Puisi-puisi Wiji Thukul dan Perjuangan Melawan Fasisme

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Karena puisinya, Wiji Thukul berhadapan dengan tentara. Karena puisinya pula, Wiji Thukul akhirnya tak diketahui rimbanya. Sampai sekarang.

Direktur Migrant Care Wahyu Susilo menuturkan, Wiji Thukul akhirnya berhadapan dengan tentara pada Agustus 1982. Saat itu, dalam sebuah acara, Wiji Thukul membacakan puisinya berjudul ”Puisi Kemerdekaan”.

”Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai…”.

”Setelah itu, dia diseret ke koramil dan sejak itu dia selalu berhadapan dengan represi tentara,” tutur Wahyu.

Wahyu menyampaikan kisah itu dalam acara Pembukaan Pameran Arsip Wiji Thukul di Jakarta, Minggu (16/8/2026). Acara itu diselenggarakan oleh Persaudaran Ikatan Kemanusiaan untuk Orang Hilang (Ikohi) bersama Migrant Care dan Makarya. Pameran berlangsung mulai 16 Agustus sampai 6 September 2026 di Ruang Tamu dan Teras Makarya, Gramedia Matraman, Jakarta Timur.

Bagi Wahyu, lokasi pameran tersebut memiliki arti tersendiri. Sebab, di situlah ia terakhir kali bertemu dengan Wiji Thukul secara fisik. Pertemuan itu terjadi sekitar Oktober 1997. ”Setelah dia buron sekitar hampir setahun berada di Kalimantan, setelah peristiwa 27 Juli 1996,” ungkapnya.

Bulan Agustus juga merupakan bulan kelahiran Wiji Thukul, tepatnya pada 26 Agustus. Sebagai seorang penyair, puisi-puisi Wiji Thukul banyak yang memuat gugatan tentang makna dan arti kemerdekaan.

Melalui pameran itu, kata Wahyu, pihaknya mengundang rekan dan sahabat Wiji Thukul untuk mendokumentasikan ulang arsip-arsip terkait Wiji Thukul. Selama ini, arsip Wiji Thukul relatif minim, terutama semenjak penggeledahan yang dilakukan polisi pada Agustus 1996. Padahal, saat itu Wiji Thukul memiliki berbagai tulisan, buku, sampai beragam kaset. Sayangnya, barang-barang itu tidak pernah dikembalikan sampai sekarang.

Baca JugaDemo Agustus, Penganiayaan, dan Orang Hilang 

Beberapa yang dipamerkan pada kegiatan itu adalah berbagai buku yang merupakan kumpulan puisi karya Wiji Thukul, dokumentasi foto semasa hidup, hingga berbagai buku yang dibuat untuk mengenang dirinya. Selain itu, siapa pun diperbolehkan untuk membacakan puisi-puisi karya Wiji Thukul.

Pada kesempatan itu, pemikir kebinekaan, Sukidi, menyampaikan orasi berjudul ”Merdeka dari Fasisme”. Orasi yang disampaikannya menjelang Hari Ulang Tahun Ke-81 Republik Indonesia.

”Peringatan Kemerdekaan Ke-81 RI pada 17 Agustus 2026 sepantasnya dimaknai sebagai satu panggilan, seruan, kepada jiwa yang merdeka untuk kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan fasisme,” ujar Sukidi.

Menurut Sukidi, Wiji Thukul adalah inspirasi, model suatu perjuangan melawan fasisme. ”Ia terkenal dengan satu kata, lawan. Pada momen ini saya menambahkan menjadi dua kata, lawan fasisme,” tegas Sukidi.

Ciri-ciri fasisme

Untuk melawan fasisme, kata Sukidi, diperlukan panduan yang berisi delapan pokok. Panduan itu diperlukan untuk mengenali ciri fasisme. Ciri yang pertama adalah fasisme ditopang oleh militerisme.

Pokok berikutnya, fasisme bekerja melalui tirani yang merupakan akumulasi dari eksekutif, yudikatif, dan legislatif ke tangan satu orang atau segelintir orang. Selanjutnya, fasisme ditandai dengan propaganda. Propaganda merupakan senjata politik yang paling ampuh untuk melakukan teror, intimidasi, dan politik ketakutan.

Fasisme, kata Sukidi, juga bekerja melalui politik pembelahan atau politik polarisasi. Selain itu, fasisme bersifat anti-intelektualisme. Fasisme tidak senang pada mereka yang berpikir kritis dan mereka yang mampu memverifikasi kebohongan demi kebohongan yang diproduksi oleh fasisme.

Baca JugaIndonesia yang Antifasis

Sebagai konsekuensi dari sikap anti-intelektualisme itu, maka fasisme akan menciptakan tradisi kultus. Tradisi kultus membuat akal sehat mati, pikiran rasional menjadi lumpuh, dan membuat rakyat hanya diajarkan patuh kepada pemimpin.

”Kultur kultus ini selalu diiringi dengan satu kebiasaan untuk memuji dan menjilat penguasa karena penguasa fasis sangat tidak suka dikritik dan memang antikritik. Karena itu kebalikan dari tradisi berpikir kritis adalah tradisi kultus, tradisi menjilat kepada kekuasaan,” kata Sukidi.

Selain membuat tradisi kultus, fasisme juga menumbuhkan teknofasisme, yakni menggunakan instrumen teknologi, media sosial, algoritma, untuk bekerja demi menopang kekuasaan yang fasis. Melalui teknofasisme, suara kritis terhadap kekuasaan akan diserang secara brutal.

Baca JugaMeramalkan Kepenyairan Wiji Thukul

Terakhir, fasisme bekerja melalui politik pascakebenaran. Karena tidak menyukai kebenaran, fasisme akan menciptakan dunia tandingan yang tidak bisa diverifikasi sesuai kebenaran aktual.

”Wiji Thukul adalah inspirasi, model perjuangan melawan fasisme. Saya tidak pernah terbayang bahwa Wiji Thukul justru sudah akrab dengan kosakata fasisme. Dia bahkan mengalami menjadi korban dari fasisme. Kata Wiji Thukul, kamu tidak akan mengenal fasisme sebelum sepatu tentara menempel di jidat,” ujar Sukidi.

Oleh karena itu, Sukidi mengajak publik untuk belajar dari Wiji Thukul mengenai semangatnya untuk melawan fasisme. Sukidi pun mengingatkan kepada pers untuk bersuara kritis terhadap kekuasaan.

Baca JugaSuara Wiji Thukul Bergema Melintasi Waktu

Sukidi meyakini bahwa fasisme bisa dikalahkan. ”Terbukti otoritarianisme Orde Baru jatuh justru dengan keberanian Wiji Thukul,” kata Sukidi.

Dalam acara tersebut, setiap peserta diberi setangkai mawar putih dan secarik kertas berisi penggalan puisi Wiji Thukul. Katanya, ”Kau tak bisa mendengarkan aku, karena kau terus berbicara, berbicara dan berbicara dengan mulut senapan”.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kapal Pekerja Migran Karam di Riau: Dua Korban Ditemukan Tewas, Satu Masih Hilang
• 13 jam lalu
0
thumb
Penyerang PSG Sepakat Gabung Liverpool, Kontrak Lima Tahun
• 3 jam lalu
0
thumb
Viral Sopir Travel Pukul Wakapolsek Samarinda Ulu Saat Bantu Pemotor Terjepit
• 3 jam lalu
0
thumb
Relawan PMI Keliling Titik Pengungsi Gempa NTT, Sebar Informasi soal RS Lapangan
• 22 jam lalu
0
thumb
Trump Puji Pakta Pertahanan Makkah, Sebut Arab Saudi-Turki-Pakistan Makin Kuat
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.