REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA, – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya menyasar kalangan pelajar anggota Pramuka tingkat SMP di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, dalam upaya memperkuat literasi dan inklusi keuangan. Kegiatan ini bertujuan membekali generasi muda agar memiliki kemampuan mengelola keuangan secara bijak sejak usia sekolah. Edukasi tersebut menyasar 91 anggota Pramuka dari SMPN 2 dan SMPN 1 Tasikmalaya.
Anggota Tim Edukasi OJK Tasikmalaya, Nur Izmi, mengatakan bahwa dalam edukasi tersebut, pelajar diajak memahami pentingnya mengelola keuangan. Salah satu poin utamanya adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Pramuka ini merupakan bagian dari upaya OJK membekali generasi muda. Selain pengelolaan keuangan, edukasi ini juga meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal yang berkembang di tengah maraknya penggunaan teknologi digital.
Materi Interaktif dan Pengenalan Risiko
Mengusung tema "Edukasi Keuangan: Cerdas Keuangan dan Waspada Aktivitas Keuangan Ilegal", OJK menyampaikan materi secara interaktif yang disesuaikan dengan kehidupan pelajar. Materi yang diberikan mulai dari pengenalan peran dan fungsi OJK, pengelolaan keuangan, hingga pengenalan berbagai risiko aktivitas keuangan ilegal.
Nur Izmi menegaskan bahwa pelajar diberi pemahaman terkait penyusunan anggaran sederhana dan pembiasaan diri menabung. Kebiasaan tersebut dinilai sejalan dengan nilai kepramukaan yang menanamkan sikap disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan cerdas dalam mengambil keputusan keuangan," ujar Nur Izmi.
Waspada Pinjol Ilegal dan Judi Online
OJK juga mengingatkan para pelajar untuk menghindari perilaku keuangan yang dapat mendorong pengeluaran tidak terkendali. Perilaku seperti ikut-ikutan orang lain, mengikuti tren, mencari pengakuan dari lingkungan, atau mengejar kesenangan sesaat menjadi sorotan utama.
Selain pengelolaan keuangan, pelajar diberikan pemahaman mendalam mengenai pinjaman daring (pinjol) legal dan ilegal. Mereka dikenalkan pada karakteristik penyelenggara daring yang legal serta risiko pinjaman daring ilegal, sehingga dapat memahami legalitas suatu layanan keuangan sebelum menggunakannya dan menjaga keamanan data pribadi.
Tim OJK juga memberikan edukasi mengenai bahaya judi daring, termasuk modus perjudian yang disamarkan melalui permainan atau game online. Para pelajar dikenalkan dengan sejumlah istilah yang kerap digunakan dalam aktivitas judi daring agar mampu mengenali indikasinya dan tidak mudah terjebak.
"Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta dibagikan kepada teman, keluarga, dan lingkungan sekitar," kata Nur Izmi menambahkan.
Komentar (0)