BI Ungkap Utang Luar Negeri Indonesia Naik 4,4 Persen Kuartal II-2026 Jadi US$453,4 Miliar Gegara Ini

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta,VIVA – Bank Indonesia mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan atau kuartal II-2026 naik 4,4 persen secara tahunan menjadi sebesar US$453,4 miliar. Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, ULN publik tetap terjaga. Sementara itu posisi ULN pemerintah pada triwulan II-2026 tercatat sebesar US$216,3 miliar atau tumbuh 2,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I-2026 sebesar 3,8% (yoy).

Baca Juga :
Rupiah Melemah ke Rp 17.847 Meski BI Tetap Intervensi Pasar NDF Jelang Pengumuman BI Rate
Gelar FERBI 2026, BI Ajak Masyarakat Jaga Kedaulatan Rupiah Agar Makin Bermartabat di Mata Dunia

"Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,6% pada triwulan II 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 82,1% dari total ULN," ujar Ramdan dikutip dari keterangannya, Selasa, 18 Agustus 2026. 

Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang terjaga. Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal.

Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,6%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,5%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%).

"Posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali mengingat hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang," tambahnya.

Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak ketidakpastian global yang kembali meningkat.

Baca Juga :
QRIS Makin Murah! Mulai Oktober 2026, MDR 0 Persen Berlaku untuk Transaksi hingga Rp100 Ribu
Luncurkan Kartu Kredit Indonesia, BI Sediakan Fasilitas Kredit Pembayaran Bagi Nasabah Ritel
BI Beri Hadiah ke Pedagang Pengguna QRIS di HUT RI Ke-81, Simak Keuntungannya

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Subsidi Energi dan Nonenergi pada 2027 Dianggarkan Rp 387,9 Triliun
• 1 jam lalu
0
thumb
Prakiraan Cuaca Hari Ini: Jakarta Berawan, Semarang Cerah
• 9 jam lalu
0
thumb
OJK Perkuat Sektor Jasa Keuangan, Tiga Amanah Strategis Jadi Fokus di HUT ke-81 RI
• 10 jam lalu
0
thumb
Momen Bobby Kertanegara Ikut Upacara Penurunan Bendera HUT RI di Istana
• 22 jam lalu
0
thumb
Dirut Bulog pastikan stok pangan NTT aman dukung pemulihan pascagempa
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.