Liputan6.com, Jakarta - Jagat media sosial belakangan ramai dihiasi beragam video perselisihan antar-pengendara di jalan raya. Berawal dari persoalan kecil, emosi kerap dengan cepat tersulut hingga berujung pertengkaran yang menyita perhatian warganet.
Psikolog Klinis Diah Nurayu Kusumawardani mengatakan, berkendara memang merupakan situasi yang cukup mudah memunculkan frustrasi. Kemacetan, perilaku pengendara lain, suara klakson dan knalpot, hingga kondisi terburu-buru karena takut terlambat dapat menjadi pemicunya.
Advertisement
“Di jalan itu, kita bisa secara terus-menerus menghadapi kemacetan, kemudian perilaku pengendara lain. Kan ada ya yang suka menyerobot, atau mungkin sering membunyikan klakson. Mungkin kita juga lagi dalam kondisi yang, wah akan terlambat nih,” kata Diah saat dihubungi, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, kondisi jalan yang tidak sesuai harapan juga bisa membuat seseorang lebih mudah frustrasi. Pengendara yang berharap perjalanan lancar, tetapi ternyata terjebak macet, misalnya, dapat mengalami kekecewaan yang kemudian berubah menjadi kemarahan.
“Biasanya dari rasa frustrasi ini berkembang menjadi rasa marah,” ujarnya.
Kemarahan tersebut, lanjut Diah, berkaitan dengan potensi meningkatnya perilaku mengemudi secara agresif maupun berisiko. Namun pemicunya tidak selalu berasal dari situasi di jalan.
“Bisa jadi memang kondisi psikologis yang sudah ada sebelum dia berkendara. Seperti misalnya pengendara berada dalam kondisi yang sedang lelah, atau mungkin terburu-buru, atau mungkin memang sedang banyak tekanan atau masalah,” jelasnya.
“Jadi memang bisa jadi ada masalah yang dihadapi di jalan, tapi bisa juga memang akumulasi dari sebelum dia berkendara,” sambung Diah.
Diah menjelaskan, perilaku agresif tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses psikologis sebelum seseorang akhirnya melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Pemicu awalnya bisa berupa kendaraan terserempet, diserobot, dibunyikan klakson, atau dipotong secara tiba-tiba. Setelah itu, otak akan memberikan penilaian terhadap kejadian tersebut.
“Kalau misalnya dilihat sebagai ancaman, ketidakadilan, penghinaan, dan lainnya, ya mungkin reaksi emosional jadi lebih intens,” katanya.
Emosi MeningkatKetika emosi meningkat, tubuh ikut bereaksi. Detak jantung meningkat, tubuh menegang dan perhatian semakin terpusat pada hal yang membuat seseorang marah.
“Dalam kondisi ini tuh orang biasanya akan lebih mikir ‘saya harus membalas’ daripada apa akibat ketika saya melakukan pembalasan,” terang Diah.
Akibatnya, kemarahan dapat berubah menjadi perilaku agresif. Bentuknya beragam, mulai membunyikan klakson secara berlebihan, memaki, mengejar kendaraan lain, hingga berujung perkelahian dan kekerasan fisik. Namun, Diah mengingatkan bahwa marah dan agresif bukan hal yang sama.
“Marah itu emosi, agresif itu adalah sebuah perilaku. Jadi bisa aja orang itu emang marah, tapi memilih untuk tidak melakukan perilaku kekerasan,” jelasnya.
Kemampuan mengendalikan dorongan tersebut berkaitan dengan regulasi emosi. Orang yang mampu mengenali tanda-tanda kemarahan dalam dirinya memiliki kesempatan untuk mengambil jarak sebelum bertindak.
“Kalau dia sadar dirinya marah, dia jadi lebih punya kesempatan untuk mengambil jarak terhadap emosinya sebelum melakukan tindakan,” ujarnya.
Sebaliknya, orang dengan kemampuan regulasi emosi yang buruk cenderung tidak mengenali tanda-tanda tersebut. Ketika dorongan marah muncul, tindakan bisa dilakukan secara spontan.
Menurut Diah, cara seseorang memaknai tindakan pengendara lain juga sangat berpengaruh terhadap emosi.
Ketika diserobot, misalnya, seseorang dapat menganggap dirinya tidak dihargai atau diremehkan. Pemaknaan seperti itu dapat langsung memicu kemarahan.
“Kalau misalnya kita lagi mengendarai kendaraan, terus tiba-tiba diserobot, terus kita memaknai sebagai kayak, ‘wah dia tidak melakukan sesuatu yang sesuai aturan’, dan kita marah di situ,” katanya.
Namun, situasinya bisa berbeda apabila kejadian tersebut dimaknai dari sudut pandang lain.
“Kalau misalnya kita memaknai dengan ‘oh mungkin dia terburu-buru, oh mungkin dia ada urgensi sehingga harus mengendarai kendaraannya dengan ngebut-ngebutan’, nah ini kan akhirnya emosinya berubah, tidak lagi marah, tapi mungkin muncul perasaan simpati,” tuturnya.
Selain cara memaknai kejadian, toleransi terhadap frustrasi juga berpengaruh. Orang dengan toleransi frustrasi rendah dapat lebih cepat mengalami lonjakan emosi ketika menghadapi pemicu kecil.
“Kalau memang toleransinya rendah, ketika misalnya menghadapi kondisi emosional yang tidak menyenangkan, itu biasanya berkaitan, ada kecenderungan untuk melakukan perilaku agresif atau mengendarai secara berisiko,” katanya.
Faktor lain seperti kepribadian, kebiasaan dan pengalaman juga ikut berperan. Meski demikian, perilaku agresif saat berkendara tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan psikologis.
“Perilaku agresif dalam berkendara itu tidak serta-merta mengatakan bahwa seseorang itu mengalami gangguan psikologis. Jadi bisa jadi kayak ada akumulasi dan lain-lainnya,” jelas Diah.





Komentar (0)