Ringkasan Berita:
- Warga Desa Rebono, Wonorejo, Pasuruan, menamai jembatan bambu yang melintasi Sungai Glendangan sebagai “Shirotol Mustaqim”.
- Nama tersebut menjadi satire dan sindiran warga karena jembatan yang menghubungkan dua dusun belum dibangun secara permanen.
- Jembatan menjadi akses penting bagi warga, termasuk anak-anak sekolah dari Dusun Asem Jajar dan Rebono Barat.
- Warga berharap pemerintah desa dan Pemkab Pasuruan membangun jembatan permanen agar akses lebih aman.
Pasuruan (beritajatim.com) – Ada sindiran di balik nama “Jembatan Akhirat Shirotol Mustaqim” di Desa Rebono, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan. Warga memberikan nama tersebut kepada jembatan bambu yang melintasi Sungai Glendangan sebagai bentuk satire atas kondisi akses penghubung antardusun yang hingga kini belum dibangun secara permanen.
Jembatan tersebut menghubungkan Dusun Rebono Barat dengan Dusun Asem Jajar. Meski hanya berupa konstruksi bambu, akses ini digunakan warga untuk menunjang mobilitas sehari-hari, termasuk anak-anak yang pergi sekolah dan mengaji.
Nama “Shirotol Mustaqim” sengaja dipilih karena warga menilai melintasi jembatan bambu tersebut membutuhkan kehati-hatian. Kondisinya yang sederhana dan rentan rusak membuat perjalanan melintasi sungai terasa seperti mempertaruhkan keselamatan.
Bagi warga, nama tersebut sekaligus menjadi cara menyampaikan kekecewaan terhadap minimnya perhatian pemerintah desa terhadap kebutuhan infrastruktur vital masyarakat.
“Jembatan ini sangat penting, khususnya akses anak-anak sekolah dari Dusun Asem Jajar untuk pergi sekolah ke Dusun Rebono Barat dan sorenya anak-anak Rebono Barat melintas untuk ngaji ke Asem Jajar. Meskipun bukan akses satu-satunya, warga dan anak sekolah lebih sering memilih melewati jalur ini karena jaraknya jauh lebih dekat dan efektif,” ujar warga setempat, Rohasi.
Menurut Rohasi, jembatan tersebut menjadi salah satu tumpuan mobilitas ratusan kepala keluarga di Dusun Asem Jajar dan Rebono Barat. Jalur tersebut dipilih karena lebih dekat dibandingkan akses lain yang tersedia.
Sebelum jembatan bambu dibangun secara swadaya, warga dan anak-anak sekolah harus menyeberangi dasar Sungai Glendangan. Kondisi sungai yang curam membuat akses tersebut semakin berbahaya, terutama ketika debit air meningkat saat musim hujan.
Warga lainnya, Aripin, mengatakan jembatan yang dibangun menggunakan material bambu tersebut belum berusia dua tahun. Namun, struktur jembatan sudah beberapa kali diperbaiki secara swadaya karena materialnya cepat mengalami kerusakan.
“Material jembatan ini semuanya terbuat dari bambu, jadi cepat sekali rusak dan belum ada dua tahun dibangun tapi sudah beberapa kali perbaikan swadaya. Selain untuk akses ratusan kepala keluarga Dusun Asem Jajar, jembatan ini sebenarnya juga menjadi jalan alternatif menuju Desa Candi Rubuh di Kecamatan Rembang,” jelas warga setempat lainnya, Aripin.
Warga harus kembali bergotong royong setiap kali bagian jembatan mulai lapuk atau rapuh. Mereka patungan untuk membeli bambu dan material lain yang diperlukan agar akses tersebut tetap bisa digunakan.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan warga memilih nama “Shirotol Mustaqim”. Nama tersebut tidak hanya menggambarkan kondisi jembatan yang dinilai berbahaya, tetapi juga menjadi bentuk sindiran agar pemerintah desa memperhatikan kebutuhan masyarakat terhadap jembatan permanen.
“Setiap kali struktur bambu ini mulai lapuk atau rapuh, kami antarwarga harus patungan lagi untuk membeli material bambu pengganti agar anak-anak tetap bisa bersekolah. Cara unik menamai jembatan ini merupakan bentuk luapan kekecewaan kami karena fasilitas fisik desa yang sangat dibutuhkan masyarakat seolah diabaikan,” kata Rohasi menegaskan.
Bagi warga, keberadaan jembatan tersebut memiliki fungsi penting. Selain menjadi akses antara Dusun Rebono Barat dan Dusun Asem Jajar, jembatan itu juga menjadi jalur alternatif menuju Desa Candi Rubuh di Kecamatan Rembang.
Karena itu, warga berharap satire melalui nama “Jembatan Akhirat Shirotol Mustaqim” dapat menjadi perhatian pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Pasuruan.
Warga tidak ingin akses penting tersebut terus bergantung pada konstruksi bambu dan perbaikan swadaya. Mereka berharap jembatan permanen segera dibangun sehingga masyarakat, khususnya anak-anak yang menggunakannya setiap hari, dapat melintasi Sungai Glendangan dengan lebih aman.
Bagi warga Rebono, nama “Shirotol Mustaqim” pada akhirnya bukan sekadar nama unik. Di baliknya terdapat kritik terhadap kondisi infrastruktur sekaligus harapan agar pemerintah segera menghadirkan jembatan yang lebih layak dan aman bagi masyarakat. [ada/beq]





Komentar (0)