VIVA – Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengaku optimis bahwa neraca perdagangan Indonesia akan membaik pada awal semester II-2026 atau bulan di Juli, menyusul kinerja ekspor yang terus menunjukkan tren positif.
“Bulan Juli ini harapan kami defisitnya menjadi tidak ada, karena kalau kita lihat (komoditas) non-migasnya kan selalu surplus," kata Budi di Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026.
"Non-migas dan pertumbuhannya kan selalu naik. Pertumbuhan ekspor kita Januari-Juni kan juga naik,” ujarnya.
- ANTARA FOTO/Aji Styawan
Budi menyebut, defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 sebesar US$0,45 miliar, membaik dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Total ekspor Indonesia pada Juni 2026 baik migas maupun non-migas, tercatat sebesar US$25,46 miliar atau meningkat 9,72 persen dibandingkan ekspor pada Mei 2026 yang sebesar US$23,20 miliar.
Peningkatan ekspor tersebut terutama ditopang ekspor non-migas yang pada Juni 2026 mencapai US$24,39 miliar, atau naik 8,68 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar US$22,45 miliar.
Di sisi lain, surplus perdagangan nonmigas pada Juni 2026 mencapai US$3,04 miliar. Selain nilai ekspor, Budi juga melaporkan volume ekspor Indonesia juga mengalami peningkatan. Pada Juni 2026, volume ekspor tercatat sebesar 56,52 juta ton, naik 3,31 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 54,71 juta ton.
“Jadi, kami optimis ya apalagi nanti kalau kondisinya (geopolitik) semakin membaik, artinya kondisi perang semakin berkurang, harga minyak turun,” ujar Budi.
Dia menilai, salah satu faktor dari defisit neraca perdagangan pada dua bulan terakhir adalah harga minyak dunia yang tinggi.
“Kemarin faktor defisitnya bulan Mei-Juni itu kan karena pas bulan Maret-April itu harga minyak dunia lagi tinggi-tingginya, sehingga tentu defisit migas kita menjadi lebih besar. Ketika defisit migas kita semakin besar sehingga mengalahkan (komoditas) yang surplus tadi,” kata Budi.
“Nah, ini mudah-mudahan harga mulai stabil sementara ekspor nonmigasnya yang terus bagus,” ujarnya. (Ant).






Komentar (0)