Batas 60 Hari Kesepakatan AS-Iran Berakhir, Mengapa Perdamaian Belum Tercapai?

kompas.tv
13 jam lalu
Cover Berita
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara selama pertemuan tentang keluarga militer di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, AS, Senin, 3 Agustus 2026. (Sumber: AP Photo/Alex Brandon)

WASHINGTON, KOMPAS.TV - Tenggat waktu 60 hari yang ditetapkan dalam kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang berakhir pada Senin (17/8/2026). 

Namun, kesepakatan permanen belum tercapai dan kedua negara justru masih berselisih mengenai sejumlah persoalan utama, terutama status Selat Hormuz.

Pembicaraan yang masih berlangsung disebut lebih banyak berfokus pada upaya membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade Amerika Serikat terhadap Iran. 

Baca Juga: Trump: Setelah Kalahkan Iran, Saya Akan Nyatakan Selat Hormuz jadi Wilayah AS

Hingga tenggat berakhir, belum terlihat kompromi mengenai pengelolaan jalur perairan tersebut. 

Pembahasan terperinci mengenai program nuklir Iran juga disebut belum benar-benar dimulai.

Berakhirnya tenggat 60 hari tersebut tidak secara otomatis mengakhiri perang.

Sebaliknya, kondisi ini menunjukkan bahwa kesepakatan yang semula diharapkan menjadi jalan menuju perdamaian masih menghadapi kebuntuan.

Apa Isi Kesepakatan 60 Hari?

Dilansir dari Associated Press, kesepakatan yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump di Versailles pada Juni itu dikenal sebagai Memorandum of Understanding (MoU). 

Kesepakatan tersebut dirancang untuk menghentikan seluruh operasi militer dan memberikan waktu 60 hari kepada kedua pihak untuk merundingkan kesepakatan permanen.

Kesepakatan itu mencakup upaya mengakhiri perang serta menyelesaikan perselisihan yang telah berlangsung lama mengenai program nuklir Iran.

Selain itu, kesepakatan mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz. 

Baca Juga: Iran Pamerkan ‘Rampasan Perang’ Puing Drone Hermes 900 Israel hingga Jet Tempur F-14 AS

Iran diberikan peran yang belum dijelaskan secara rinci dalam membantu memfasilitasi lalu lintas kapal di jalur tersebut. 

Kesepakatan juga membuka jalan bagi penghentian blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Namun, ketentuan mengenai Selat Hormuz kemudian menjadi salah satu sumber perselisihan terbesar antara kedua pihak.

Mengapa Kesepakatan Gagal?

Tidak lama setelah kesepakatan ditandatangani, situasi kembali memburuk.

Sekitar satu pekan kemudian, Iran mulai menyerang kapal yang menggunakan jalur di sepanjang pesisir Oman. 

Jalur tersebut berada di bawah pengawasan militer AS dan dirancang untuk menghindari kendali Iran atas Selat Hormuz.

Amerika Serikat kemudian kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Washington juga mencabut sejumlah keringanan yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyaknya ke pasar internasional dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Baca Juga: [FULL] Iran Tuding Qatar Sandera 3 Pilot, Dosen Udayana Efatha Filomeno Bicara | BERUT

Iran membalas dengan menyerang sejumlah negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Yordania, Kuwait, dan Bahrain.

Kedua pihak kemudian saling menuduh telah melanggar kesepakatan Juni. 

Akibatnya, sebagian besar ketentuan dalam perjanjian tersebut praktis tidak lagi berjalan.

Meski demikian, komunikasi belum sepenuhnya terputus. 

Pejabat Iran mengatakan mereka menghentikan negosiasi langsung dengan AS sejak Juni, tetapi tetap mengakui adanya penyampaian pesan melalui pihak perantara.

Sementara itu, Trump beberapa kali mengatakan pembicaraan masih berlangsung dan sesekali mengklaim adanya kemajuan setelah menunda ancaman serangan besar terhadap Iran.

Selat Hormuz Jadi Titik Buntu

Persoalan Selat Hormuz menjadi sangat penting karena jalur tersebut merupakan salah satu titik paling strategis bagi perdagangan energi dunia. 

Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dan gas yang diperdagangkan secara global melewati selat tersebut.

Baca Juga: Trump Klaim AS Pegang Kendali Penuh di Selat Hormuz: Saya Tidak Percaya Iran

Iran mengajukan sejumlah tuntutan sebagai syarat untuk membuka kembali jalur tersebut.

Teheran meminta Amerika Serikat mencabut blokade, menarik pasukan dari sekitar wilayah Iran, serta membayar kompensasi atas kerusakan akibat perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari.

Iran juga menyatakan Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang, ketika kapal-kapal dapat melintas secara bebas tanpa biaya. 

Teheran menyatakan ingin memiliki peran dalam pengelolaan lalu lintas kapal melalui kesepakatan yang sedang dibahas dengan Oman dan membuka kemungkinan pengenaan biaya terhadap pelayaran.

Presiden Trump menolak tuntutan tersebut. Ia menyatakan Iran seharusnya membayar kompensasi atas perang dan mengklaim Amerika Serikat mengendalikan Selat Hormuz.

Posisi tersebut menempatkan Washington dalam dilema. 

Jika menerima tuntutan Iran, Amerika Serikat berisiko dianggap memberikan kendali atas salah satu jalur perdagangan internasional paling penting kepada Teheran. 

Namun, jika kembali meningkatkan operasi militer, AS menghadapi risiko terkurasnya persediaan rudal pencegat canggih, terguncangnya ekonomi global, serta kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilihan anggota Kongres pada November.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Iran sendiri menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat perang dan isolasi internasional. 

Baca Juga: Presiden Iran Dukung Pembicaraan Baru dengan AS, Trump Klaim Kesepakatan Selat Hormuz Sudah Dekat

Perekonomian negara tersebut terpukul dan inflasi meningkat. 

Kondisi itu berpotensi memperbesar tekanan domestik terhadap pemerintah Iran.

Namun, Teheran tampaknya masih berharap tekanan ekonomi dan politik pada akhirnya membuat pemerintahan Trump mengubah posisinya. 

Di sisi lain, Amerika Serikat juga menghadapi tekanan politik dalam negeri. 

Jajak pendapat AP-NORC yang dirilis pekan lalu menunjukkan sekitar dua pertiga warga dewasa AS menilai perang dengan Iran tidak sepadan.

Tekanan terhadap jalur perdagangan juga semakin kompleks setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mulai menyerang kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah. 

Jalur tersebut sebelumnya menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi dampak terganggunya Selat Hormuz.

Dengan demikian, pilihan bagi kedua pihak semakin terbatas. 

Mempertahankan tekanan berarti risiko ekonomi dan militer terus meningkat, sementara kompromi mengenai Selat Hormuz dapat membawa konsekuensi politik dan strategis bagi Washington maupun Teheran.

Pakistan, yang memainkan peran penting dalam membantu tercapainya kesepakatan Juni, masih berupaya membawa AS dan Iran kembali ke meja perundingan. 

Baca Juga: Iran Pasang Syarat: AS Patuhi, Hormuz Dibuka | SAPA MALAM

Pekan lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi menyatakan pihaknya masih berupaya mempertemukan kedua negara.

"Kami tidak menutup bab ini," kata Andrabi.

Tenggat 60 hari yang semula dirancang untuk membuka jalan menuju penghentian permanen perang kini berakhir tanpa kesepakatan. Namun, upaya mediasi masih berlangsung.

Persoalannya, Washington dan Teheran sejauh ini masih bertahan pada posisi masing-masing, sementara Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sulit untuk mencapai kompromi.

 

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Associated Press

Tag
  • AS-Iran
  • Selat Hormuz
  • Donald Trump
  • Iran
  • program nuklir Iran
  • perang Iran
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Curhat Na Daehoon Urus 3 Anak Sendirian: Pengen Nangis, Teriak, Marah, Tapi Aku Gak Bisa Ngelakuin Apa-apa!
• 9 jam lalu
0
thumb
Jadwal SIM Keliling di Bandung Hari Ini 18 Agustus 2026, Cek Lokasi dan Persyaratannya
• 4 jam lalu
0
thumb
Datang dengan Strollernya, Bobby Kertanegara Mengikuti Upacara Penurunan Bendera di Istana Merdeka
• 11 jam lalu
0
thumb
Media Eropa: Selangkah Lagi Striker Swedia Alexander Jeremejeff Berkostum Persija Jakarta, Nilai Transfernya Fantastis
• 19 jam lalu
0
thumb
Presiden Iran Kirim Pesan Duka Gempa NTT ke Prabowo, Siap Kirim Bantuan
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.