Ilmuwan Pakai Hiu buat Prediksi Kekuatan Badai di Laut

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Sekelompok ilmuwan University of Delaware, Amerika Serikat, mulai memanfaatkan hiu untuk penelitiannya. Mereka menguji peran baru predator itu sebagai pengumpul data untuk membantu memprediksi kekuatan badai di laut sebelum mencapai daratan.

Peneliti memasang sensor khusus pada sirip punggung hiu. Sensor itu mengukur kondisi laut secara mendekati waktu nyata, kemudian mengirimkan datanya melalui jaringan satelit untuk mendukung pemodelan laut, atmosfer, dan iklim.

Perangkat yang disebut tag CTD tersebut merekam konduktivitas listrik air laut yang berkaitan erat dengan salinitas, serta mengukur suhu dan kedalaman ketika hiu berenang dan menyelam.

"Sensor yang dipasang pada hewan telah berhasil digunakan oleh ahli oseanografi selama bertahun-tahun, terutama pada anjing laut gajah di wilayah kutub yang minim pengamatan ilmiah," kata Aaron Carlisle, peneliti utama sekaligus profesor di School of Marine Science and Policy, University of Delaware, mengutip Reuters.

Menurut Carlisle, hiu menawarkan peluang baru karena populasinya tersebar luas dan lebih mudah dijangkau dibandingkan banyak mamalia laut yang dilindungi. Selama ini, pemasangan tag pada hiu umumnya hanya digunakan untuk melacak pergerakan dan habitatnya.

Fokus pada Panas di Lapisan Atas Laut

Peneliti memilih jenis hiu yang mampu mengumpulkan data paling relevan untuk riset badai. Mereka mengutamakan spesies yang sering muncul ke permukaan agar sensor dapat mengirimkan informasi kepada satelit.

Analisis sebelumnya mengidentifikasi hiu mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil halus, dan hiu putih besar yang masih muda sebagai kandidat kuat untuk penelitian di Atlantik Utara.

"Kami paling tertarik pada kandungan panas di lapisan atas laut yang dikenal sebagai lapisan campuran," ujar Carlisle.

Lapisan tersebut berperan penting dalam menentukan intensitas badai. Air hangat menyediakan energi yang dibutuhkan badai untuk berkembang. Semakin hangat dan dalam lapisan campuran, semakin besar pasokan panas yang berpotensi memperkuat badai.

Kondisi laut di bawah jalur badai dapat berubah dengan cepat. Karena itu, data langsung dari hiu yang berenang di wilayah tersebut berpotensi melengkapi pengamatan dari satelit, pelampung laut, dan kapal penelitian.

Pasang Sensor di Sirip Punggung Hiu

Pemasangan sensor dimulai pada awal Mei, ketika spesies hiu yang bermigrasi mendekati pesisir setelah menghabiskan musim dingin di wilayah Atlantik yang lebih jauh.

Caroline Wiernicki, kandidat doktor ilmu kelautan di University of Delaware, mengatakan tim peneliti berlayar sejauh 50 hingga 65 kilometer dari pantai. Mereka memasang tali berumpan dan biasanya menunggu sekitar dua hingga tiga jam hingga seekor hiu menyambar umpan.

Setelah hiu diamankan, tim memasang sensor pada sirip punggungnya dalam waktu kurang dari lima menit. Setiap kali hiu berenang di permukaan, sensor dapat berkomunikasi dengan jaringan penerima satelit dan mengirimkan data yang telah dikumpulkan.

Penelitian berlangsung di bawah pengawasan lembaga perawatan hewan untuk meminimalkan dampaknya terhadap hiu. Peneliti menggunakan material yang dapat mengalami korosi sehingga sensor akan terlepas dengan sendirinya setelah periode tertentu.

Setiap hiu juga menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dilepaskan. Hiu yang stres atau terluka dapat berperilaku tidak alami sehingga berisiko memengaruhi keakuratan data.

Bantu Masyarakat Pesisir Hadapi Badai

Jika proyek tersebut berhasil, data yang dikumpulkan hiu dapat meningkatkan prakiraan intensitas badai yang bergerak menuju Pantai Timur Amerika Serikat. Informasi itu berpotensi membantu masyarakat pesisir dari North Carolina hingga Massachusetts mempersiapkan diri menghadapi badai yang semakin kuat.

Carlisle berharap penelitian tersebut turut mengubah pandangan masyarakat terhadap hiu. Sebagian besar orang tidak pernah bertemu hiu di alam liar, tetapi mengenalnya melalui stereotip menakutkan dari film.

"Pada kenyataannya, mereka merupakan hewan menakjubkan yang beradaptasi dengan sempurna terhadap laut, dan kita dapat belajar banyak dari mereka," kata Carlisle. "Jika kami dapat menunjukkan bahwa hiu bisa membantu manusia, situasi ini akan menguntungkan kedua pihak."


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kebakaran Bromo Padam Setelah Dua Pekan, Petugas Masih Lakukan Penyisiran
• 10 jam lalu
0
thumb
Megawati Sentil Hukum Indonesia Seperti Karet: Terserah Dah Kemauan Kalian
• 6 jam lalu
0
thumb
Dirut Pertamina Pimpin Upacara HUT RI & Salurkan Bantuan ke Korban Gempa Flores
• 8 jam lalu
0
thumb
TNI dan Anak-Anak Papua Pegunungan Upacara 17 Agustus di Atas Bukit Pesali
• 13 menit lalu
0
thumb
Purbaya Pastikan Kesiapan Anggaran untuk Bantu Penanganan Gempa NTT
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.