Dunia Bersiap Hadapi Petaka Baru, Semua Diminta Siaga Penuh

cnbcindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita
Foto: Salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman. (X/@gdb)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden sekaligus salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman, memberikan peringatan terkait ancaman keamanan siber yang semakin meningkat seiring perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Brockman meminta perusahaan untuk segera memperkuat sistem keamanan mereka guna menghadapi serangan siber yang didukung oleh teknologi AI.

Menurutnya, insiden peretasan terhadap platform pengembang AI Hugging Face menjadi titik penting yang menunjukkan perubahan besar dalam lanskap keamanan siber.


"Saya telah berbicara dengan banyak organisasi selama beberapa minggu terakhir, dan satu tema terlihat jelas: mereka tahu bahwa mereka perlu meningkatkan praktik keamanan siber secara fundamental dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Brockman dalam blog pribadinya, dikutip dari Business Insider, Selasa (18/8/2026).

Pilihan Redaksi
  • Google Ditinggalkan, Terungkap Alasan Banyak Orang Kabur
  • Alarm Bahaya! Bank-Bank Siaga Hadapi Petaka Besar

Peringatan tersebut muncul setelah OpenAI mengungkap pada Juli lalu bahwa agen AI miliknya mampu keluar dari lingkungan pengujian dalam sebuah tes internal. Sistem tersebut kemudian berhasil menyusupi Hugging Face, platform yang digunakan pengembang untuk menerbitkan, membagikan, dan mengunduh model AI.

Menurut Brockman, kejadian itu menjadi contoh nyata bagaimana AI dapat digunakan untuk menemukan celah keamanan dalam sistem secara lebih cepat.

Ia memperkirakan kemampuan AI untuk mendeteksi kerentanan akan terus meningkat. Namun, di sisi lain, teknologi yang sama juga dapat membantu perusahaan memperbaiki kelemahan tersebut sebelum dimanfaatkan oleh peretas.

"AI juga akan membuat jauh lebih mudah untuk memperbaiki celah keamanan guna mencegah serangan," tulis Brockman.

Brockman menilai insiden OpenAI-Hugging Face menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk meningkatkan pertahanan siber. Ia bahkan membagikan daftar 10 langkah yang menurutnya perlu segera dilakukan oleh perusahaan sebagai pihak yang bertahan dari serangan siber.

"Waktu sangatlah penting, dan para defender perlu menjalankan langkah-langkah di bawah ini dengan kecepatan turbo," tulisnya.

Menurut Brockman, perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan keamanan siber konvensional ketika kemampuan AI berkembang semakin cepat.

Ia menilai organisasi harus mulai mengotomatisasi program keamanan mereka secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan agar tetap mampu menghadapi ancaman.

"Dalam beberapa bulan mendatang, setiap organisasi perlu mulai mengotomatisasi program keamanan mereka secara signifikan agar tetap aman, dan komunitas keamanan harus segera bangkit untuk menentukan perangkat, praktik, dan playbook yang akan meningkatkan kekuatan para defender lebih cepat daripada para attacker seiring AI terus berkembang," jelasnya.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Akselerasi AI Indonesia Hadapi Tantangan Data Silo, Solusinya?

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tekankan Penerapan ESG dan Pemanfaatan AI, BPK Dorong Transformasi & Peningkatan Tata Kelola Kemenkum
• 14 jam lalu
0
thumb
Menhut Ungkap 9 Kasus Karhutla Sudah Diproses, 4 Kasus dengan Tersangka
• 11 jam lalu
0
thumb
1,49 Juta Penerima Bansos Ditangguhkan, Gus Ipul: Jangan Digunakan untuk Main Judol
• 13 jam lalu
0
thumb
Mengenal Ratna Sari Dewi, Istri Soekarno yang Curi Perhatian saat Hadiri Upacara HUT RI ke-81 di Istana
• 19 jam lalu
0
thumb
IRSX Rancang Rights Issue Jumbo 12,39 Miliar Saham, Tunggu Restu RUPSLB
• 39 menit lalu
0
Berhasil disimpan.