Dorong Warga Jadi Wirausaha, Dinkopnaker Boyolali Kucurkan DBHCHT Rp150 Juta untuk Pelatihan TKM

tvonenews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Boyolali, Jawa Tengah - Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terus menggenjot perluasan kesempatan kerja dengan mendorong masyarakat menciptakan lapangan kerja secara mandiri.

Melalui Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja (Dinkopnaker), program Tenaga Kerja Mandiri (TKM) kembali digulirkan dengan memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2026.

Kepala Dinkopnaker Kabupaten Boyolali, Sawitri Danik Rahayuni, mengatakan program tersebut tidak sekadar memberikan pelatihan keterampilan.

Lebih jauh, pemerintah ingin melahirkan wirausaha-wirausaha pemula yang mampu membuka peluang ekonomi bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.

“Harapannya masyarakat tertarik untuk berwirausaha, menjadi wirausaha pemula, membentuk embrio usaha yang pada akhirnya bisa menciptakan lapangan kerja buat dirinya sendiri, bahkan lebih lanjut untuk lingkungan sekitarnya,” kata Sawitri saat ditemui dikantornya Jumat (14/08/2026).

Tahun ini, Dinkopnaker Boyolali menggelar dua jenis pelatihan. Pertama, pelatihan produk olahan pisang di Kecamatan Wonosegoro dengan 20 peserta. Kedua, pelatihan tata rias dan make up artist (MUA) yang menyasar wilayah Gladagsari dan Ampel, juga dengan 20 peserta.

Menurut Sawitri, pemilihan jenis pelatihan tidak dilakukan secara acak. Pemerintah terlebih dahulu melihat potensi ekonomi yang berkembang di masing-masing wilayah.

Di Wonosegoro dan Juwangi, misalnya, pisang menjadi salah satu komoditas pertanian yang cukup menonjol. Selama ini sebagian masyarakat masih menjual pisang dalam bentuk mentah atau mengolahnya secara sederhana menjadi keripik.

“Kami mencoba memberikan keterampilan dan pengetahuan supaya pisang bisa diolah dalam bentuk yang lain. Dengan begitu, akan memberikan nilai tambah dari produk pertanian itu sendiri,” ujarnya.

Sementara pelatihan tata rias dan MUA dipilih karena melihat peluang pasar jasa rias yang dinilai semakin terbuka.

Kebutuhan jasa MUA kini tidak hanya muncul saat pesta pernikahan, tetapi juga untuk berbagai kegiatan seperti menghadiri hajatan hingga wisuda.

“Pangsa pasarnya semakin ke sini bagus. Orang membutuhkan MUA tidak hanya untuk mantenan, tetapi ketika jagong, wisuda, dan acara-acara kecil lainnya. Kami coba arahkan ke pelatihan tata rias dan MUA untuk membentuk usaha kecil MUA,” jelas Sawitri.

Program tersebut juga diarahkan kepada masyarakat berdasarkan data kesejahteraan, termasuk kelompok desil 1 hingga desil 5.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cristiano Ronaldo Beri Indikasi Pensiun di Tahun Depan: Saya Ingin Tinggalkan Warisan Luar Biasa
• 18 jam lalu
0
thumb
Empati Gempa NTT, Kembang Api Malam Merdeka di Bundaran HI-Monas Ditiadakan
• 8 jam lalu
0
thumb
Intip Sosok Pilot di Balik Manuver Pesawat Tempur Rafale di HUT ke-81 RI | JMP
• 7 jam lalu
0
thumb
Sudah 5 Jam Gudang ATK di Bekasi Belum Padam, Damkar Ungkap Kesulitannya
• 3 jam lalu
0
thumb
26 Pendaki Dievakuasi usai Upacara HUT RI di Gunung Bawakaraeng, 1 Cedera Tulang Belakang
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.