para korban terpaksa mengais sisa beras di antara reruntuhan rumah warga. Namun, persediaan pangan yang berhasil dikumpulkan itu kini semakin menipis.

Kondisi pengungsi juga semakin memprihatinkan karena jumlah warga yang datang ke Posko Binaan Satar Kampas terus bertambah. Anak-anak hingga balita turut berada di lokasi pengungsian.

"Per hari ini ada lagi warga dari kampung binaan yang sebelumnya mengungsi di tenda lain, sekarang gabung ke posko kami," ujarnya.

Zaitun bercerita, warga sempat diminta mengambil bantuan di Posko Ronting yang berjarak sekitar lima kilometer dari Posko Binaan Satar Kampas. Namun, bantuan yang tersedia ternyata mulai menipis.

Kondisi itu memicu ketegangan antarpengungsi. Keributan pun tak terhindarkan karena mereka berebut mendapatkan bantuan.

Saat ini, Posko Binaan Satar Kampas diisi lebih dari ratusan orang. Mereka sangat membutuhkan sembako, air minum, selimut, sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi, hingga sikat gigi.

"Kami sangat butuh itu," pinta Zaitun.

Detik-Detik Mencekam Rumah Roboh

Gempa bumi yang melanda NTT pada Sabtu (15/8/2026) juga meninggalkan trauma bagi Zaitun. Saat kejadian, ia baru saja terbangun dari tidur.

“Kejadian persis jam 05.30 pagi, posisi baru bangun tidur,” tuturnya.

Tak sampai satu menit kemudian, guncangan hebat terasa. Dalam kondisi panik, Zaitun langsung menarik tangan istrinya untuk berusaha keluar dari rumah.

Namun, saat hampir mencapai pintu, bagian depan rumah tiba-tiba roboh. Zaitun sempat mundur, tetapi bagian belakang bangunan kemudian ikut runtuh.

"Saya pasrah," ucapnya.

Ia sempat terdiam karena syok, kemudian memaksakan diri keluar dari reruntuhan.

Alhamdulillah masih bisa selamat walaupun luka di bagian belakang,” katanya.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
SF Hariyanto Buka Festival Pacu Jalur 2026, 204 Perahu Tradisional Berlaga di Tepian Narosa
• 13 jam lalu
0
thumb
Kasus Begal Bokong di Badung Bali Berakhir Damai, Korban Kasihani Anak Pelaku
• 24 menit lalu
0
thumb
Andre Rosiade: Groundbreaking Stadion GHAS Paling Lambat Pertengahan September
• 16 jam lalu
0
thumb
Pangdam XXI/Radin Inten Terima Rektor ITERA, Bahas Penempatan Personel TNI
• 12 jam lalu
0
thumb
Wisata Bromo Dibuka Kembali Mulai 20 Agustus 2026, Usai Ditutup Hampir Dua Pekan Pasca Kebakaran
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.