Teknologi Bikin Panen Cabai Rawit Naik 15 Persen, Begini Cara Pertanian Modern Mengubah Cara Petani Bekerja

tvonenews.com
4 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com -  Pertanian dunia sedang memasuki fase baru. Jika dahulu keputusan petani sangat bergantung pada pengalaman membaca cuaca, kondisi tanah, dan pertumbuhan tanaman, kini semakin banyak keputusan budidaya dibantu data. 

Sensor, citra satelit, drone, kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), hingga aplikasi digital mulai digunakan untuk menentukan kapan tanaman perlu diberi air, pupuk, atau perlakuan tertentu.

Perubahan tersebut terlihat di sejumlah negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, teknologi pertanian presisi semakin banyak digunakan di lahan skala besar. 

Data USDA menunjukkan pada 2023 sistem autosteer pada traktor dan mesin pertanian digunakan oleh 52 persen pertanian skala menengah dan 70 persen pertanian tanaman skala besar. Sementara teknologi pemantauan hasil dan pemetaan tanah digunakan oleh 68 persen pertanian tanaman skala besar.

Jepang juga mendorong smart farming dengan memanfaatkan robot, AI, IoT, drone, sistem pengelolaan air jarak jauh, hingga analisis data untuk membantu menghadapi berkurangnya tenaga kerja pertanian. 

Pemerintah Jepang bahkan mengembangkan berbagai proyek demonstrasi agar teknologi tersebut dapat diuji langsung di lapangan. 

Di tingkat global, FAO menyebut pertanian presisi dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus membuat penggunaan air, pupuk, dan pestisida menjadi lebih efisien.

Pertanian Tak Lagi Sekadar Mengandalkan Perkiraan

Perubahan paling penting dari pertanian berbasis teknologi bukan sekadar penggunaan mesin canggih, melainkan bagaimana petani mengambil keputusan berdasarkan data.

Teknologi presisi memungkinkan kondisi tanah, cuaca, tanaman, hingga kebutuhan nutrisi dianalisis secara lebih terukur. Bahkan, penggunaan pupuk dapat diarahkan sesuai kondisi bagian tertentu dari lahan, bukan diberikan secara seragam.

FAO pada 2026 menyebut penerapan pemupukan spesifik lokasi yang memanfaatkan algoritma optimasi dan penginderaan jauh pada sistem produksi padi berpotensi mengurangi penggunaan pupuk hingga 40 persen, sembari mempertahankan atau meningkatkan potensi hasil gabah sekitar 15-20 persen dibandingkan aplikasi pupuk secara seragam.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa teknologi pertanian bukan semata-mata tentang mengejar hasil panen sebanyak mungkin. Tujuan lainnya adalah menggunakan sumber daya secara lebih tepat sehingga biaya produksi, penggunaan input, dan dampak lingkungan dapat ditekan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Eks Pelatih Pelatnas Panjat Tebing Jadi Tersangka Kekerasan Seksual, Polisi: Korban 5 Atlet Putri
• 11 jam lalu
0
thumb
Job Fair Online Kota Tangerang Buka hingga 31 Agustus 2026, Ada 2.126 Lowongan Kerja
• 17 jam lalu
0
thumb
Reaksi Jujur Jose Mourinho usai Rodri Lebih Pilih Barcelona ketimbang Real Madrid
• 11 jam lalu
0
thumb
Tiga Gunung Api Meletus Beruntun: Ibu, Lewotobi, dan Semeru Erupsi Selasa Malam
• 23 jam lalu
0
thumb
Gempa M 5,2 Kembali Guncang NTT, Warga Sikka Panik Berhamburan
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.