"Parricide" dan Jalan Panjang Kekerasan Domestik

kompas.com
20 jam lalu
Cover Berita

DUGAAN pembunuhan seorang ibu oleh anak kandungnya di Kuningan, Jawa Barat, pada awal Agustus lalu menambah daftar kekerasan fatal di dalam keluarga.

Pembunuhan ibu atau ayah oleh anak kandung dikenal sebagai parricide.

Keterangan awal kepolisian menyebut pelaku, seorang laki-laki berusia 38 tahun, mengaku kesal karena dibangunkan untuk salat Subuh oleh ibunya.

Namun, alasan yang muncul di permukaan tidak cukup menjelaskan kekerasan fatal dalam keluarga.

Ia perlu dibaca bersama konflik yang mungkin menumpuk, relasi memburuk, serta kegagalan memperoleh pertolongan sebelum kekerasan terjadi.

Kasus Kuningan bukan satu-satunya. Sepanjang 2026, dugaan pembunuhan ibu oleh anak kandung juga terjadi di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat; Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur; dan Kota Bitung, Sulawesi Utara. 

Dalam pemberitaan, penolakan permintaan uang, pertengkaran, dan teguran sehari-hari muncul sebagai alasan awal.

Kesamaannya bukan pada motif, melainkan pada tempatnya: rumah—ruang relasi keluarga berlangsung paling dekat, tetapi sering kali luput dari perhatian orang lain.

Parricide memang jarang terjadi, tetapi tidak dapat dipahami melalui satu profil pelaku atau satu jenis motif.

Studi Samantha Bricknell dan Hannah Miles di Australian Institute of Criminology mencatat 429 kasus parricide di Australia sepanjang 1989–90 hingga 2023–24, atau rata-rata 12 kejadian per tahun.

Parricide mencakup sekitar 5 persen dari seluruh pembunuhan di Australia.

Baca juga: Siapa Mau Jadi ASN?

Meski angka pembunuhan secara umum menurun, jumlah kasus parricide cenderung tetap stabil.

Studi tersebut juga memperlihatkan pola yang tidak tunggal. Pelaku didominasi laki-laki, sementara jumlah korban ayah atau ibu relatif berimbang.

Anak laki-laki lebih sering membunuh ayah, sedangkan anak perempuan lebih sering membunuh ibu.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Pada pelaku laki-laki, perselisihan domestik merupakan latar yang paling banyak tercatat, disusul konflik uang dalam proporsi lebih kecil; hampir seperlima pelaku laki-laki mengalami delusi ketika pembunuhan terjadi. 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Soal Imbauan WFA dan PJJ, Pramono: Arahan Pusat Bukan Antisipasi Demo
• 18 jam lalu
0
thumb
Anies Dinilai Terlalu Bersih untuk Berpasangan dengan Gibran
• 16 jam lalu
0
thumb
Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Perang Melawan Korupsi Tidak Boleh Kehilangan Pijakan Konstitusional
• 5 jam lalu
0
thumb
Cantik Maksimal, Intip Gaya Maia Estianty saat Hadiri Perayaan HUT RI ke-81 di Istana Merdeka, Anggun Pakai Kebaya Merah
• 9 jam lalu
0
thumb
Usai Demo, Mahasiswa UI Ungkap Kekhawatiran Pada Pemerintahan Presiden Prabowo
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.