Jakarta, tvOnenews.com - Untuk mengantisipasi penjarahan dan pencurian pascagempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), aparat kepolisian melakukan patroli rutin di rumah-rumah warga.
Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur Irjen Pol Rudi Darmoko menegaskan seluruh jajaran sudah diperintahkan untuk meningkatkan patroli di kawasan permukiman kosong untuk memastikan rumah dan aset masyarakat tetap aman selama masa tanggap darurat.
“Di tengah banyaknya warga yang mengungsi Polda NTT juga mengantisipasi potensi gangguan keamanan di permukiman yang ditinggalkan,” ujarnya, Senin (17/8/2026).
“Kita tidak ingin ada yang memanfaatkan bencana seperti ini dengan melakukan hal-hal yang justru merugikan korban gempa,” sambungnya.
Di sisi lain, Rudi juga mengimbau agar masyarakat tidak melakukan hal-hal melanggar hukum di tengah bencana alam yang terjadi di daerah itu.
Terkait jumlah pengungsi, tercatat ada 7.670 pengungsi yang tersebar di tujuh kabupaten di pulau Flores.
Dia menyebut Polda NTT memberikan perhatian khusus terhadap pengungsi mandiri yang masih berada di lokasi dengan fasilitas terbatas.
Adapun kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih dan obat-obatan menjadi prioritas distribusi.
Rudi mengatakan penentuan lokasi pengungsian sementara maupun lokasi yang dapat digunakan dalam jangka lebih panjang akan dikoordinasikan bersama BPBD dan pemerintah daerah.
Sebelumnya diberitakan, gempa utama berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026).
Gempa utama yang terjadi itu sempat memicu peringatan dini tsunami.
Setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi telah memenuhi kriteria untuk pencabutan peringatan, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami. (ant/nsi)





Komentar (0)