Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni membawa pesan tentang pentingnya peran masyarakat adat dalam menjaga kelestarian hutan saat menghadiri Upacara Penurunan Bendera Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).
Raja Antoni tampil mengenakan pakaian adat Kajang dari Sulawesi Selatan. Busana serba hitam yang dikenakannya bukan sekadar pilihan untuk memeriahkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga menjadi simbol masyarakat adat yang dinilai memiliki tradisi kuat dalam menjaga hutan.
“Ini baju Suku Kajang, Sulawesi Selatan. Salah satu masyarakat adat yang paling memiliki kemampuan menjaga hutan the best guardian of our tropical forest, menjaga hutan tropis kita,” kata Menhut Raja Antoni di Istana Merdeka, dikutip Selasa (18/8/2026).
Raja Antoni hadir bersama sang istri, Nurlaili Raja Antoni, yang turut mengenakan pakaian adat Kajang. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki hadir bersama istrinya, Gina Rohmat Marzuki, dengan mengenakan pakaian adat Batak.
Pilihan pakaian adat Kajang menjadi sorotan karena masyarakat adat Kajang dikenal memiliki hubungan erat dengan alam dan hutan.
Tradisi mereka menempatkan kesederhanaan serta keseimbangan dengan lingkungan sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Warna hitam yang mendominasi pakaian adat Kajang juga tidak lepas dari filosofi kehidupan masyarakatnya. Kesederhanaan menjadi salah satu nilai yang tercermin dalam cara berpakaian maupun kehidupan mereka.
Nilai tersebut berkaitan dengan falsafah kamase-mase, yang menekankan kehidupan secukupnya, sederhana, dan selaras dengan alam. Prinsip tersebut turut menjadi bagian dari cara masyarakat Kajang berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Bagi Kementerian Kehutanan, praktik masyarakat adat seperti Kajang menunjukkan bahwa perlindungan hutan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah.
Pengetahuan lokal dan praktik konservasi yang diwariskan lintas generasi juga memiliki peran penting dalam mempertahankan ekosistem hutan.
Pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi yang berlangsung pada pagi hari, ia bersama sang istri mengenakan pakaian adat Alor dari Nusa Tenggara Timur.
Sementara pada Upacara Penurunan Bendera, Raja Antoni berganti mengenakan pakaian adat Kajang dari Sulawesi Selatan. Dua busana dari wilayah berbeda tersebut sekaligus membawa identitas budaya Nusantara ke tengah perayaan kenegaraan. (agr/nsi)





Komentar (0)