Jakarta (ANTARA) - Morissa, warga negara Indonesia yang telah menetap di Kamerun sejak 2001, mengatakan peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia di luar negeri selalu memiliki keistimewaan.
"Meskipun jauh dari tanah air, aku bisa merasakan kembali kehangatan khas Indonesia melalui momen-momen seperti ini. Dan yang paling penting, bertemu lagi dengan kuliner Indonesia," kata perempuan asal Ujung Pandang, yang kini bernama Makasaar, dalam siaran pers KBRI Yaoundé di Jakarta, Rabu.
KBRI di Yaoundé mengelar upacara peringatan HUT ke-81 RI dan Hari ASEAN ke-59 di Yaoundé dan dihadiri WNI, komunitas ASEAN, serta Friends of Indonesia.
Suasana semakin meriah dengan adanya perlombaan khas 17-an seperti makan kerupuk, menggiring bola dengan terong, dan memindahkan air, seperti dikutip.
Pada kesempatan itu, Duta Besar RI untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat mengajak para WNI untuk mengirimkan doa dan duka cita bagi korban gempa di Flores, NTT.
"Di tengah kebahagiaan kita memperingati kemerdekaan, marilah kita mendoakan saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur, yang sedang menghadapi musibah.
Semoga mereka diberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan, serta proses pemulihan berjalan dengan baik. Di mana pun kita berada, mari terus memberikan yang terbaik dan berkontribusi bagi bangsa dan negara, sekecil apa pun kontribusi itu," katanya.
Pejabat Kementerian Luar Negeri Kamerun, Yasmin Aliou, yang turut hadir pada perayaan tersebut, menyampaikan harapannya agar hubungan antarmasyarakat kedua negara dapat terus ditingkatkan.
Sementara itu, Simon Atangana, mantan pesepakbola Kamerun yang pernah bermain di PSIS Semarang, mengenang pengalamannya selama berada di Indonesia dengan bahasa Indonesia yang fasih. Baginya, Indonesia adalah rumah kedua.
Simon mengatakan masih membawa bendera Indonesia yang ia dapatkan ketika PSIS Semarang ditahbiskan sebagai juara Liga Indonesia pada musim 1998-1999 silam.
Kegembiraan HUT RI juga ikut dirasakan Joice, salah seorang komunitas ASEAN asal Filipina, yang mengapresiasi keberadaan dan peran KBRI Yaoundé sebagai 'rumah' bagi komunitas ASEAN di Kamerun.
Sebelumnya, pada 12 Agustus KBRI Yaoundé juga menggelar Safari Kuliner Indonesia di Kampung Tsinga, Yaoundé, dalam rangka peringatan HUT RI dengan memperkenalkan sekaligus mendemonstrasikan pembuatan bakwan, pisang goreng, dan singkong goreng kepada masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat, khususnya dari para ibu dan anak-anak, sekaligus menjadi bagian dari upaya lebih mendekatkan Indonesia kepada masyarakat Kamerun di tingkat akar rumput dengan memanfaatkan bahan makanan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti dikutip.
Baca juga: KBRI Yaounde fasilitasi repatriasi ibu dan dua anak ke tanah air
Baca juga: KBRI Yaoundé gencar promosikan Indonesia di Kamerun
Baca juga: KBRI: Forum Bisnis RI-Kamerun perluas peluang ekonomi di Afrika Tengah
"Meskipun jauh dari tanah air, aku bisa merasakan kembali kehangatan khas Indonesia melalui momen-momen seperti ini. Dan yang paling penting, bertemu lagi dengan kuliner Indonesia," kata perempuan asal Ujung Pandang, yang kini bernama Makasaar, dalam siaran pers KBRI Yaoundé di Jakarta, Rabu.
KBRI di Yaoundé mengelar upacara peringatan HUT ke-81 RI dan Hari ASEAN ke-59 di Yaoundé dan dihadiri WNI, komunitas ASEAN, serta Friends of Indonesia.
Suasana semakin meriah dengan adanya perlombaan khas 17-an seperti makan kerupuk, menggiring bola dengan terong, dan memindahkan air, seperti dikutip.
Pada kesempatan itu, Duta Besar RI untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat mengajak para WNI untuk mengirimkan doa dan duka cita bagi korban gempa di Flores, NTT.
"Di tengah kebahagiaan kita memperingati kemerdekaan, marilah kita mendoakan saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur, yang sedang menghadapi musibah.
Semoga mereka diberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan, serta proses pemulihan berjalan dengan baik. Di mana pun kita berada, mari terus memberikan yang terbaik dan berkontribusi bagi bangsa dan negara, sekecil apa pun kontribusi itu," katanya.
Pejabat Kementerian Luar Negeri Kamerun, Yasmin Aliou, yang turut hadir pada perayaan tersebut, menyampaikan harapannya agar hubungan antarmasyarakat kedua negara dapat terus ditingkatkan.
Sementara itu, Simon Atangana, mantan pesepakbola Kamerun yang pernah bermain di PSIS Semarang, mengenang pengalamannya selama berada di Indonesia dengan bahasa Indonesia yang fasih. Baginya, Indonesia adalah rumah kedua.
Simon mengatakan masih membawa bendera Indonesia yang ia dapatkan ketika PSIS Semarang ditahbiskan sebagai juara Liga Indonesia pada musim 1998-1999 silam.
Kegembiraan HUT RI juga ikut dirasakan Joice, salah seorang komunitas ASEAN asal Filipina, yang mengapresiasi keberadaan dan peran KBRI Yaoundé sebagai 'rumah' bagi komunitas ASEAN di Kamerun.
Sebelumnya, pada 12 Agustus KBRI Yaoundé juga menggelar Safari Kuliner Indonesia di Kampung Tsinga, Yaoundé, dalam rangka peringatan HUT RI dengan memperkenalkan sekaligus mendemonstrasikan pembuatan bakwan, pisang goreng, dan singkong goreng kepada masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat, khususnya dari para ibu dan anak-anak, sekaligus menjadi bagian dari upaya lebih mendekatkan Indonesia kepada masyarakat Kamerun di tingkat akar rumput dengan memanfaatkan bahan makanan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti dikutip.
Baca juga: KBRI Yaounde fasilitasi repatriasi ibu dan dua anak ke tanah air
Baca juga: KBRI Yaoundé gencar promosikan Indonesia di Kamerun
Baca juga: KBRI: Forum Bisnis RI-Kamerun perluas peluang ekonomi di Afrika Tengah






Komentar (0)