Pasar landed housing atau rumah tapak masih menunjukkan daya tarik yang kuat hingga semester I 2026.
Head of Research JLL Indonesia & Heads of Insights & Advisory, James Taylor, mengatakan permintaan paling tinggi tercatat di kawasan yang memiliki akses jalan dan transportasi yang baik, serta dilengkapi fasilitas seperti pusat perbelanjaan dan sekolah.
Saat ini, terdapat sekitar 40.000 unit rumah tapak yang dipasarkan di berbagai kawasan hunian atau township. Sebanyak 3.500 unit di antaranya diluncurkan pada kuartal II.
“Tingkat penjualan rumah tapak mencapai 90 persen. Mungkin itu angka yang perlu kita fokuskan. Untuk [penjualan] kondominium, angkanya mencapai 82 persen,” ucap James dalam gelaran media briefing di kantor JLL, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8).
Sementara itu Head of Growth & Head of Strategic Consulting JLL Indonesia, Vivin Harsanto, mengatakan rumah tapak dinilai sebagai salah satu segmen properti yang relatif resilien atau tahan terhadap perubahan siklus pasar.
Vivin juga menyatakan terdapat perubahan preferensi pembeli terhadap tipe hunian. Permintaan terhadap unit dengan 3-4 kamar mulai meningkat seiring dengan semakin lengkapnya fasilitas di kawasan township.
“Para pengembang tampaknya telah mendorong pembangunan fasilitas komersial, fasilitas publik, rumah sakit, sekolah, dan sebagainya. Bagi keluarga muda, kawasan seperti ini cukup nyaman untuk ditinggali,” jelas Vivin.
Selain kelengkapan fasilitas, konektivitas kawasan township juga menjadi faktor yang mendorong perubahan preferensi pembeli.
“Untuk saat ini, unit dengan tiga hingga empat kamar, khususnya dua hingga empat kamar, cukup populer,” sebut Vivin.
Berdasarkan data riset JLL, sepanjang semester I 2026, peluncuran unit baru rumah tapak tercatat mencapai sekitar 3.500 unit. Sementara itu total permintaan pasar mencapai sekitar 3.900 unit.
Jika pada semester I 2025 rumah tipe 3 kamar tidur mendominasi pasar dengan porsi permintaan sebesar 39 persen, pada semester I 2026 tren tersebut bergeser ke tipe 4 kamar tidur yang kini menjadi incaran utama.
Tingkat Penjualan Kondominium Capai 82%Di sisi lain, pasar kondominium di Jakarta menunjukkan dinamika yang berbeda dengan rumah tapak. Pada kuartal II, penjualan kondominium tercatat sedikit di atas 100 unit, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.
“Menariknya, dalam beberapa waktu terakhir, kami melihat permintaan kondominium paling kuat berasal dari proyek-proyek yang sudah selesai atau hampir selesai dibangun,” ucap James.
Namun menurut James, pada kuartal II permintaan justru didorong oleh peluncuran proyek-proyek baru. Dua proyek baru yang diluncurkan pada periode tersebut mencatatkan permintaan yang cukup kuat.
“Proyek-proyek tersebut dikembangkan oleh pengembang dengan reputasi yang kuat dan memiliki basis data pelanggan yang besar, termasuk pembeli lama yang loyal. Oleh karena itu, proyek-proyek baru yang diluncurkan pada kuartal ini mencatatkan penjualan yang cukup solid,” jelas James.
Dari sisi pasokan, kuartal II juga mencatat peluncuran proyek baru dalam jumlah cukup besar, yakni lebih dari 330 unit. Dengan demikian, jumlah peluncuran proyek baru pada semester I 2026 menjadi yang tertinggi dibandingkan periode semester pertama sejak 2020.
Dari total unit yang saat ini dipasarkan, Jakarta Selatan masih mendominasi dengan hampir separuh unit kondominium berada di kawasan tersebut. Sementara itu, pasokan di wilayah lainnya relatif terbagi secara merata.
“Unit kelas menengah dan kelas bawah yang relatif terjangkau mendominasi pasar. Hanya sekitar 10 persen yang merupakan produk kelas premium,” sebutnya.
Dari sisi harga, pasar kondominium secara umum masih relatif stabil. Meski demikian, terdapat sedikit kenaikan harga pada segmen kelas atas dan mewah. Pembeli pada segmen tersebut dinilai cenderung tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga dibandingkan pembeli unit dengan harga yang lebih terjangkau.
“Semua hal tersebut terlihat dari tingkat penjualan secara keseluruhan di sektor kondominium yang berada di sekitar 82 persen,” tutup James.






Komentar (0)