Namun, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, ada satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: seberapa merdeka ekonomi Indonesia? Kemerdekaan tentu tidak lagi hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemerdekaan juga berarti kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan arah ekonominya sendiri. Mulai dari pangan yang tersedia di meja makan, energi untuk menjalankan aktivitas, lapangan pekerjaan, hingga bagaimana kekayaan alam dikelola.
Artinya Indonesia tidak harus menutup diri dari dunia. Justru sebaliknya, Indonesia tetap perlu berdagang, menerima investasi, dan bekerja sama dengan negara lain. Namun, kerja sama tersebut idealnya berlangsung dari posisi yang kuat, bukan karena Indonesia tidak punya pilihan.
Presiden Prabowo Subianto beberapa kali menekankan pentingnya membangun ekonomi yang berdiri di atas kekuatan sendiri. Dalam pidatonya pada Indonesia Economic Outlook 2026, ia mengatakan kekayaan negara dan sumber daya alam harus dikelola untuk kepentingan rakyat.
“Kita harus menjaga dan mengelola seluruh kekayaan negara, seluruh sumber daya alam kita dan kita kelola, kita jaga dan kita pergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia," kata Prabowo.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai arah yang ingin dibangun pemerintah: sumber daya alam Indonesia tidak berhenti sebagai bahan mentah yang dikirim ke luar negeri, tetapi diolah sehingga menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Merdeka bukan berarti berjalan sendiri Kemerdekaan ekonomi bukan berarti Indonesia harus memproduksi semuanya sendiri atau berhenti menerima modal asing.
Dalam ekonomi modern, hampir tidak ada negara yang benar-benar berjalan sendirian. Rantai pasok dunia saling terhubung. Teknologi, modal, bahan baku, tenaga kerja, hingga pasar saling bergantung. Yang menjadi penting adalah siapa yang mendapatkan nilai terbesar dari hubungan tersebut.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar. Ada nikel, tembaga, bauksit, batu bara, minyak, gas, sawit, hingga berbagai komoditas pertanian. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut tidak hanya menghasilkan pendapatan ketika diekspor sebagai komoditas mentah. Di sinilah hilirisasi menjadi penting.
Ketika nikel tidak hanya dijual sebagai bijih, tetapi diproses menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi, maka rantai ekonomi yang tercipta juga semakin panjang. Ada pabrik, tenaga kerja, pemasok, teknologi, logistik, hingga bisnis-bisnis baru yang ikut tumbuh. Danantara dan babak baru pengelolaan aset negara Dalam konteks tersebut, keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menjadi menarik. Danantara bukan sekadar lembaga yang mengelola investasi. Kehadirannya membawa gagasan lebih besar mengenai bagaimana aset negara dapat dikelola secara lebih produktif dan diarahkan untuk menciptakan nilai jangka panjang.
Presiden Prabowo saat menghadiri satu tahun Danantara menyebut lembaga tersebut sebagai sovereign wealth fund yang dapat disejajarkan dengan lembaga serupa di dunia.
“Kita bersyukur, kita sekarang sudah punya suatu badan yang bisa disetarakan dengan sovereign wealth fund di dunia," ujar Prabowo.
Gagasan ini penting karena aset negara pada dasarnya bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Di balik aset tersebut terdapat perusahaan, infrastruktur, sumber daya, jaringan bisnis, dan kemampuan produksi yang bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.
Danantara diharapkan dapat mengoptimalkan aset tersebut sehingga tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi. Salah satu jalannya adalah melalui hilirisasi.
Pada April 2026, CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut 13 proyek hilirisasi senilai sekitar Rp116 triliun sebagai langkah awal percepatan transformasi ekonomi berbasis nilai tambah di dalam negeri.
Menurut Rosan, pengelolaan aset negara diarahkan menjadi katalis untuk memperkuat industrialisasi nasional sekaligus mendorong kemandirian ekonomi berbasis sumber daya alam.
Jika konsep tersebut berjalan konsisten, maka kekayaan yang sebelumnya hanya menjadi komoditas dapat berubah menjadi industri. Dan industri berarti pekerjaan. Pekerjaan berarti pendapatan. Pendapatan berarti daya beli. Pada akhirnya, rantai tersebut kembali kepada masyarakat.
Baca Juga :
Peran BUMN Mengisi Kemerdekaan IndonesiaRosan mengatakan Danantara menerapkan pendekatan investasi jangka panjang, baik untuk investasi langsung maupun tidak langsung.
Menurut Rosan, pendekatan tersebut penting karena investasi tidak seharusnya hanya mengejar pergerakan pasar dalam jangka pendek, tetapi melihat fundamental dan potensi pertumbuhan ke depan.
Cara pandang ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia yang sedang membangun fondasi ekonomi jangka panjang.
Membangun industri tidak bisa dilakukan dalam semalam. Membuat pusat produksi, meningkatkan teknologi, menyiapkan tenaga kerja, membangun infrastruktur, hingga menciptakan pasar membutuhkan waktu. Karena itu, modal negara perlu memiliki kesabaran.
Keuntungan hari ini tentu penting. Tetapi kemampuan menciptakan industri yang bertahan puluhan tahun mungkin jauh lebih penting. Dari sumber daya menjadi kekuatan Ada hal menarik lain dari konsep kemerdekaan ekonomi: kekuatan tidak selalu berarti memiliki semuanya, tetapi memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan.
Indonesia tetap membutuhkan investasi asing. Indonesia juga membutuhkan teknologi dari negara lain dan akses ke pasar global. Namun, semakin kuat industri dalam negeri, semakin besar pula posisi tawar Indonesia.
Hal tersebut terlihat dari perhatian pemerintah terhadap pengelolaan ekspor sumber daya alam. Pemerintah membentuk Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), antara lain untuk memperkuat transparansi transaksi ekspor komoditas SDA. Rosan menyebut langkah tersebut diarahkan agar perdagangan SDA lebih terbuka dan akuntabel.
Bahkan dalam perkembangan terbaru, pemerintah berencana membangun bursa komoditas strategis yang diharapkan mulai beroperasi pada 2027. Langkah ini diarahkan agar Indonesia memiliki peran lebih besar dalam pembentukan harga komoditas strategisnya sendiri. Merdeka untuk menentukan masa depan Pada usia 81 tahun, mungkin sudah waktunya memaknai kemerdekaan dengan cara yang sedikit berbeda. Kemerdekaan bukan hanya tentang masa lalu ketika para pejuang mengangkat senjata dan memproklamasikan Indonesia sebagai negara merdeka.
Kemerdekaan juga tentang masa depan. Danantara berada di salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut. Bukan sebagai satu-satunya jawaban, tetapi sebagai salah satu instrumen untuk mengubah aset menjadi investasi, investasi menjadi industri, dan industri menjadi nilai tambah bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, ekonomi yang merdeka bukan ekonomi yang berdiri sendirian. Ekonomi yang merdeka adalah ekonomi yang cukup kuat untuk berdiri tegak, terbuka bekerja sama dengan dunia, tetapi tetap mampu menentukan arah jalannya sendiri.
Mungkin itulah salah satu makna kemerdekaan ekonomi Indonesia hari ini: bukan sekadar menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi menjadi bangsa yang mampu mengelola kekayaannya, menciptakan nilainya, dan menikmati hasilnya bersama-sama.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KIE)






Komentar (0)