Jelang RDG Agustus 2026, Pasar Nantikan Arah Kebijakan BI

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang pasar saat ini menantikan arah komunikasi kebijakan Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026 setelah serangkaian kebijakan yang ditempuh dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut dia, fase kebijakan moneter Indonesia saat ini telah memasuki babak yang berbeda. Setelah kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin (bps) sejak Mei dan berbagai langkah untuk menarik arus modal asing, pasar kini mulai mencari petunjuk mengenai tahap berikutnya dari strategi Bank Indonesia.

“Menurut kami, fokus pasar pada RDG Agustus bukan lagi sekadar apakah BI-Rate naik atau ditahan. Yang lebih penting adalah bagaimana Bank Indonesia menjelaskan langkah berikutnya setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir,” kata Fakhrul dalam keterangannya dilansir dari Antara di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.

Lebih lanjut, Fakhrul menjelaskan empat isu utama yang akan dicermati pelaku pasar, salah satunya sinyal normalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan operasi moneter.

Dalam beberapa bulan terakhir SRBI menjadi instrumen utama dalam menarik kembali arus modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Namun seiring membaiknya kondisi pasar keuangan, investor mulai mencari petunjuk kapan dan bagaimana proses normalisasi instrumen tersebut akan dilakukan.

“Pasar ingin mengetahui apakah Bank Indonesia mulai melihat ruang untuk bertransisi dari fase menarik likuiditas menuju fase normalisasi likuiditas. Ini penting karena akan memengaruhi perbankan, pasar obligasi, dan biaya pendanaan secara keseluruhan,” kata Fakhrul.

Baca Juga :

BI Catat Utang Luar Negeri RI USD453,4 Miliar hingga Kuartal II 2026

(Ilustrasi. MI/Susanto) Langkah BI terkait nilai tukar rupiah Isu kedua yakni pandangan Bank Indonesia terhadap nilai tukar rupiah. Menurut Fakhrul, rupiah saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih stabil dibandingkan periode tekanan pada kuartal kedua lalu, namun lingkungan global masih menyimpan sejumlah risiko, mulai dari tingginya imbal hasil (yield) US Treasury hingga ketidakpastian geopolitik dan harga energi.

“Pasar akan membaca dengan sangat hati-hati bagaimana Bank Indonesia menggambarkan kondisi rupiah saat ini. Apakah fokus utama masih mempertahankan stabilitas nilai tukar atau mulai bergeser untuk mendukung pemulihan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Isu ketiga, apakah menarik capital inflow masih menjadi prioritas utama. Selama beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia secara eksplisit menjadikan masuknya modal asing sebagai bagian penting dari strategi stabilisasi rupiah. Berbagai insentif telah diperkenalkan untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.

Menurut Fakhrul, pertanyaan penting bagi investor adalah apakah fokus tersebut masih akan dipertahankan atau mulai bergeser ke isu pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi domestik.

“Fase pertama adalah mendapatkan kembali kepercayaan investor global. Fase berikutnya adalah memastikan likuiditas tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” katanya.

Isu keempat, bagaimana BI membaca kondisi likuiditas perbankan. Dalam beberapa minggu terakhir pemerintah dan otoritas telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang bertujuan memperkuat likuiditas sistem perbankan dan mendorong penyaluran kredit.

Karena itu, pelaku pasar akan memperhatikan apakah Bank Indonesia mulai melihat ruang untuk mengurangi tekanan likuiditas yang selama ini menjadi konsekuensi dari strategi stabilisasi rupiah. Respons kebijakan atas kondisi global Dari sisi global, RDG BI periode Agustus juga berlangsung di tengah kondisi yang tidak sederhana. Data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan harga yang mulai mereda, sementara pasar semakin meyakini Federal Reserve akan menahan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Namun pada saat yang sama, yield obligasi pemerintah AS jangka panjang tetap tinggi sehingga biaya modal global belum benar-benar turun.

Sementara itu, perlambatan ekonomi Tiongkok semakin terlihat melalui lemahnya permintaan kredit, konsumsi rumah tangga, dan investasi domestik. Kondisi itu berpotensi memengaruhi prospek ekspor dan harga komoditas yang menjadi penopang penting perekonomian Indonesia.

Dalam situasi tersebut, Fakhrul menilai komunikasi Bank Indonesia akan menjadi sama pentingnya dengan keputusan kebijakan itu sendiri.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Awas Share Screen di Zoom HP Kena Bajak, Kenali Tandanya
• 5 jam lalu
0
thumb
Layanan Pemulihan Trauma dan Perpustakaan Disediakan untuk Anak Korban Gempa NTT
• 57 menit lalu
0
thumb
Jelang Demo BEM UI, Lalu Lintas Sekitar Bundaran HI Jakpus Masih Ramai Lancar
• 3 jam lalu
0
thumb
Berangsur Pulih, Freeport Targetkan Produksi 75% di Semester I-2027
• 3 jam lalu
0
thumb
Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2026 Dibuka Hari Ini, Cek Link SSCASN BKN dan Jadwal Lengkapnya
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.