3 Ton Daging Celeng Ilegal Dimusnahkan di Merak

detik.com
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Banten menggagalkan pengiriman sekitar 3 ton daging babi hutan atau celeng dan 600 kilogram daging labi-labi tanpa dokumen karantina di Pelabuhan Penyeberangan Merak, Banten. Daging celeng ilegal itu kemudian dimusnahkan.

Sebelum dimusnahkan, petugas sudah menempuh proses pemeriksaan dan penanganan sesuai ketentuan perkarantinaan, sebanyak 3.600 kilogram produk daging tersebut. Komoditas tersebut diketahui berasal dari Jambi dan rencananya dibawa menuju Semarang, Jawa Tengah.

Pengungkapan kasus bermula dari informasi masyarakat yang diterima petugas Karantina Banten pada Sabtu (15/8) sekitar pukul 00.15 WIB, mengenai adanya pengiriman daging babi hutan melalui Pelabuhan Penyeberangan Merak.

"Petugas kemudian melakukan pemantauan terhadap kendaraan yang turun dari kapal serta berkoordinasi dengan unsur terkait di kawasan pelabuhan. Dalam pemeriksaan, petugas menemukan muatan berupa produk daging yang tidak dilengkapi sertifikat sanitasi produk asal hewan maupun dokumen karantina yang dipersyaratkan," Sekretaris Utama Barantin, Shahandra Hanitiyo, Rabu (19/8/2026).

Baca juga: 222 Ribu Benih Lobster Diselundupkan di Merak, Sopir Tahunya Bawa Gurame

Muatan tersebut, kata dia, juga tidak dilaporkan dan tidak diserahkan kepada petugas Karantina untuk dilakukan pemeriksaan dan tindakan karantina. Pemeriksaan lebih lanjut di Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan Merak Karantina Banten menemukan sekitar 3 ton daging celeng dan 600 kilogram daging labi-labi.

Terhadap komoditas tersebut kemudian dilakukan tindakan karantina penahanan untuk memastikan pemeriksaan, pengamanan, dan penanganannya berjalan sesuai ketentuan.

"Setelah proses pemeriksaan dan penanganan dilakukan, Karantina Banten melaksanakan tindakan pemusnahan terhadap seluruh komoditas tersebut," ujarnya.

Pemusnahan tersebut merupakan bagian dari upaya negara melindungi kesehatan hewan, kesehatan masyarakat, kelestarian sumber daya hayati, ketahanan pangan, serta perekonomian nasional.

Menurut Shahandra, setiap media pembawa hewan, ikan, dan tumbuhan yang dilalulintaskan tanpa memenuhi persyaratan karantina berpotensi membawa risiko yang belum dapat diketahui sebelum dilakukan pemeriksaan.

"Lebih baik mencegah daripada mengobati. Lebih baik menggagalkan di pintu masuk daripada membiarkan risiko menyebar ke sentra produksi dan masyarakat. Inilah hakikat dari tugas Karantina Indonesia," katanya.




(whn/whn)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kabar Baik! Guru PPPK Akan Jadi Pegawai Pemerintah Pusat
• 4 jam lalu
0
thumb
Kebakaran di Matraman Jakarta Timur Hanguskan 3 Rumah
• 3 jam lalu
0
thumb
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat Dorong Evaluasi Pelaksanaan Konstitusi Demi Tujuan Ini
• 6 jam lalu
0
thumb
Bahlil Sebut Listrik di NTT Berangsur Pulih Usai Gempa M 7,7
• 18 jam lalu
0
thumb
Gubernur NTT Minta Korban Gempa Kasbon Kebutuhan di Toko dan Kios, Nanti Dibayarkan Pemda
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.