Provinsi Jawa Timur diproyeksikan untuk memberangkatkan 6.880 Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui program direktif Presiden RI yakni SMK Go Global.
Raden Bagus Marseto Ketua Tim Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN) BP3MI Jawa Timur menjelaskan, program baru dari pemerintah pusat itu bertujuan untuk memperluas kesempatan lulusan SMK bekerja di luar negeri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK mencapai 7,74 persen dan menjadi yang tertinggi di antara semua tingkat pendidikan.
“Dari data statistik, lulusan SMK penyumbang pengangguran terbanyak. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah SMK Go Global. Di sisi lain, memang SMK itu kan dipersiapkan untuk bekerja. Nah, ini kita coba untuk meningkatkan,” ujarnya kepada suarasurabaya.net, Rabu (19/8/2026).
Seto menjelaskan, untuk mengikuti program tersebut, para lulusan SMK atau masyarakat umum dapat mengakses laman resmi web BP3MI Jawa Timur.
Pelatihan diberikan secara gratis. Namun, nantinya terdapat komponen biaya dalam proses penempatan calon PMI ke negara tujuan.
Dalam menyelenggarakan program SMK Go Global, BP3MI Jawa Timur telah bekerja sama dengan sejumlah lembaga pelatihan yang tersebar di Surabaya, Malang hingga Gresik.
Lembaga tersebut akan memberi pelatihan keterampilan teknis, kemampuan bahasa, pemahaman budaya kerja, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja di negara tujuan.
Selain itu, sistem yang digunakan dalam program tersebut berbasis demand-driven. Sehingga, pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan.
Sejumlah sektor pekerjaan yang menjadi sasaran BP3MI Jawa Timur di antaranya caregiver, welder, industrial, hingga sektor hospitality.
Makanya, lembaga vokasi di Jawa Timur perlu memastikan para peserta memiliki kompetensi sesuai standar yang dipersyaratkan negara tujuan seperti Jepang, Korea Selatan, Turki hingga Jerman.
“Di luar negeri saat ini posisinya sedang aging population. Orang-orang sudah berumur, kemudian pabriknya tetap harus bergerak, rumah sakitnya tetap harus beroperasi, restoran-restoran harus ada sentuhan manusianya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Seto menjelaskan peserta yang telah menyelesaikan pelatihan tidak otomatis langsung berangkat ke luar negeri. Mereka harus mengikuti proses job matching dengan perusahaan dari negara tujuan.
Dia menjamin pihak BP3MI Jatim tetap memberikan pendampingan supaya lulusan pelatihan tetap memiliki akses terhadap informasi lowongan dan proses penempatan apabila belum berhasil dalam job matching pertama.
Tahun ini, Pemerintah menargetkan program SMK Go Global dapat memberangkatkan 40.000 pekerja migran secara nasional. Sedangkan Jatim mendapat target 6.880 orang.
“Nah, ini. Jawa Timur kita dapat target 6.880. Jadi tahun ini seluruh Indonesia itu 40.000, Kalau tahun depan rencananya 140.000,” pungkasnya.(wld/rid)





Komentar (0)