JAKARTA, KOMPAS - Debit air Sungai Barito di daerah hulu, di Kalimantan Tengah, menyusut akibat kemarau. Hal itu berdampak terhadap aktivitas masyarakat, khususnya dalam hal transportasi air. Mobilitas masyarakat dan pemenuhan kebutuhan kini lebih banyak mengandalkan jalur darat.
Barito merupakan salah satu sungai terpanjang di Kalimantan dan punya peran vital. Berhulu di Pegunungan Schwaner, sungai dengan panjang 890 kilometer (km) itu melintasi sejumlah kabupaten/kota di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel), sebelum akhirnya bermuara di Laut Jawa.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Utara, Mihrab Buanapati, Selasa (18/8/2026), mengatakan, ketinggian permukaan air di pelabuhan di Muara Teweh, ibu kota Barito Utara, saat ini berada di bawah 1 meter. Hal itu berdampak terhadap transportasi air. Dalam kondisi normal ketinggian permukaan airnya 5-11,5 meter.
“Kita punya alat ukur skala tinggi air, sudah di bawah 1 meter (0,6 meter) pagi ini. Dampaknya terhadap transportasi air untuk saat ini sama sekali tidak bisa. Transportasi air yang mengangkut penumpang. Kalau kapal yang besar jelas sudah tidak bisa,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Sedangkan untuk moda transportasi yang ukurannya lebih kecil, seperti klotok dan speedboat untuk tujuan sekitar Muara Teweh masih bisa beroperasi. Namun, untuk tujuan daerah lain yang lebih jauh, tidak memungkinkan dilakukan.
Sedangkan untuk jukung (perahu terkecil) masih bisa. Hanya saja jukung terbatas, tidak bisa menjangkau wilayah yang jauh, berjam-jam perjalanan. “Jukung yang ada mesinnya masih bisa diungkit saat kandas. Kalau klotok sudah tidak bisa, termasuk tongkang batubara, minyak, dan kayu sama sekali tidak bisa berlayar,” katanya.
Menurut Mihrab, kondisi ini telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir dan murni akibat kemarau. Tiga hari lalu sempat turun hujan namun hanya sebentar, membasahi tanah. Sedangkan hujan dengan intensitas tinggi (musim hujan) telah lama berakhir.
Walhasil, mobilitas dan pemenuhan kebutuhan kini dilakukan melalui jalan darat. Sejumlah kecamatan dan desa sudah bisa dijangkau melalui jalur darat. Jalan darat dari Muara Teweh ke Palangkaraya, ibu kota Kalteng, lancar. Begitu pula menuju Banjarmasin di Kalsel.
Selain Barito Utara, menurut Mihrab, kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Murung Raya yang lokasinya lebih ke hulu dan Barito Selatan yang lebih ke hilir. Mata air Barito berada di daerah Murung Raya, sedangkan Barito Selatan ada pengaruh pasang surut air laut.
“Sepertinya kali ini kemaraunya lebih kering. Kalau kemarau basah biasanya permukaan airnya bisa naik. Kalau ini lama turunnya. Bahkan di daerah Buntok, Barito Selatan, kabarnya warga bisa menyeberangi sungai dengan jalan kaki. Di sana juga terdampak,” tutur Mihrab, yang menambahkan jika masalah lain yang dihadapi saat ini adalah kabut asap.
Dihubungi secara terpisah melalui fitur pesan pribadi, Afrizal Farhi, salah satu warga Barito Selatan, membenarkan terkait penyusutan air Sungai Barito. Bahkan, menurut dia, penyusutan airnya tahun ini lebih parah dibanding tahun lalu. “Hujan hampir tidak ada dalam dua bulan terakhir,” katanya.
Menurut Afrizal, bagi warga yang bermukim di tepian Barito dan mengandalkan sungai untuk kehidupan sehari-hari, kehidupan mereka menjadi terkendala. Baik itu terkait transportasi air yang berhenti beroperasi maupun sumber daya yang biasa didapat dari sungai. Banyak ikan mati akibat kemarau.
“Namun, hal baiknya banyak wisatawan dari luar kota datang, bahkan bermalam di area sungai yang kering. Biasanya, kami menyebutnya gosong,” kata Afrizal, sembari menambahkan bahwa air bersih juga mulai susah akibat sumur mulai menyusut oleh kemarau.
Di media sosial, sejumlah warganet mengunggah kondisi Sungai Barito, tepatnya di bawah jembatan Kalahien, Barito Selatan, yang kondisinya surut. Dasar sungai yang biasanya berair itu mengering akibat kemarau. Tempat ini pun menjadi lokasi wisata dadakan.
Seperti sungai lainnya di Kalimantan, Barito memiliki peran penting bagi transportasi. Selain kapal penumpang, beragam kebutuhan dari Bajarmasin biasanya diangkut ke daerah lain menggunakan kapal. Begitu pula sebaliknya, beragam hasil pertanian hingga tambang diangkut melalui alur Barito.
Dihubungi secara terpisah, pengusaha pelayaran PT Zahra Bintang Samudera, Banjarmasin, Samsuddin, mengatakan, sejauh ini alur Barito di Kalsel masih aman untuk pelayaran rakyat (pelra). Kapal-kapal masih bisa melintasi alur untuk mengangkut beragam barang dari dan ke Pelabuhan Martapura Baru di Banjarmasin.
“Untuk pelra tidak ada pengaruh di Barito Kalsel. Kalau di Kalteng, saya kurang tahu. Pelra sampai 1.000 ton muatan kami, pupuk, semen, tidak ada pengaruh. Alur Barito masih aman. Satu-satunya jalan lewat Barito, lewat alur. Sejauh ini tongkang juga tidak masalah saya lihat,” katanya.
Transportasi yang terganggu dan tidak bisa berlayar, kata Samsuddin, adalah pelra. Pelra untuk sementara waktu tidak bisa berlayar di Selat Jawa lantaran gelombang tinggi. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) tidak memberikan izin berlayar sementara waktu. Samsuddin pun terus memantau perkembangan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
“Kapal dari Gresik, Surabaya, dan daerah lain atau sebaliknya tidak bisa berlayar karena ombak besar. Saya lihat di BMKG sampai tujuh hari ke depan gelombang masih besar, sekitar 2 meteran. Untuk pelra masih belum aman,” ucapnya.
Menurut Samsuddin, kondisi ini telah berlangsung sejak satu bulan terakhir. Dampaknya, stok barang dan kebutuhan pokok di daerah yang disuplai menggunakan pelra terus berkurang. Kecuali, barang tersebut diangkut menggunakan kapal jenis roll on roll off (Roro) masih aman menyeberang dari Jawa ke Kalimantan.
“Tapi kan banyak yang memakai pelra, karena pelra bianyanya lebih murah. Pupuk-pupuk dan semen, kan, ton-tonan. Kapasitas muatan pelra bisa sampai 1.000-1.300 ton,” katanya.






Komentar (0)