Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan tiga aspek penting untuk mewujudkan AI driven security atau sistem keamanan siber berbasis AI di Indonesia mulai dari menciptakan regulasi yang adaptif hingga membangun talenta digital yang andal.
Dari ketiga aspek tersebut, Nezar menekankan bahwa ketiganya harus dikerjakan secara kolaboratif tidak hanya pemerintah sendiri tapi juga melibatkan akademisi, industri, bahkan komunitas masyarakat.
"Pertama kita perlu memerlukan proses yang berkelanjutan dan kolaboratif di mana pemerintah, industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya secara aktif bersama-sama melakukan penyesuaian regulasi," kata Nezar dalam acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut Nezar, dalam menghadirkan regulasi terkait dengan keamanan siber, pemerintah secara aktif telah membuka ruang bagi para pemangku kepentingan terkait untuk terlibat di dalamnya.
Hal ini juga diterapkan dalam pembentukan aturan yang kini sedang berjalan seperti peraturan pelaksana untuk Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP) dan rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS).
Baca juga: Wamenkomdigi ungkap strategi Indonesia jadi "pemain" AI berdaya saing
"Kami mengundang para pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman di lapangan, bukti, dan keahlian mereka agar kerangka regulasi kami tetap praktis, adaptif, dan didasarkan pada risiko nyata di lapangan," kata Nezar.
Selanjutnya aspek kedua yang harus dilakukan ialah pertukaran informasi yang rutin antara industri dengan lembaga-lembaga nasional sebagai mitra terutama dalam membahas solusi AI yang dapat membantu untuk mendeteksi serangan siber.
Menurut Nezar, selain perlunya komunikasi untuk memahami pola serangan siber, industri dan lembaga nasional yang bergerak di bidang ini perlu juga membangun solusi seperti AI yang dapat mendeteksi maupun mencegah serangan siber.
Solusi itu bahkan diharapkan tidak hanya berguna untuk bisnis-bisnis skala besar saja tapi bahkan bisa menjangkau penggunaan di masyarakat awam yang berguna untuk kegiatan sehari-hari.
"Seperti layanan menyaring panggilan telepon, layanan pemeriksaan identitas palsu, dan layanan sistem verifikasi pemerintah yang dapat digunakan secara nasional," kata Nezar mencontohkan jenis-jenis solusi AI yang dapat dikembangkan menciptakan AI driven security.
Terakhir, aspek ketiga yang perlu disiapkan lewat kolaborasi pemerintah dengan para pemangku kepentingan terkait untuk membangun AI driven security di Indonesia adalah dari sisi penciptaan talenta digital.
Wamenkomdigi mengatakan sumber daya manusia menjadi faktor paling penting dalam mewujudkan AI driven security karena mereka tidak hanya menciptakan solusi tapi juga membuat tata kelola hingga memastikan solusi itu bekerja dengan optimal.
Baca juga: Nezar soroti ancaman siber akibat komputasi kuantum
Maka dari itu, ia mengajak agar universitas-universitas di Indonesia serta mitra-mitra industri untuk mengambil bagian menumbuhkan talenta digital di bidang keamanan siber terutama untuk mengisi posisi-posisi strategis.
Tidak hanya menumbuhkan talenta digital keamanan siber untuk menjadi profesional di industri, harapannya kolaborasi ini juga bisa menjangkau masyarakat awam terutama yang rentan terhadap serangan siber di kehidupan sehari-hari.
Dengan membangun kesadaran mengenai keamanan siber pada masyarakat awam, maka harusnya bisa mempercepat tumbuhnya inovasi AI-driven security di Indonesia.
"Saya juga mengajak komunitas masyarakat dan industri untuk memperluas jangkauan literasi digital khususnya pada masyarakat rentan seperti para pengguna internet pemula, kalangan pensiunan, hingga pemilik bisnis kecil. Mereka sangatlah rentan untuk menjadi korban dari kejahatan siber, " kata Nezar.
AI driven security menjadi relevan di era saat ini berkaca dari perkembangan AI yang sangat masif dan mengambil peranan penting dalam keamanan siber.
Hal itu sejalan dengan laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum yang melaporkan bahwa banyak pemimpin bisnis menilai AI sebagai faktor pendorong perubahan yang paling signifikan dalam bidang keamanan siber.
Laporan itu menyebut 9 dari 10 pemimpin mengidentifikasi AI berpengaruh pada kerentanan keamanan siber.
Maka dari itu, penting bagi suatu negara agar dapat mendukung terciptanya AI driven security agar di masa mendatang teknologi hadir untuk memberi keamanan dan bukan menjadi kerentanan.
Baca juga: Wamenkomdigi dorong manfaatkan teknologi digital untuk berbagi ilmu
Baca juga: Wamenkomdigi: Kampus harus jaga sisi kritis mahasiswa hadapi Gen AI
Baca juga: Wamenkomdigi ungkap urgensi tata kelola hadapi AI yang makin dinamis
Dari ketiga aspek tersebut, Nezar menekankan bahwa ketiganya harus dikerjakan secara kolaboratif tidak hanya pemerintah sendiri tapi juga melibatkan akademisi, industri, bahkan komunitas masyarakat.
"Pertama kita perlu memerlukan proses yang berkelanjutan dan kolaboratif di mana pemerintah, industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya secara aktif bersama-sama melakukan penyesuaian regulasi," kata Nezar dalam acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut Nezar, dalam menghadirkan regulasi terkait dengan keamanan siber, pemerintah secara aktif telah membuka ruang bagi para pemangku kepentingan terkait untuk terlibat di dalamnya.
Hal ini juga diterapkan dalam pembentukan aturan yang kini sedang berjalan seperti peraturan pelaksana untuk Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP) dan rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS).
Baca juga: Wamenkomdigi ungkap strategi Indonesia jadi "pemain" AI berdaya saing
"Kami mengundang para pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman di lapangan, bukti, dan keahlian mereka agar kerangka regulasi kami tetap praktis, adaptif, dan didasarkan pada risiko nyata di lapangan," kata Nezar.
Selanjutnya aspek kedua yang harus dilakukan ialah pertukaran informasi yang rutin antara industri dengan lembaga-lembaga nasional sebagai mitra terutama dalam membahas solusi AI yang dapat membantu untuk mendeteksi serangan siber.
Menurut Nezar, selain perlunya komunikasi untuk memahami pola serangan siber, industri dan lembaga nasional yang bergerak di bidang ini perlu juga membangun solusi seperti AI yang dapat mendeteksi maupun mencegah serangan siber.
Solusi itu bahkan diharapkan tidak hanya berguna untuk bisnis-bisnis skala besar saja tapi bahkan bisa menjangkau penggunaan di masyarakat awam yang berguna untuk kegiatan sehari-hari.
"Seperti layanan menyaring panggilan telepon, layanan pemeriksaan identitas palsu, dan layanan sistem verifikasi pemerintah yang dapat digunakan secara nasional," kata Nezar mencontohkan jenis-jenis solusi AI yang dapat dikembangkan menciptakan AI driven security.
Terakhir, aspek ketiga yang perlu disiapkan lewat kolaborasi pemerintah dengan para pemangku kepentingan terkait untuk membangun AI driven security di Indonesia adalah dari sisi penciptaan talenta digital.
Wamenkomdigi mengatakan sumber daya manusia menjadi faktor paling penting dalam mewujudkan AI driven security karena mereka tidak hanya menciptakan solusi tapi juga membuat tata kelola hingga memastikan solusi itu bekerja dengan optimal.
Baca juga: Nezar soroti ancaman siber akibat komputasi kuantum
Maka dari itu, ia mengajak agar universitas-universitas di Indonesia serta mitra-mitra industri untuk mengambil bagian menumbuhkan talenta digital di bidang keamanan siber terutama untuk mengisi posisi-posisi strategis.
Tidak hanya menumbuhkan talenta digital keamanan siber untuk menjadi profesional di industri, harapannya kolaborasi ini juga bisa menjangkau masyarakat awam terutama yang rentan terhadap serangan siber di kehidupan sehari-hari.
Dengan membangun kesadaran mengenai keamanan siber pada masyarakat awam, maka harusnya bisa mempercepat tumbuhnya inovasi AI-driven security di Indonesia.
"Saya juga mengajak komunitas masyarakat dan industri untuk memperluas jangkauan literasi digital khususnya pada masyarakat rentan seperti para pengguna internet pemula, kalangan pensiunan, hingga pemilik bisnis kecil. Mereka sangatlah rentan untuk menjadi korban dari kejahatan siber, " kata Nezar.
AI driven security menjadi relevan di era saat ini berkaca dari perkembangan AI yang sangat masif dan mengambil peranan penting dalam keamanan siber.
Hal itu sejalan dengan laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum yang melaporkan bahwa banyak pemimpin bisnis menilai AI sebagai faktor pendorong perubahan yang paling signifikan dalam bidang keamanan siber.
Laporan itu menyebut 9 dari 10 pemimpin mengidentifikasi AI berpengaruh pada kerentanan keamanan siber.
Maka dari itu, penting bagi suatu negara agar dapat mendukung terciptanya AI driven security agar di masa mendatang teknologi hadir untuk memberi keamanan dan bukan menjadi kerentanan.
Baca juga: Wamenkomdigi dorong manfaatkan teknologi digital untuk berbagi ilmu
Baca juga: Wamenkomdigi: Kampus harus jaga sisi kritis mahasiswa hadapi Gen AI
Baca juga: Wamenkomdigi ungkap urgensi tata kelola hadapi AI yang makin dinamis






Komentar (0)