Mendorong Sains yang Berdampak

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain penting dalam perkembangan sains dan teknologi dunia. Kekayaan biodiversitas, keragaman sosial, dan budaya, serta kondisi demografi menjadi keunggulan yang dapat dikembangkan melalui teknologi seperti akal imitasi (artificial intelligence/AI), robotika, nuklir, dan kuantum.

Namun, hubungan antara riset, industri, pemerintah, dan kebutuhan masyarakat dinilai belum cukup kuat. Industri yang membutuhkan talenta sains juga masih terbatas. Guru Besar Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Yudi Darma menilai, Indonesia perlu membangun ekosistem yang memungkinkan riset menghasilkan manfaat nyata, bukan sekadar menambah jumlah lulusan, riset, atau paten.

Kepada Kompas di Jakarta, Rabu (12/8/2026), Yudi yang juga menjabat Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) turut berbicara mengenai mobilitas talenta, keterlibatan masyarakat dalam sains, hingga risiko ketergantungan pada AI terhadap kemampuan berpikir manusia.

Berikut petikan wawancaranya.

Menurut Anda, pada bidang apa Indonesia memiliki posisi kompetitif secara global?

Kalau melihat potensi Indonesia, setidaknya ada dua hal yang saya lihat bisa menjadi flagship kita. Pertama, tentang kehidupan sosial kita. Keberagaman kita, bahasa, dan budaya kita sangat kuat.

Satu lagi adalah biodiversitas atau kekayaan alam kita. Indonesia masih jadi salah satu yang terkaya sekarang. Saya baru saja mendengar ulasan tentang Ekspedisi Snellius yang mengukur kedalaman Laut Banda.

Ternyata, kita punya potensi kekayaan alam, terutama kehidupan laut dalam, yang tidak dimiliki orang lain. Definisi ”hidup” di kedalaman 7 kilometer itu berbeda; dengan cahaya terbatas, tekanan tinggi, dan oksigen sedikit, ternyata ada biota laut di sana. Bisa jadi hanya Indonesia yang punya itu.

Namun, jika ingin tahu bidang apa yang akan mengubah dunia nanti, mungkin jawabannya adalah ilmu dan teknologi kuantum. Sekarang, banyak negara sedang mengarah ke sana. Kemajuan teknologi di bidang AI, robotika, dan lainnya, semuanya dapat dipengaruhi oleh teknologi kuantum.

Apa yang Anda lihat bisa dikembangkan dari biodiversitas dan sosial kita dengan sentuhan teknologi ini?

Mungkin salah satu contohnya di sektor pertambangan. Ada teknologi yang dapat memanfaatkan tanaman tertentu yang mampu menyerap dan mengakumulasi logam dari tanah. Misalnya, beberapa tanaman dapat menyerap nikel atau seng. Tanaman kemudian dipanen dan hasilnya diolah untuk memperoleh kembali logam tersebut. Teknologi ini berpotensi menghasilkan mineral dengan dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan sejumlah metode penambangan konvensional.

Lalu, di bidang pangan. Teman-teman peneliti di bidang nuklir sedang berupaya memperkaya bahan makanan dengan mineral yang diperlukan melalui modifikasi nuklir, bukan pupuk kimia. Bibit ditembak radiasi untuk menghasilkan bibit unggul.

Bicara soal pemanfaatan dan hilirisasi riset di Indonesia, mengapa sejumlah riset yang mungkin sudah sampai di tahap prototipe terkadang tidak dijemput oleh industri?

Menurut saya, tantangan utamanya masih pada keterhubungan antara ekosistem riset dan kebutuhan industri. Dalam banyak kasus, kebutuhan industri dan masyarakat juga belum cukup dipetakan ketika agenda penelitian disusun.

Di sisi industri, kapasitas R&D (research and development/penelitian dan pengembangan) di dalam negeri juga masih perlu terus diperkuat.

Baca JugaUrgensi Perbaikan Kualitas Riset di Indonesia

Sejumlah perusahaan memang memiliki kegiatan produksi di Indonesia, sementara fungsi riset dan pengembangan strategisnya masih banyak dilakukan di kantor pusat mereka. Kondisi ini membuat interaksi antara kebutuhan teknologi industri dan kapasitas riset di kampus ataupun pusat penelitian dalam negeri belum selalu optimal.

Akibatnya, arah riset terkadang lebih banyak merespons tren yang sudah terlihat. Jadi, pada saat sebagian riset kita masih membangun dasar teoritis atau prototipe awal, teknologi industri bisa sudah bergerak ke tahap berikutnya.

Karena itu, menurut saya, kita perlu semakin memperkuat mekanisme yang menghubungkan peneliti, pemerintah, industri, dan masyarakat sejak tahap penentuan agenda riset.

Pada saat yang sama, kita juga perlu memiliki keberanian untuk melihat kebutuhan teknologi dalam horizon yang lebih luas serta memperkuat fondasi sains dasar, seperti fisika, kimia, dan biologi. Fondasi inilah yang nantinya memungkinkan Indonesia tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi. Akan tetapi, juga membangun kemampuan untuk menciptakan teknologi sendiri.

Sekitar 35 tahun yang lalu, Anda memilih untuk menekuni ilmu fisika di Institut Teknologi Bandung. Bagaimana melihat kondisi saat ini ketika jumlah peminat sains dasar seperti fisika disebut mulai menurun?

Saat orang kuliah, mereka ingin memenuhi kebutuhan ekonomi setelah lulus. Masalahnya, lapangan kerja yang menampung lulusan sains murni sangat terbatas. Coba lihat iklan lowongan kerja, berapa banyak yang mencari lulusan fisika atau kimia murni?

Di Indonesia, industri kita belum secara masif membutuhkan tenaga ahli sains murni. Orang berbondong-bondong masuk kedokteran atau IT karena lapangan kerjanya jelas.

Artinya, negara harus mendorong lahirnya industri baru yang memerlukan kompetensi sains tinggi, secara otomatis minat ke STEM akan naik tanpa perlu dipaksa.

Sempitnya lapangan kerja di Indonesia yang membutuhkan talenta unggul di bidang sains mungkin turut mendorong mobilitas talenta Indonesia ke luar negeri. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?

Saya tidak melihat brain drain semata-mata sebagai ancaman. Setiap orang punya pertimbangan sendiri dalam memilih tempat berkarya. Karena itu, yang penting adalah membangun ekosistem di Indonesia yang membuat talenta nyaman dan berkembang, baik dari sisi penghasilan, fasilitas, apresiasi, lingkungan kerja, maupun kesempatan untuk memberi kontribusi.

Diaspora juga tidak selalu berarti kehilangan. Mereka bisa menjadi jembatan untuk transfer pengetahuan, jejaring internasional, kolaborasi riset, dan mobilitas talenta.

Baca JugaEkosistem Riset dan Industri Dibangun agar Perguruan Tinggi Berdampak Nyata

Dalam transfer teknologi dan pengetahuan, saya justru berharap semakin banyak proses pembelajaran berlangsung di Indonesia. Kita tetap perlu mengirim talenta ke luar negeri, tetapi kita juga bisa mendatangkan peneliti dan tenaga ahli ke sini. Kalau proses riset dan pengembangan dilakukan di Indonesia, mahasiswa, peneliti, teknisi, industri pendukung, dan ekosistem di sekitarnya bisa ikut belajar.

Indonesia sendiri punya daya tarik kuat, mulai dari biodiversitas hingga berbagai obyek penelitian yang tidak tersedia di negara lain. Potensi itu harus dimanfaatkan agar Indonesia menjadi tempat yang menarik bagi talenta untuk datang, kembali, berkolaborasi, dan menghasilkan pengetahuan. Jadi, kuncinya bukan sekadar mencegah orang pergi, melainkan memperkuat ekosistem agar mobilitas talenta menjadi kekuatan bagi Indonesia.

Daya tarik Indonesia dalam riset mungkin berkaitan dengan iklim saintifik masyarakatnya. Namun, menurut Survei Nasional Persepsi dan Minat terhadap Saintek 2025, menunjukkan kepercayaan masyarakat pada sains di atas 87 persen, tetapi hampir 90 persen tidak pernah terlibat aktivitas saintek. Bagaimana Anda melihat kesenjangan ini?

Menurut saya, salah satu penyebabnya, orang belum merasa ada kepentingan atau insentif untuk terlibat lebih jauh. Kalau untuk kehidupan sehari-hari orang sudah merasa cukup dengan apa yang mereka miliki, dorongan untuk membaca jurnal ilmiah, mendalami sains, atau berusaha menghasilkan sesuatu yang besar menjadi rendah.

Padahal, menurut saya, manusia pada dasarnya punya keinginan untuk maju, berkontribusi, dan memberikan manfaat. Yang menjadi persoalan adalah apakah kita menyediakan jalannya. Minat terhadap sains sangat dipengaruhi oleh prospek. Kalau orang melihat ada industri yang berkembang, ada lapangan kerja, dan ada tempat untuk menggunakan keahliannya, dia akan terdorong untuk mendalami bidang tersebut dan berkompetisi.

Bagaimana Anda memandang pengaruh akal imitasi (artificial intelligence/AI) terhadap budaya sains dan literasi ilmiah di Indonesia?

Otak itu seperti otot, harus dilatih. Fungsi otak itu ada empat tingkat: menghafal, mengamati, menganalisis, dan yang paling tinggi adalah menciptakan ide. Jika tiga tahap awal sudah diambil alih oleh AI, kita mustahil bisa menghasilkan ide baru.

Data menunjukkan kemampuan mengingat dan menganalisis orang yang terlalu bergantung pada AI itu melemah. Di negara maju, penggunaan screen time untuk anak-anak mulai dibatasi. Bahkan, di beberapa sekolah kembali ke metode konvensional, menulis esai dengan tangan.

Baca JugaAI, Kemalasan Berpikir, dan Kesepian

Menulis itu mengoneksikan saraf. Kita tidak hanya menonton, tetapi juga mengekstraksi informasi. AI bisa membantu mengumpulkan data. Akan tetapi, pendidikan bukan hanya soal data, melainkan juga soal melatih otak.

Apa harapan Anda terhadap literasi dan kemampuan berpikir ilmiah masyarakat Indonesia pada 2045?

Saya ingin di Indonesia lahir kembali pemikir-pemikir ulung seperti zaman dahulu. Kita tidak boleh hanya menjadi pemakai yang malas bertanya.

Indikator kesuksesan di 2045 bukan lagi soal berapa banyak lulusan STEM atau berapa banyak dokumen paten yang menempel di dinding. Kita harus mengubah ini agar riset benar-benar memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Jangan lagi terjebak pada administrasi, tetapi juga fokus pada kegunaan.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Enam Pesawat TNI AU Terbangkan 81,3 Ton Bantuan ke NTT
• 2 jam lalu
0
thumb
Kenapa Pidato Prabowo Selalu Blunder? Said Didu Singgung Dua Kemungkinan
• 6 jam lalu
0
thumb
Anggaran Pendidikan Naik Jadi Rp819,44 Triliun, DPR Dorong Putusan MK soal SD-SMP Gratis Segera Dilaksanakan
• 21 jam lalu
0
thumb
KBRI Windhoek Gelar Donor Darah, HUT ke-81 RI Perkuat Kepedulian Sosial di Namibia
• 59 menit lalu
0
thumb
Pimpin Upacara HUT Ke-81 RI, Gubernur Lampung Serukan Kerja Nyata
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.