Di tengah situasi darurat bencana gempa, Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi ancaman kekeringan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyematkan status “awas” kekeringan, termasuk pada Kabupaten Sikka, Ende, Ngada, dan Flores Timur yang terdampak besar oleh gempa.
Hingga 10 Agustus lalu, sejumlah daerah di NTT dilaporkan sudah mengalami situasi hari tanpa hujan ekstrem karena lebih dari dua bulan tidak diguyur hujan. Ini berisiko menyebabkan kekeringan dan krisis air, terutama di area yang bergantung besar pada hujan sebagai sumber air bersih dan irigasi pertanian.
Saat ini, warga telah melaporkan kekurangan akses air bersih karena kerusakan fasilitas akibat gempa. Terdapat juga laporan air yang berubah keruh. Selain itu, saluran irigasi yang tertutup material longsor.
Di Kabupaten Manggarai Timur, tertutupnya saluran irigasi induk Wae Laku mengancam tanaman padi di ratusan hektare lahan sawah.
BMKG mencatat ribuan gempa susulan pasca-gempa besar magnitudo 7,7 yang berpusat di timur Laut Mbay, Nagakeo, pada Sabtu (15/8) pagi. Kini, empat hari berlalu, gempa dengan magnitudo di atas 5 masih terjadi.
Pada Rabu (19/8) pagi, BMKG melaporkan gempa magnitudo 5,2, di timur Laut Mbay. Menurut perkiraan BMKG, gempa susulan ini baru akan berakhir tiga hingga empat minggu ke depan.
Berdasarkan laporan Badan SAR Nasional, per Senin (17/8), sebanyak 70 orang meninggal dunia akibat gempa. Sedangkan Kementerian Kesehatan melaporkan, lebih dari seribu orang mengalami luka-luka.
Berdasarkan pendataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa mengakibatkan belasan ribu rumah dan seribuan fasilitas publik rusak.
Gempa susulan NTT (BMKG)





Komentar (0)