PLN EPI Olah 561 Kg Sampah Organik per Bulan di Gunungkidul

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Gunung Kidul -

Program Maggot Black Soldier Fly (BSF) kolaborasi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) di Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengelola rata-rata 561 kilogram sampah organik per bulan.

Program yang berjalan sejak 2024 tersebut dikelola Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem. Sampah yang berasal dari 60 rumah tangga dan dua pelaku usaha angkringan itu diolah menjadi maggot, kasgot, dan pupuk organik cair (POC).

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan program tersebut tidak hanya membantu mengatasi persoalan sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

"PLN EPI meyakini bahwa transisi menuju keberlanjutan harus dimulai dari solusi yang dekat dengan masyarakat. Program Maggot BSF membuktikan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus memperkuat ekonomi sirkular," ujar Mamit dalam keterangan resmi, Rabu (19/8/2026).

Pengelolaan sampah tersebut mampu menurunkan volume sampah yang menimbulkan bau dan pencemaran hingga 40%-60%. Program ini juga mendorong masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya.

Dari proses budidaya, rumah maggot menghasilkan rata-rata 50 kilogram maggot segar per bulan, 420 kilogram kasgot per tahun, serta 540 liter POC per tahun. Tingkat keberhasilan panen mencapai 30%-55% pada setiap siklus.

Hasil budidaya kemudian dimanfaatkan kembali. Maggot digunakan sebagai pakan lele sebanyak 547,5 kilogram dan ayam sebanyak 730 kilogram per tahun. Kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sementara POC digunakan maupun dipasarkan untuk mendukung pertanian di lahan seluas 400 meter persegi.

Program tersebut juga memberikan manfaat ekonomi. Penjualan lele dan telur ayam menghasilkan rata-rata Rp1,5 juta per bulan, sedangkan sayuran sekitar Rp500.000 per bulan. Adapun kasgot dan POC menghasilkan pendapatan sekitar Rp4,5 juta per tahun.

Pemanfaatan maggot sebagai pakan ternak juga mampu menghemat biaya pembelian pakan hingga Rp10,08 juta per tahun.

Ketua Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem Riyanta mengatakan program tersebut telah mengubah pandangan masyarakat terhadap sampah organik.

"Kini masyarakat tidak lagi melihat sampah sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi," kata Riyanta.

Baca Juga: Minat Motor Listrik Sepi, Danantara Siapkan Skema DP 0%

Baca Juga: PLN EPI Bangun Rumah Bibit Mangrove Berbasis IoT di Cilacap

Program ini melibatkan 25 anggota masyarakat sebagai pengelola aktif dan memberikan manfaat kepada sekitar 25-60 orang. PLN EPI bersama mitra juga telah menggelar 5-6 kali pelatihan pengelolaan sampah dan budidaya maggot.

Melalui pelatihan tersebut, partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah meningkat hingga 60%. Keberlanjutan program diperkuat melalui penerapan SOP, pencatatan produksi, serta kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM), dan sejumlah bank sampah di Ponjong, Wonosari, dan Patuk.

Kolaborasi tersebut turut mendorong peningkatan kapasitas produksi rumah maggot sekitar 10% setiap tahun. Program ini menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) PLN EPI melalui pengurangan sampah organik, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi sirkular.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kini Lepas Hijab Usai Cerai dari Arya Saloka, Putri Anne Beberkan Alasannya
• 9 jam lalu
0
thumb
Kejagung Periksa 6 Saksi dari Swasta Hari Ini, Dianggap Tahu Perkara TPPU yang Libatkan Febrie
• 7 jam lalu
0
thumb
Yaqut Minta KPK Buktikan Kerugian Rp622,09 Miliar dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
• 18 jam lalu
0
thumb
Semarak Kemerdekaan! Reog Ponorogo, Tari Topeng Kolosal Hingga Aksi Solidaritas Gempa NTT Jadi Sorotan
• 38 menit lalu
0
thumb
Garudayaksa FC Masih Butuh 5 Pemain Asing Lagi, Gabung Setelah 20 Agustus 2026
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.