Itamar Ben-Gvir Menteri Keamanan Nasional Israel menyerukan agar pasukan Israel membunuh “30 atau 40” orang di Jalur Gaza setiap malam. Seruan itu bahkan ditujukan kepada mereka yang dinilainya tidak menimbulkan ancaman.
Pernyataan tersebut disampaikan Ben-Gvir dalam sebuah podcast bersama Rom Braslavski, mantan sandera Israel yang pernah ditahan di Gaza. Episode podcast itu muncul pada, Minggu (16/8/2026), dan kemudian beredar luas di media Palestina.
Melansir laporan Al Jazeera, Selasa (18/8/2026), Ben-Gvir bahkan menyebut ada orang-orang di Gaza yang menurutnya “tidak layak hidup”.
“Ada orang-orang di sana (Gaza/Palestina) yang tidak layak hidup. Mereka tidak seharusnya hidup. Mereka bahkan bukan manusia,” kata Ben-Gvir saat menyerukan pembunuhan terarah terhadap warga Palestina di Gaza.
Pernyataan itu menambah daftar panjang komentar ekstrem Ben-Gvir, politikus sayap kanan yang menjadi bagian dari pemerintahan koalisi Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel.
Ben-Gvir yang membawahi kepolisian dan layanan penjara Israel juga duduk dalam kabinet keamanan. Meski demikian, ia tidak memiliki kewenangan langsung untuk memerintahkan militer melakukan serangan.
Dalam perbincangan itu, Ben-Gvir mengaku tidak sepakat dengan keputusan Netanyahu mengurangi serangan militer di Gaza selama gencatan senjata berlangsung.
Ia justru mendorong kembali dilakukannya pembunuhan terarah dengan sasaran yang lebih luas dari orang-orang yang dianggap sedang menjadi ancaman aktif.
Selain membahas Gaza, Ben-Gvir juga berbicara mengenai penerapan hukuman mati terhadap warga Palestina yang divonis bersalah, atas serangan mematikan terhadap warga Israel di pengadilan militer.
Dalam podcast itu, Braslavski bahkan meminta agar dirinya diizinkan secara pribadi melakukan eksekusi.
“Saya tidak ingin tali. Saya ingin tombol pada senjata. Dengan tangan saya sendiri, saya akan mengeksekusi setiap teroris di negara Israel,” kata Braslavski.
Ben-Gvir kemudian menjawab bahwa dirinya akan berupaya mewujudkan permintaan tersebut.
“Saya akan jungkir balikkan dunia agar itu terjadi. Saya berjanji akan melakukan segala yang saya bisa sampai itu terjadi,” ujarnya.
Dalam percakapan yang sama, Ben-Gvir juga kembali menyerukan agar warga Palestina didorong meninggalkan Gaza secara permanen dan permukiman Israel dibangun di wilayah tersebut.
Ia menyatakan memandang “seluruh Gaza sebagai milik kami”, sebuah pandangan yang sebelumnya juga beberapa kali ia sampaikan.
Sejumlah ahli hukum internasional telah memperingatkan bahwa pemindahan penduduk secara paksa maupun kebijakan yang sengaja mendorong emigrasi massal dapat dikategorikan sebagai pembersihan etnis.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.250 orang telah meninggal akibat serangan Israel sejak gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober.
Ben-Gvir selama ini dikenal sebagai salah satu politikus garis keras Israel. Ia pernah terlibat dalam gerakan Kahanis yang dilarang, serta secara terbuka mendukung hukuman mati terhadap warga Palestina yang divonis melakukan serangan mematikan.
Ia juga beberapa kali membanggakan kebijakan yang memperketat kondisi penahanan warga Palestina di penjara Israel. Pernyataan dan kebijakannya telah menuai kritik internasional. Inggris dan sejumlah negara Uni Eropa juga pernah menjatuhkan sanksi terhadap Ben-Gvir. (bil/ipg)





Komentar (0)