JAYAPURA, KOMPAS.com - Matahari di atas kepala warga perbatasan Indonesia-Papua Nugini, lapangan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw perlahan ditinggalkan peserta upacara.
Satu per satu mereka membubarkan diri setelah mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia di perbatasan negara di pojok paling timur Kota Jayapura, Papua, Senin (17/8/2026).
Sebagian langsung meninggalkan kawasan PLBN, sebagian lainnya bergerak menuju halaman depan, tempat berbagai perlombaan 17 Agustus digelar.
Baca juga: Kemeriahan Lomba 17-an di PLBN Skouw, Perbatasan RI-Papua Nugini
Namun, di salah satu sisi gedung PLBN, aktivitas belum berhenti. Sejumlah warga dan pekerja justru mengantre untuk ikut serta melakukan pemeriksaan kesehatan.
Di depan dua meja, sejumlah peserta tes kesehatan terlihat mengisi data sebelum menjalani pemeriksaan. Dua petugas melayani pengecekan tekanan darah.
Di ruangan di belakangnya, lima tenaga kesehatan juga masih melayani peserta pemeriksaan kesehatan lainnya.
Secara umum saya melihat ada lima perempuan tenaga kesehatan dan dua laki-laki yang sedang bertugas.
Baca juga: Arak-arakan Budaya di PLBN Skouw pada HUT RI, Anak-anak Berhias Baju Adat
Di tengah kesibukan itu, ada tenaga kesehatan yang memang setiap hari bertugas di kawasan perbatasan.
Mereka adalah dr Rina Kristanti Pangaribuan dan Maya Wijayanti Purba dari Balai Karantina Kesehatan Wilayah Kerja PLBN Skouw.
Rina sudah sekitar satu tahun satu bertugas di Skouw. Bu Dokter yang lahir dan besar di Papua itu sebelumnya bekerja sebagai tenaga kontrak di sebuah BUMN sebelum mengikuti penerimaan CPNS dan kemudian ditempatkan di Skouw.
Sementara Maya telah menjadi pegawai Balai Karantina sejak 2012. Ia pernah bertugas di sejumlah wilayah kerja Balai Karantina Kesehatan Jayapura, termasuk Sarmi dan Wamena, sebelum akhirnya ke PLBN Skouw.
Baca juga: Melintasi Jembatan Merah, Menuju Beranda Indonesia di Ujung Timur Jayapura
Kini, Maya yang merupakan ASN dari Kementerian Kesehatan RI ini menjadi Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Wilayah Kerja Skouw.
Bagi Maya yang bergelar Magister Kesehatan Masyarakat bidang Kesehatan Lingungan dari UGM ini, bekerja di perbatasan membuatnya harus menyesuaikan kehidupan sehari-hari dengan jarak.
Rumahnya berada di Sentani, sekitar dua jam perjalanan dari PLBN Skouw.
Awalnya ia sempat pulang-pergi. Namun, perjalanan sekitar empat jam pulang-pergi dalam sehari membuatnya memilih tinggal di klinik.






Komentar (0)