HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Munculnya spanduk dukungan yang mendorong Anggota DPR RI Andi Amar Ma’ruf Sulaiman masuk dalam bursa calon gubernur Sulawesi Selatan memunculkan berbagai respons.
Pengamat politik Universitas Hasanuddin, Ali Armunanto, menilai Andi Amar memiliki modal politik yang cukup besar, namun masih menghadapi tantangan untuk membuktikan kapasitas dirinya di hadapan publik.
Menurut Ali, langkah politik Andi Amar ke depan membutuhkan kematangan yang tidak hanya ditopang oleh jaringan dan posisi politik yang dimiliki saat ini. Ia menilai figur muda tersebut perlu menunjukkan kemampuan organisasi, tata kelola pemerintahan, serta insting politik yang kuat.
“Yang perlu ditunjukkan ke publik adalah kapasitasnya,” kata Ali dalam ruangan
Dalam rungan tersebut Ali menjelaskan, tantangan terbesar yang dihadapi Andi Amar saat ini ialah membangun citra politik yang berdiri atas kemampuan personalnya sendiri. Selama ini, kata dia, publik masih cenderung mengaitkan sosok Andi Amar dengan nama besar keluarga, khususnya ayahnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
“Bisakah dia keluar dari bayang-bayang bapaknya. Itu yang menjadi tantangan utama,” ujarnya.
Ia menilai, keberhasilan Andi Amar menjadi anggota DPR RI hingga menempati sejumlah posisi strategis di dunia politik belum cukup untuk meyakinkan masyarakat mengenai kapasitas kepemimpinannya. Publik, menurut Ali, tidak hanya melihat jabatan yang dimiliki seseorang, tetapi juga rekam jejak, gagasan, dan kontribusinya dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Publik bukan melihat posisi yang dia miliki, tetapi kinerja dan kemampuan seseorang. Itu yang dibutuhkan oleh masyarakat,” jelasnya.
Ali menambahkan, kemunculan spanduk dukungan tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari dinamika politik yang wajar. Namun, jika Andi Amar ingin menjadi figur yang diperhitungkan dalam kontestasi politik Sulsel ke depan, ia harus mampu membangun basis dukungan yang lahir dari kapasitas dan prestasi yang dimiliki.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga demokrasi dari praktik politik yang terlalu bergantung pada jejaring keluarga maupun kekuatan oligarki. Menurutnya, masyarakat saat ini semakin kritis dalam menilai calon pemimpin.
“Kita berharap ketika seseorang bertarung dalam kontestasi politik, dia hadir sebagai kandidat yang memang diharapkan publik karena kapasitasnya, bukan semsta karena nama keluarga, uang, atau jaringan yang dimiliki,” katanya.
Ali menilai masih ada waktu bagi Andi Amar untuk membangun rekam jejak politik yang lebih kuat. Ia menyarankan agar politisi muda Gerindra itu lebih aktif menunjukkan gagasan, keberpihakan kepada masyarakat, serta kinerja politik yang dapat dinilai secara langsung oleh publik.
“Tunjukkan prestasinya. Benahi citra diri, dan belajar keluar dari bayang-bayang keluarga. Kalau itu dilakukan, tentu akan berkontribusi terhadap elektabilitas dan popularitasnya ke depan,” pungkasnya.
PRISKA JULIANTI, Magang FAJAR






Komentar (0)