Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Diproyeksi ke Rp17.860-Rp17.920

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Rupiah diproyeksi melemah akibat tekanan dari meningkatnya gejolak geopolitik dan tingginya harga minyak mentah dunia.

Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Diproyeksi ke Rp17.860-Rp17.920. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibayangi pada Rabu (19/8/2026) dipengaruhi memanasnya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik serta lonjakan beban devisa impor energi.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan dua sentimen tersebut dinilai menjadi pemicu utama yang menekan mata uang rupiah. Dia pun memproyeksi mata uang Garuda bergerak fluktuatif melemah pada rentang Rp17.860 hingga Rp17.920 per dolar AS untuk perdagangan besok.

Baca Juga:
Rupiah Hari Ini Ditutup Tak Bertenaga ke Rp17.877 per USD

Adapun rupiah ditutup di level Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (18/8/2026). Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sentimen negatif ganda dari eksternal dan internal sepanjang hari ini.

Ibrahim memaparkan bahwa eskalasi ketegangan antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang memicu kembalinya risiko inflasi energi global. Kondisi ini membuat para pelaku pasar bersikap defensif sembari menanti risalah pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan meluncur pekan ini.

Baca Juga:
Dolar AS Berpotensi Menguat, Rupiah Dibayangi Tekanan Eksternal Pekan Depan

Kondisi geopolitik global yang kembali memanas pasca-pernyataan kontroversial dari Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru di pasar energi dunia. Ketegangan ini memantik kekhawatiran meluasnya inflasi global yang berpotensi memaksa bank sentral mengambil langkah moneter ketat di sisa tahun berjalan. 

"Secara sentimen eksternal, harga minyak kembali memanas setelah Trump mengatakan AS tidak akan mengupayakan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran, yang berakhir hari Senin, bahkan mengancam akan membom Oman jika menghalangi, sehingga risiko inflasi energi membuat pasar menanti risalah FOMC Juli pada hari Rabu guna kejelasan kebijakan The Fed," urai Ibrahim dalam analisisnya, Selasa (18/8/2026).

Baca Juga:
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.862 Jelang Pengumuman BI Rate

Tekanan eksternal tersebut diperparah oleh melonjaknya harga minyak mentah di atas level US83 per barel yang secara langsung menguras cadangan devisa nasional karena kebutuhan impor energi yang tinggi. 

Pada saat yang sama, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal II 2026 juga tercatat merangkak naik ke posisi USD453,4 miliar atau setara Rp8.089,1 triliun, meningkat jika dibandingkan posisi Mei 2026 yang sebesar USD444,4 miliar atau setara Rp7.928,5 triliun.

Di sisi lain, posisi ULN pemerintah pada kuartal II-2026 tercatat sebesar USD216,3 miliar atau sekitar Rp3.860,4 triliun (tumbuh 2,9 persen yoy), melambat dari kuartal I 2026 yang tumbuh 3,8 persen (yoy). 

Kendati melambat, utang pemerintah yang terjaga ini ditopang oleh derasnya aliran masuk modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) yang merefleksikan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik.

Peningkatan harga minyak mentah internasional memberikan tekanan langsung terhadap neraca pembayaran dan cadangan devisa nasional. Ditambah lagi, beban finansial eksternal Indonesia menunjukkan tren kenaikan akibat penambahan porsi utang sektor publik.

"Secara sentimen internal, kenaikan harga minyak mentah di atas USD83 per barel meningkatkan beban devisa negara untuk impor energi karena lonjakan permintaan dolar AS menekan rupiah, ditambah catatan BI bahwa utang luar negeri (ULN) Indonesia triwulan II mencapai USD453,4 miliar atau tumbuh 4,4 persen secara tahunan," kata Ibrahim.

Di tengah fluktuasi rupiah, fokus pasar dalam negeri kini tertuju sepenuhnya pada jalannya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.

Keputusan BI mengenai arah suku bunga acuan (BI Rate) serta pandangan kepemimpinan Gubernur Perry Warjiyo mengenai stabilitas nilai tukar, inflasi, likuiditas, dan penyaluran kredit akan menjadi jangkar penentu nasib rupiah selanjutnya.

Fokus pasar dalam pekan ini tertuju penuh pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang tengah berlangsung sejak hari ini. Pelaku pasar menanti sinyal-sinyal kebijakan terbaru guna mengukur sejauh mana efektivitas intervensi penstabilan nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar finansial global.

"BI mulai menggelar RDG pada 18-19 Agustus 2026 dengan perkiraan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen setelah kenaikan agresif sepanjang April-Juni, dan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diproyeksikan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.860 hingga Rp17.920," ujar Ibrahim. (Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pabrik Mi di Mojokerto Terbakar Hebat, Api Diduga dari Ruang Produksi
• 13 jam lalu
0
thumb
[Foto] BEM UI Gelar Demo Tuntut Turunkan Harga Bahan Pokok dan Perbaikan Negara
• 6 jam lalu
0
thumb
Pendaki Remaja Jatuh ke Kawah Gunung Slamet Saat Swafoto
• 11 jam lalu
0
thumb
BEM UI Demo di Bundaran HI Hari Ini, Bawa 8 Tuntutan
• 17 jam lalu
0
thumb
Ternyata Ini Alasan Irish Bella & Haldy Sabri Jalani Program Bayi Tabung di Malaysia
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.