Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.860, BI-Rate 5,75 Persen Diprediksi Bertahan

kompas.tv
6 jam lalu
Cover Berita
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024). (Sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat tipis pada pembukaan perdagangan Rabu (19/8/2026), menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Rupiah naik 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp17.860 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.862 per dolar AS.

Pergerakan rupiah berlangsung ketika pasar menanti keputusan BI mengenai suku bunga acuan atau BI-Rate. 

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.841 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan BI-Rate

Sejumlah lembaga ekonomi memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen.

BI-Rate Diprediksi Tetap 5,75 Persen

Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam RDG BI Agustus 2026 yang hasilnya diumumkan Rabu siang.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan terdapat sejumlah faktor yang mendukung perkiraan tersebut.

Salah satunya adalah inflasi Indonesia yang kembali berada di bawah 3 persen. Selain itu, kondisi capital inflow juga mulai membaik sehingga turut mendukung stabilitas rupiah.

Faktor eksternal juga memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga.

Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat menurun seiring sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

"Ke depan, kami masih melihat di sisa tahun 2026, BI akan cenderung mempertahankan BI-Rate meski kami tidak me-rule out kemungkinan naik jika kondisi global secara tak terduga memburuk sangat signifikan," ujar Faisal dikutip dari Antara.

Baca Juga: Rupiah Menguat usai Pidato Prabowo, RAPBN 2027 Jadi Sentimen Positif

Perkiraan PIER tersebut sejalan dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).

LPEM FEB UI juga memperkirakan BI-Rate tetap berada di level 5,75 persen.

Salah satu pertimbangannya adalah tekanan eksternal yang untuk sementara relatif mereda, terutama setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak mengalami eskalasi besar dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut membuat BI dinilai masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tanpa harus kembali menaikkannya demi menjaga nilai tukar.

Inflasi 2,88 Persen Beri Ruang bagi BI

Inflasi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan ruang kebijakan BI.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juli 2026 melambat menjadi 2,88 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 3,34 persen pada Juni 2026.

Inflasi yang kembali berada di bawah 3 persen memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga.

Baca Juga: Komitmen Prabowo: Setiap Rupiah yang Dihemat Harus Kembali untuk Rakyat

Namun, LPEM FEB UI mengingatkan tekanan inflasi dapat kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Fenomena El Nino dan musim kemarau diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus dan September 2026. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga sejumlah komoditas dan mendorong tekanan inflasi.

Selain inflasi, kondisi arus modal juga memberikan dukungan bagi rupiah.

LPEM FEB UI mencatat Indonesia menerima arus modal masuk sebesar 280 juta dolar AS sejak akhir Juli hingga 13 Agustus 2026.

Arus tersebut terdiri dari 240 juta dolar AS yang masuk ke surat berharga pemerintah dan 40 juta dolar AS ke pasar modal.

Masuknya dana asing turut mendorong penurunan imbal hasil surat berharga pemerintah.

Dalam dua pekan terakhir, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun 11 basis poin menjadi 7,21 persen. 

Sementara imbal hasil tenor satu tahun turun 25 basis poin menjadi 6,65 persen.

Baca Juga: Prabowo Ungkap RAPBN 2027: Belanja Rp4.097 Triliun, Rupiah Rp17.500

Menurut LPEM FEB UI, penurunan yield tenor pendek yang lebih besar dibandingkan tenor panjang menunjukkan adanya pelebaran kurva imbal hasil. 

Kondisi tersebut menjadi salah satu sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia dalam jangka pendek.

Rupiah Menguat 1,11 Persen dalam Dua Pekan

Perbaikan arus modal juga sejalan dengan penguatan rupiah.

Dalam dua pekan, rupiah menguat 1,11 persen dari Rp18.078 menjadi Rp17.876 per dolar AS.

Meski demikian, LPEM FEB UI mencatat kinerja rupiah masih relatif lebih lemah dibandingkan sejumlah mata uang negara tetangga dan negara berkembang lainnya sepanjang 2026.

Karena itu, stabilitas nilai tukar tetap menjadi salah satu pertimbangan penting bagi BI dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Faktor lain yang turut menjadi perhatian pasar adalah pergantian kepemimpinan Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisi Gubernur BI.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Rp17.810 per Dolar AS, Cadangan Devisa dan Inflasi AS Jadi Sorotan

Menurut LPEM FEB UI, perubahan tersebut tidak sampai memicu arus modal keluar besar maupun tekanan berkepanjangan pada sektor keuangan.

Keberlanjutan kebijakan di bawah Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti dinilai turut menjaga kepercayaan pasar.

"Kombinasi dari kebijakan The Fed untuk menahan suku bunga acuannya dan pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia yang berlangsung cukup mulus memicu terjadinya arus modal masuk ke Indonesia,” kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.

The Fed Masih Jadi Faktor Eksternal

Dari Amerika Serikat, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50-3,75 persen pada rapat FOMC akhir Juli 2026.

Keputusan tersebut berlangsung di tengah tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS.

Penurunan penyerapan tenaga kerja pada Juli menjadi salah satu faktor yang mendukung keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut turut mengurangi tekanan untuk mengikuti kebijakan moneter AS secara agresif.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat, Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen Jadi Penopang Utama

Dengan berbagai kondisi tersebut, LPEM FEB UI menilai BI tidak terlalu tertekan untuk menaikkan suku bunga demi menjaga rupiah.

BI sebelumnya telah menaikkan BI-Rate total 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir.

Mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dinilai dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk merespons jika kondisi eksternal kembali memburuk.

"Oleh karena itu, Bank Indonesia sebaiknya menahan suku bunga acuannya di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur mendatang guna menjaga ruang gerak untuk menaikkan suku bunga acuan di masa mendatang. Mempertahankan suku bunga tersebut juga akan menghindari penambahan tekanan yang tidak perlu terhadap sektor riil, karena hal itu akan meningkatkan biaya pendanaan," kata Riefky.

Dengan demikian, keputusan BI hari ini akan menjadi perhatian utama pasar. 

Rupiah yang menguat, inflasi 2,88 persen, serta mulai masuknya modal asing memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan BI-Rate 5,75 persen. 

Namun, risiko inflasi akibat El Nino dan ketidakpastian ekonomi global tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi. 

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV/Antara

Tag
  • Rupiah
  • BI-Rate
  • Bank Indonesia
  • RDG BI
  • inflasi
  • USD to IDR
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kepala BGN Perintahkan SPPG di Lokasi Gempa NTT Siaga, Salurkan Makanan ke Masyarakat Terdampak
• 20 jam lalu
0
thumb
Belasan Pohon Dikuliti di Bandung, Pelakunya Ternyata Warga Setempat
• 2 jam lalu
0
thumb
KBRI Dhaka Rayakan HUT ke-81 RI Bersama Masyarakat dan Diaspora
• 9 jam lalu
0
thumb
Bahlil Kejar Konsolidasi Golkar hingga Desa Rampung Sebelum 2027
• 21 jam lalu
0
thumb
PT Timah Kembali Membeli Pasir Timah Warga Bangka Belitung hingga Perpres Pertimahan Terbit
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.