Ringkasan Berita
- Pameran Abhirama 2 menampilkan sekitar 70 barongan dari berbagai masa dan daerah di Gedung Bhagawanta Kediri.
- Koleksi tertua yang dipamerkan berasal dari tahun 1920, jauh sebelum Indonesia merdeka.
- Pameran menyasar pelajar dan generasi muda untuk mengenalkan sekaligus mendorong regenerasi seni barongan.
- Selain pameran, Abhirama 2 menghadirkan lomba barong, ukir, melukis, dan pertunjukan barongan.
Kediri (beritajatim.com) – Pameran Abhirama 2 kembali menarik perhatian kalangan muda melalui ekshibisi seni barongan bertajuk Rasa Rupa Topeng Barong di Gedung Bhagawanta Kabupaten Kediri, Rabu (19/8/2026). Pameran yang berlangsung sejak 17 Agustus tersebut menghadirkan koleksi barongan lintas zaman dan daerah untuk mengenalkan kekayaan seni tradisional kepada generasi muda.
Sedikitnya 57 barongan dipamerkan di lokasi utama. Jika dihitung seluruh rangkaian kegiatan, terdapat sekitar 70 barongan yang ditampilkan dalam Abhirama 2, mulai dari artefak lama hingga karya terbaru.
Ketua Panitia Abhirama 2, Prastyawan, menjelaskan nama Abhirama diambil dari bahasa Sanskerta yang bermakna selaras dan serasi. Filosofi tersebut menggambarkan perpaduan dua unsur dalam pembuatan barongan, yakni bagian kepala yang dibuat dengan teknik ukir kayu dan unsur kulit yang dikerjakan menggunakan teknik sungging.
Menurut Prastyawan, pameran tersebut tidak sekadar menampilkan karya seni. Abhirama 2 juga dirancang sebagai ruang edukasi, terutama bagi pelajar dan generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi digital.
“Pameran ini adalah suatu bentuk edukasi untuk masyarakat luas. Sasarannya adalah yang paling utama pelajar karena di era sekarang digital itu, tidak bisa dipungkiri meninggalkan paling mau atau tidak mau itu, teman-teman itu, teman-teman Gen Z itu tidak tahu itu. Maksudnya di dulunya di kesenian itu bagaimana itu tidak tahu. Lah makanya kita akan mengedukasi di sini, di utamanya di barongan,” jelasnya.
Barongan Lintas Zaman
Salah satu daya tarik utama Abhirama 2 adalah koleksi yang memperlihatkan perjalanan seni barongan dari masa ke masa. Pengunjung dapat melihat karya yang memiliki karakter berbeda sesuai periode pembuatannya.
Koleksi tertua yang dipamerkan tercatat berasal dari tahun 1920. Artinya, karya tersebut dibuat jauh sebelum Indonesia merdeka dan menjadi salah satu jejak perjalanan seni tradisional yang masih dapat disaksikan hingga kini.
Pameran juga tidak hanya menampilkan barongan dari Kediri. Sejumlah karya berasal dari daerah lain seperti Tulungagung, Blitar, Malang, dan wilayah lain yang memiliki tradisi barongan.
Perbedaan asal daerah tersebut memperlihatkan keberagaman karakter dalam seni barongan Nusantara. Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri, terutama dari sisi bentuk dan pola ukiran.
“Barongan itu di Nusantara ada semua. Yang membedakan salah satunya ciri khas ukirannya. Kediri punya ciri khas sendiri, Tulungagung juga, Blitar juga, begitu pula daerah lainnya,” ungkap Prastiawan.
Perbedaan karakter tersebut justru menjadi daya tarik bagi pengunjung. Mereka dapat membandingkan perubahan pola ukiran, teknik pewarnaan, hingga bentuk barongan yang berkembang dari masa lalu sampai karya kontemporer.
Dorong Regenerasi Seni Tradisional
Abhirama 2 digelar dengan rangkaian kegiatan yang lebih banyak dibandingkan pelaksanaan Abhirama 1 pada 2024. Selain menambah jumlah koleksi, panitia juga memperluas variasi daerah asal barongan yang ditampilkan.
Prastyawan mengatakan, perluasan kegiatan tersebut tidak terlepas dari tujuan utama untuk mendorong regenerasi sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga seni tradisional. “Tujuannya untuk meregenerasi dan mengedukasi bahwa melestarikan kebudayaan dan kesenian lokal itu penting,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda tidak harus langsung menjadi seniman untuk ikut melestarikan budaya. Mengenal, memahami, kemudian membagikan informasi tentang kesenian lokal melalui media sosial juga dinilai sebagai bentuk kontribusi.
“Minimal mengetahui dan mengulas. Tidak harus langsung terjun menjadi seniman. Bisa mengenal, kemudian membagikan melalui media sosial. Karena kalau bukan anak muda, siapa lagi yang meneruskan?” ujarnya.
Regenerasi menjadi perhatian karena para pengrajin dan seniman sepuh memiliki batas usia dalam berkarya. Jika tidak ada generasi yang melanjutkan keterampilan tersebut, kesenian tradisional berpotensi semakin tergerus perkembangan zaman.
“Ketika pengrajin-pengrajin sepuh sudah tidak ada, kalau tidak ada yang meneruskan, akhirnya budaya dan kesenian kita bisa hilang. Kalau bukan kita siapa lagi,” terangnya.
Pelajar Bisa Melihat Detail Barongan dari Dekat
Pameran juga memberikan pengalaman langsung bagi pelajar untuk melihat detail barongan yang selama ini mungkin hanya mereka kenal secara umum.
Salah satunya dirasakan Calysta Putri Naraya, siswi kelas VIII SMPN 1 Plosoklaten yang datang sebagai perwakilan sekolah. Ia mengaku mendapatkan pengetahuan baru setelah melihat koleksi sekaligus memperoleh penjelasan tentang barongan.
“Banyak, Kak. Ada yang khas Kediri, ada juga dari Tulungagung. Di sini kita mempelajari banyak budaya tentang barongan dan jadi tahu lebih banyak,” tuturnya.
Calysta sebelumnya sudah pernah melihat barongan. Namun, kesempatan melihat karya dari jarak dekat membuatnya menyadari bahwa terdapat banyak detail yang selama ini tidak diperhatikan.
“Kalau dilihat dari dekat dan dijelaskan detail-detailnya ternyata bagus. Mulai dari ukirannya, pewarnaannya, sampai jamang atau mahkota di belakang,” katanya.
Pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan aktivitas kreatif. Para pelajar diberi kesempatan melukis barongan dan menuangkan imajinasi mereka melalui karya masing-masing.
“Menariknya lagi disini kita bisa melukis barongan. Jadi kita bisa berimajinasi sesuka hati. Dan gratis lagi.”
Kegiatan kreatif tersebut menjadi salah satu cara panitia mendekatkan seni tradisional dengan karakter generasi muda. Barongan tidak hanya diposisikan sebagai benda budaya yang dipajang, tetapi juga menjadi objek yang dapat dipelajari dan dikembangkan melalui kreativitas.
Abhirama 2 Hadirkan Beragam Kegiatan
Pameran Abhirama 2 juga dirangkai dengan sejumlah kegiatan lain. Agenda tersebut meliputi lomba barong, lomba mengukir barongan yang proses pengerjaannya berlangsung selama tiga bulan, serta lomba melukis barongan khusus pelajar.
Rangkaian kegiatan tersebut memperluas ruang interaksi antara masyarakat, pelajar, seniman, dan pengrajin. Peserta tidak hanya melihat hasil akhir karya, tetapi juga dapat mengenal proses kreatif dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghasilkan barongan.
Puncak rangkaian kegiatan sekaligus penutupan Abhirama 2 dijadwalkan pada 21 Agustus 2026. Penutupan akan diisi dengan pertunjukan barongan.
Melalui Abhirama 2, barongan diperkenalkan bukan sekadar sebagai bagian dari tradisi jaranan, tetapi sebagai warisan seni yang memiliki perjalanan sejarah, karakter visual, keterampilan kerajinan, serta nilai budaya yang perlu dikenali generasi penerus.
Bagi generasi muda Kediri, ruang seperti pameran tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana karya tradisional berkembang dari masa ke masa. Dari koleksi tahun 1920 hingga karya terbaru, Abhirama 2 memperlihatkan bahwa keberlanjutan budaya bergantung pada kemampuan generasi berikutnya untuk mengenal, memahami, dan meneruskannya. [nm/kun]





Komentar (0)