Rudal Pencegat Habis: AS Kalah Hitungan Hari Jika Perang Lawan China?

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta,CNBC Indonesia - Dalam perang modern, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah tentara ataupun jet tempur. Ketersediaan rudal pertahanan udara kini juga menjadi faktor yang sangat krusial.

Di tengah kebutuhan tersebut, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya justru sedang menghadapi kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Persediaan rudal pertahanan udara mereka kian menipis setelah digunakan dalam jumlah sangat besar selama perang melawan Iran.

Dampaknya pun melebar hingga ke Eropa. Ukraina, yang masih berperang dengan Rusia, semakin kesulitan menghadapi serangan pasukan Vladimir Putin. Pengiriman rudal pertahanan udara kepada sejumlah negara juga terancam tertunda.

Kemampuan AS dalam menghadapi potensi konflik dengan China pun mulai dipertanyakan.

Baca: Belanja Pertahanan RI Rp299 T, Alutsista hingga Perang Siber Diperkuat

Melansir The Economist, krisis rudal pencegat tersebut menjadi salah satu masalah terbesar yang sedang dihadapi negara-negara Barat. Kapasitas produksi yang belum mampu mengimbangi kebutuhan membuat persediaan rudal diperkirakan baru dapat pulih dalam beberapa tahun mendatang.

Gara-gara Iran, Persediaan Rudal AS Menyusut

Menurut perkiraan Center for Strategic and International Studies (CSIS), Pentagon telah menggunakan hampir dua pertiga persediaan rudal Patriot yang dimiliki sebelum perang melawan Iran.

Patriot merupakan salah satu sistem pertahanan udara paling penting bagi AS dan sekutunya. Sistem tersebut digunakan untuk melindungi kota, pangkalan militer, dan berbagai fasilitas strategis dari serangan rudal.

Sebelum perang, persediaan rudal Patriot AS diperkirakan mencapai sekitar 2.330 unit. Namun, sebagian besar persediaan itu telah terpakai sepanjang periode 27 Februari hingga 16 Agustus 2026.

Baca: 81 Tahun RI Merdeka, Seberapa Kuat Militernya Dibanding ASEAN?

Rudal pencegat lainnya juga ikut terkuras, termasuk SM-3, THAAD, dan SM-6.

Persediaan Rudal AS Sebelum dan Sesudah Perang Iran Foto: The Economist

Persediaan Patriot diperkirakan sudah berkurang sekitar dua pertiga. Untuk THAAD, perkiraan penggunaannya mencapai sekitar 40%-50% dari stok sebelum perang.

Sementara itu, penggunaan SM-3 diperkirakan berada dalam kisaran sekitar sepertiga hingga lebih dari separuh persediaan awal.

Krisis ini tidak hanya terjadi pada rudal pertahanan. CSIS juga memperkirakan AS telah menggunakan sekitar sepertiga persediaan rudal jelajah Tomahawk.

Persediaan Precision Strike Missile (PrSM) bahkan diperkirakan hampir habis. Rudal tersebut merupakan salah satu senjata jarak jauh yang digunakan untuk menyerang target strategis.

Menipisnya persediaan ini disebut ikut menjelaskan mengapa Presiden AS Donald Trump beberapa kali mundur dari ancaman untuk kembali berperang melawan Iran.

Ukraina Ketar-ketir, Serangan Rusia Kian Sulit Dicegat

Ukraina menjadi salah satu negara yang paling terdampak krisis rudal Patriot. Serangan rudal balistik Rusia membuat warga Kyiv kembali berlindung di stasiun kereta bawah tanah hingga area parkir.

Pada Maret 2026, Ukraina masih mampu mencegat sekitar 70% rudal balistik Rusia. Angkanya merosot menjadi 20% pada Juli. Bahkan, pada malam 5 Agustus, tidak ada satu pun rudal balistik yang berhasil dicegat.

Baca: Perang Iran Ubah Strategi Perang AS, Era Rudal Mahal Mulai Berakhir

Ukraina memiliki pertahanan berlapis untuk menghadapi drone dan rudal jelajah. Namun, rudal balistik Rusia seperti Iskander-M dan Kinzhal membutuhkan sistem pencegat yang lebih canggih, seperti Patriot.

Menjelang musim dingin, Ukraina meminta sedikitnya 300 rudal Patriot tambahan. Namun, negara-negara Eropa yang masih memiliki persediaan, termasuk Jerman, Yunani, Polandia, dan Spanyol, semakin berhati-hati untuk memberikannya.

Stok Menipis, Pengiriman Patriot Terancam Molor

Keterbatasan persediaan turut mengganggu pengiriman rudal kepada sekutu AS. Swiss memperkirakan pesanan Patriot dapat tertunda hingga tujuh tahun, sedangkan Taiwan khawatir 102 rudal pesanannya tidak tiba sesuai jadwal pada 2026.

Lockheed Martin, produsen Patriot PAC-3 Missile Segment Enhancement (MSE), tidak dapat menjamin waktu pengiriman kepada pelanggan asing karena Pentagon berwenang mengalihkan rudal untuk kebutuhan militer AS.

Padahal, permintaan Patriot terus meningkat. Arab Saudi menjadi salah satu pembeli terbesar dengan persetujuan pembelian sekitar 1.500 rudal PAC-3 sepanjang 2004 hingga Juli 2026.

Polandia, Uni Emirat Arab, Qatar, Jerman, dan Taiwan juga memiliki jumlah pesanan yang besar.

Berikut sejumlah negara dengan persetujuan pembelian rudal PAC-3 berdasarkan data yang dihimpun The Economist.

Negara dengan Pesanan Rudal Patriot PAC-3 Terbanyak Foto: The Economist
Mahal dan Langka

Satu rudal Patriot PAC-3 MSE berharga sekitar US$4 juta hingga US$5 juta. Nilainya sering kali lebih mahal dibandingkan rudal balistik yang dicegat, terlebih jika digunakan menghadapi drone murah seperti Shahed.

Kolonel Sabah Al Sabah, perwira militer Kuwait, menggambarkan ketimpangan tersebut dalam acara Royal United Services Institute (RUSI).

"Jika lawan dapat mengerahkan drone serang dengan harga setara mobil bekas, sementara jawaban Anda adalah rudal pertahanan udara yang harganya setara apartemen kecil di London, Anda kalah dalam pertukaran biaya meskipun memenangkan setiap pertempuran," ujarnya.

Baca: Perang Iran Kuras Pasokan Senjata AS, 1.700 Rudal Patriot-THAAD Ludes

Persediaan juga cepat terkuras karena pasukan pertahanan biasanya menembakkan sedikitnya dua rudal pencegat untuk menghadapi satu rudal lawan.

Produsen berencana meningkatkan produksi PAC-3 dari sekitar 600 unit menjadi 2.000 unit per tahun pada awal 2030-an. Namun, peningkatan kapasitas memerlukan waktu, sedangkan Pentagon disebut belum menandatangani kontrak untuk mempercepat produksi.

CSIS memperkirakan persediaan Patriot AS baru pulih pada 2029, dengan asumsi Kongres menyetujui anggaran pertahanan sebesar US$1,5 triliun yang diajukan Trump.

Sekutu Mulai Cari Alternatif

Sejumlah negara mulai mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap produksi AS.

Jepang memproduksi sekitar 30 rudal PAC-3 per tahun berdasarkan lisensi, sedangkan perusahaan pertahanan Eropa MBDA bersiap memproduksi Patriot PAC-2 di Jerman.

Prancis dan Italia mengembangkan sistem SAMP-T, tetapi sumber militer Ukraina menilai kemampuannya masih berada di bawah Patriot.

Perusahaan Ukraina Fire Point juga mengembangkan proyek Freyja bersama produsen senjata Eropa. Rudal tersebut ditargetkan hanya membutuhkan biaya sekitar seperempat harga PAC-3 dan mulai diuji tahun depan.

Taiwan meningkatkan produksi Sky Bow III serta bersiap memproduksi Sky Bow IV secara massal pada 2026.

Sementara itu, Lockheed Martin mengembangkan PAC-3 ACE atau "Baby Patriot" dengan biaya sekitar setengah harga PAC-3 MSE. Rudal tersebut berpotensi mulai diproduksi pada 2028.

AS Butuh 19.000 Patriot untuk Menghadapi China

Heritage Foundation memperkirakan persediaan rudal pencegat AS dapat habis hanya dalam hitungan hari jika terjadi perang besar dengan China.

Pangkalan AS di Jepang dan Guam menjadi salah satu sasaran yang paling rentan. Rudal China juga memiliki jangkauan untuk menyerang Alaska, Hawaii, serta kapal perang di Samudra Pasifik.

Untuk menghadapi serangan militer China, AS diperkirakan membutuhkan lebih dari 19.000 rudal Patriot. Jumlah tersebut lebih dari 20 kali lipat dibandingkan perkiraan persediaan saat ini.

Salah satu pilihannya adalah menghancurkan peluncur dan fasilitas produksi rudal lawan sebelum serangan terjadi.

Baca: Dunia Terbakar Perang Tak Berujung, Perusahaan Senjata Pesta Cuan

"Rudal pencegat termurah adalah rudal yang tidak perlu ditembakkan karena senjata lawan tidak pernah diluncurkan," kata mantan jenderal Angkatan Udara AS David Deptula.

Namun, strategi tersebut berisiko memicu eskalasi yang lebih besar karena AS harus menyerang wilayah daratan China.

Serangan terhadap Pasukan Roket China juga dapat dianggap sebagai ancaman terhadap persenjataan nuklir negara tersebut.

Untuk mengurangi risiko, militer AS mulai melatih penyebaran pasukan, penyamaran fasilitas, dan penguatan pangkalan. Namun, seluruh upaya itu membutuhkan waktu, sementara persediaan rudal belum pulih dan produksi masih tertinggal.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BMKG: 2.768 Gempa Susulan Guncang NTT
• 18 jam lalu
0
thumb
25 Ton Logistik dan Obat-obatan dari Sulsel Dikirim ke NTT
• 22 jam lalu
0
thumb
Polri Tangkap 2 Peretas Email Perusahaan AS, Ada WNA China
• 9 jam lalu
0
thumb
Usut Korupsi Ekspor Pulp PT TPL, Kejagung Periksa 9 Pegawai Kementerian Kehutanan
• 7 jam lalu
0
thumb
Jalan Panjang PPHN, Apa Isi Haluan Negara Buatan MPR yang Belum Dibuka ke Publik?
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.