Prof Rhenald Kasali Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyoroti fenomena gelar sarjana yang kini seolah tak otomatis menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan sesuai bidang studinya.
Founder Rumah Perubahan itu menyebut, perubahan kebutuhan dunia kerja membuat perusahaan kini tidak hanya mempertimbangkan latar belakang pendidikan. Mental, sikap kerja, kecocokan dengan pekerjaan, serta keahlian yang dimiliki seseorang ikut menentukan.
Menurutnya, fenomena bekerja lintas bidang kini juga semakin mudah ditemukan, termasuk pada jabatan publik. Ia mencontohkan di posisi Menteri Kesehatan dan Menteri Pekerjaan Umum yang kini dijabat orang yang bukan berasal dari bidang kementerian tersebut.
“Ya karena yang menjadi Menteri Kesehatan saja (Budi Gunadi Sadikin) bukan dokter gitu ya. Yang menjadi Menteri PU (Dody Hanggodo) bukan orang PU. Jadi kita lihat sekarang banyak sekali orang yang bekerja itu lintas dari keahlian,” ujarnya saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Rabu (19/8/2026).
“Di tempat saya ada dua orang lulusan pesantren, hafiz Quran tapi bisa membuat ekstrak produk tertentu dan ekspor ke Amerika. Waktu ketemu saya bingung kamu apa sekolahnya? Dia bilang dia hafiz Quran begitu ya, tapi dia pernah sekolah di China dan sebagainya. Ternyata dia punya keahlian,” tambah Rhenald.
Guru Besar FEB itu mengatakan, kondisi ini memang semakin mungkin terjadi. Apalagi, ilmu pengetahuan saat ini tidak lagi hanya tersedia di perguruan tinggi.
Seseorang yang menyadari jurusan kuliahnya tidak sesuai dengan minat, masih bisa mempelajari bidang baru melalui berbagai sumber, mulai jurnal, media sosial hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Jadi mereka memanfaatkan keterampilan, keahlian yang sekarang bisa tersedia di mana-mana. Jadi jangan menyalahkan lagi bidang studinya hari ini, karena monopoli pengetahuan bukan lagi di kampus. Ini yang harus dibuka pikiran masyarakat hari ini,” ujarnya.
Prof. Rhenald juga menyoroti kemampuan perguruan tinggi dalam menyesuaikan pendidikan dengan perubahan kebutuhan industri. Menurutnya, perguruan tinggi kini merupakan sektor yang sangat diatur pemerintah.
Kondisi itu membuat pembukaan program baru maupun perubahan kurikulum tidak bisa dilakukan secepat perkembangan teknologi. Prof. Rhenald menyebut teknologi bergerak sangat cepat, sementara pembaruan materi pendidikan kerap bergantung pada inisiatif dosen yang memasukkan perkembangan terbaru ke dalam kelas.
“Teknologi sekarang ini bekerja cepat sekali, membuat kampus itu memang ketinggalan. Mau secanggih apapun, kalau kita lihat itu yang cepat itu (hanya) memperbaiki layanan mahasiswa yang bisa disediakan secara online. (Sementara) dari segi kurikulum semuanya ketinggalan. Hanya tergantung pada dosen tertentu yang mengajar di kelas yang memberikan materi-materi dengan pembaharuan,” katanya.
Ia kemudian menceritakan pada periode kedua pemerintahan Joko Widodo Presiden ke-7 RI 2019 silam, ia pernah menyampaikan perlunya reformasi pendidikan karena jurusan dan silabus perguruan tinggi tidak banyak berubah.
“Saya pernah menyampaikan Pak Jokowi reform pendidikan. Saya sampaikan bahwa jurusan-jurusan yang ada sejak zaman saya kuliah sampai sekarang tidak berubah di perguruan tinggi. Bahkan silabus yang banyak dipakai oleh para dosen itu masih sama,” ujarnya.
Tantangan itu pun semakin besar dengan hadirnya AI. Rhenald melihat mahasiswa sudah menggunakan teknologi itu dalam aktivitas akademik, sementara sebagian pengajar masih menolaknya.
“Saya beri contoh aja deh mengenai AI hari ini. Dapat dikatakan 90 persen dosen itu anti AI. 90 persen. karena AI itu dianggap membodohi mahasiswa ya, membuat mahasiswa menjadi lebih mudah dan sebagainya. Tapi 99 persen mahasiswa itu menggunakan AI, dan mereka akan bekerja dengan AI di masa depan,” ungkapnya.
Karena itu, kampus menurutnya seharusnya tidak sekadar menjauhkan mahasiswa dari AI, tetapi mengajarkan cara mengkurasi, memeriksa, memilih, dan menggunakan informasi secara benar.
Bayangkan kalau kita tidak cepat masuk dan mengajarkan mahasiswa cara mengkurasi pengetahuan gitu ya. Kan berarti mahasiswa hanya berjalan dengan dirinya sendiri dan apa pun yang mereka dapat dari AI dianggap benar. Padahal, AI bisa menipu manusia, AI bisa menyajikan sesuatu yang salah,” ungkapnya.
Terakhir, di tengah perubahan tersebut, Rhenald mengingatkan mahasiswa dan pencari kerja agar tidak menjadikan nama kampus maupun gelar akademik sebagai satu-satunya modal ketika masuk dunia kerja. Bahkan kepada mahasiswanya di UI, pesan tersebut sudah lama ia sampaikan.
“Saya sebagai guru besar di UI saja sejak dulu mengatakan pada mahasiswa saya, kalau mencari kerja jangan jual UI-nya, jangan jual degreenya, jangan jual S1 FEUI, jangan jual S2 MMUI, jangan gelar jangan jual gelar doktor kalian. Yang kalian jual itu adalah kaliannya itu, keahlian kalian, diri kalian itu,” pungkas Rhenald. (bil/ipg)





Komentar (0)