JAKARTA, KOMPAS.TV - Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) kembali meningkat dalam prakiraan terbaru BMKG, Rabu (19/8/2026).
Untuk periode 20-26 Agustus 2026, dua wilayah masuk kategori Frequent (FRQ) dengan cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kedua wilayah tersebut berada di perairan barat Sumatera, yakni Samudra Hindia barat Bengkulu dan Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai.
Kemunculan dua zona FRQ ini terjadi setelah pada prakiraan periode sebelumnya, 19–25 Agustus 2026, tidak ada wilayah yang masuk kategori tersebut.
Baca Juga: BMKG Ungkap Potensi Awan Cumulonimbus 19-25 Agustus 2026, Zona FRQ Kembali Nihil
Dua Wilayah Masuk Zona FRQBerdasarkan pembaruan BMKG, dua wilayah yang masuk kategori FRQ (>75 persen) pada periode 20–26 Agustus 2026 adalah:
- Samudra Hindia barat Bengkulu
- Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
Keduanya merupakan kawasan perairan di sebelah barat Pulau Sumatera.
Kategori FRQ menunjukkan bahwa cakupan spasial maksimum pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah tersebut diprakirakan lebih dari 75 persen.
Awan Cumulonimbus sendiri merupakan awan konvektif yang dapat tumbuh menjulang tinggi dan berkaitan dengan sejumlah kondisi cuaca seperti hujan lebat, petir, serta angin kencang.
Namun, kategori FRQ tidak berarti peluang hujan mencapai 75 persen atau menunjukkan tingkat bahaya secara langsung.
Kategori tersebut mengacu pada cakupan spasial maksimum pertumbuhan awan Cumulonimbus.
Baca Juga: Bibit Siklon Tropis 95W Belum Hilang, BMKG Peringatkan Gelombang 2,5 Meter
26 Wilayah Masuk Kategori OCNLSelain dua zona FRQ, BMKG juga mencatat sejumlah wilayah dalam kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus antara 50–75 persen.
Di wilayah daratan, potensi tersebut meliputi Aceh, Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
Sementara itu, sejumlah wilayah perairan juga masuk kategori OCNL.
Berikut rinciannya:
Wilayah daratan:
- Aceh
- Bengkulu
- Jambi
- Riau
- Sumatera Barat
- Sumatera Utara
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Utara
- Sulawesi Barat
- Sulawesi Tengah
- Papua
- Papua Selatan
Wilayah perairan:
Baca Juga: BMKG: Bibit Siklon 95W Dipantau, 8 Wilayah Waspada Hujan Sedang-Lebat Rabu 19 Agustus 2026
- Laut Arafuru bagian tengah
- Laut Natuna Utara
- Laut Sulawesi bagian barat
- Samudra Hindia barat Aceh
- Samudra Hindia barat Bengkulu
- Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
- Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
- Samudra Pasifik utara Maluku
- Samudra Pasifik utara Papua
- Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
- Selat Karimata bagian utara
- Selat Malaka bagian tengah
- Selat Malaka bagian utara
Jika dibandingkan dengan prakiraan periode 19–25 Agustus 2026, terdapat perubahan komposisi wilayah yang masuk kategori OCNL.
Pada rilis terbaru, Laut Arafuru bagian tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua Selatan tercantum dalam daftar.
Sementara itu, beberapa wilayah yang sebelumnya masuk kategori OCNL, seperti Jawa Barat, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah, tidak lagi tercantum dalam prakiraan periode 20–26 Agustus 2026.
Perubahan tersebut merupakan dinamika dalam prakiraan sebaran awan Cumulonimbus dan tidak secara langsung menunjukkan peningkatan atau penurunan intensitas cuaca di tingkat nasional.
Apa Arti FRQ dan OCNL?BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum menjadi tiga kategori.
- ISOL (Isolated) berarti cakupan area awan Cumulonimbus kurang dari 50 persen.
Baca Juga: Peringatan Dini BMKG 20-21 Agustus 2026: Papua dan Sumatera Waspada Hujan, Ini Daftar Wilayahnya
- OCNL (Occasional) berarti cakupan area awan Cumulonimbus berkisar 50–75 persen.
- Sementara FRQ (Frequent) menunjukkan cakupan area awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
Klasifikasi tersebut menggambarkan cakupan spasial maksimum, bukan probabilitas hujan maupun ukuran langsung intensitas hujan.
Informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan BMKG yang dihasilkan menggunakan model cuaca numerik.
Produk tersebut digunakan untuk memperoleh informasi mengenai sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah Indonesia.
Untuk pembaruan terbaru, prakiraan berlaku selama tujuh hari, yakni 20–26 Agustus 2026.
Masyarakat yang berada atau beraktivitas di wilayah kategori FRQ maupun OCNL tetap perlu memperhatikan perkembangan informasi cuaca terbaru.
Nelayan dan pelaku transportasi laut juga disarankan memantau prakiraan kondisi perairan sebelum beraktivitas.
Baca Juga: BMKG Catat Terjadi 2.768 Gempa Susulan di NTT hingga Hari Ini, Terbesar M 6,2
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- BMKG
- awan Cumulonimbus
- awan Cb
- peringatan dini
- prakiraan cuaca
- cuaca Indonesia






Komentar (0)