Potongan berita, surat, dan foto-foto yang merekam detik-detik peringatan kemerdekaan RI memenuhi salah satu sisi aula Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di sisi lain, terpajang arsip yang merekam perpindahan pusat pemerintahan RI hingga perjalanan Bung Karno dalam rangkaian sejarah perjuangan kemerdekaan negeri ini.
Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri mengitari pameran Jejak Merdeka Putra Sang Fajar itu. Mengenakan pakaian berwarna merah, ia berjalan perlahan dari satu arsip ke arsip lainnya.
Sesekali, langkahnya terhenti. Megawati pun berbincang dengan Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDI-P Bonnie Triyana dan Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto, seolah kembali menyusuri potongan-potongan sejarah yang terpampang di hadapannya.
Indonesia ditakdirkan lahir sebagai bangsa pejuang. Bangsa yang seharusnya bisa lebih berdiri di atas kaki sendiri, berdisiplin tinggi, dan menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa di dunia ini. Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka!
Dari ruang pameran itu, Megawati kemudian menuju lokasi upacara pengibaran bendera Merah Putih. Ia menjadi inspektur upacara peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI bersama kader PDI-P, memilih merayakan hari kemerdekaan bersama partainya alih-alih menghadiri upacara di Istana Merdeka, Jakarta.
Di tengah upacara itulah, suasana berubah. Pidato Megawati semula mengalir, membawa hadirin pada perjalanan panjang bangsa. Namun, pada beberapa bagian, suaranya tertahan dan air matanya jatuh untuk pertama kalinya. ”Bagi perjalanan suatu bangsa, 81 tahun bukanlah sekadar hitungan waktu. Ia adalah perjalanan sejarah,” ujar Megawati.
Megawati mengaku terharu ketika melihat rentetan sejarah yang dipamerkan. Ia mengatakan telah meminta Badan Sejarah Indonesia DPP PDI-P untuk turut memamerkannya kepada masyarakat agar sejarah tidak hanya menjadi cerita atau omongan belaka, tetapi juga sesuatu yang dapat direkam dan dilihat kembali.
”Bahwa hal-hal itu ternyata ada kejadiannya. Sehingga, dengan demikian, di dalamnya terdapat pengorbanan, air mata, darah para pejuang,” ungkap Megawati sambil menyeka air matanya.
Megawati kemudian menjelaskan alasan dirinya kerap meneriakkan kata ”merdeka” meskipun ada pihak yang melecehkan atau mempertanyakan hal tersebut. Sebab, Indonesia dianggap sudah merdeka. Seruan itu berangkat dari pesan para pejuang yang dahulu kerap berkumpul di Istana Merdeka ketika ayahnya, Bung Karno, masih menjadi presiden.
Saat itu, kata Megawati, para pejuang memiliki tekad, ”Kalau tidak merdeka, lebih baik mati.” Karena itu, kalau saling bertemu, yang satu mengatakan ”merdeka”, yang lain mengatakan ”mati”. Namun, setelah Indonesia merdeka, seruan ”merdeka” harus dijawab dengan ”merdeka”.
Megawati mengajak seluruh masyarakat untuk terus mencintai Indonesia. Darah para pejuang, harapan rakyat, serta cita-cita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya harus terus menyala. Oleh karena itu, peringatan kemerdekaan setiap 17 Agustus tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera dan memekikkan kata “merdeka”.
“Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa arti kemerdekaan itu? Untuk apa kita merdeka? Maukah kita dijajah lagi?” kata Megawati.
Megawati melanjutkan pidatonya dengan menyinggung bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menatap sejarahnya sendiri. Bukan hanya sejarah yang indah, tetapi juga sejarah yang pahit. Bukan hanya sejarah yang membanggakan, tetapi juga sejarah yang menyisakan pertanyaan.
Sebab, bagi Megawati, bangsa yang tidak berani menghadapi sejarahnya sendiri akan selalu hidup dalam bayang-bayang masa lalu dan pada akhirnya menjadi bangsa yang kerdil.
“Indonesia memiliki seorang proklamator, seorang bapak bangsa, seorang pemikir, dan seorang pejuang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk kemerdekaan dan masa depan Indonesia. Bung Karno tidak pernah ragu, Bung Karno selalu yakin, suatu saat nanti kemerdekaan itu akan kita punyai,” tutur Megawati sambil terisak. Air matanya kembali jatuh.
Menurut Megawati, Bung Karno bukan hanya proklamator kemerdekaan, tetapi juga ikut meletakkan dasar filosofis dan arah perjuangan bangsa melalui Pancasila, Trisakti, serta cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Namun, sejarah Republik Indonesia juga memiliki lembaran-lembaran yang sedih dan pahit. Bung Karno pernah mengalami perlakuan politik yang meninggalkan persoalan mendalam dalam perjalanan sejarah bangsa.
“Selama perjalanan politiknya, Bung Karno bukan hanya berjuang dengan pikiran dan gagasannya, beliau juga harus menghadapi penindasan dan kekuasaan yang berusaha membungkam mulut dan perjuangannya,” kata Megawati.
Megawati menyebut, sepanjang perjalanan politiknya, Bung Karno menghabiskan 12 tahun di penjara dan pengasingan pada masa kolonialisme Belanda, dua tahun diasingkan pada masa revolusi fisik, serta empat tahun menjalani tahanan rumah tanpa proses pengadilan pada masa Orde Baru.
Megawati kemudian mengenang masa ketika Bung Karno ditahan pada era Orde Baru. Menurut dia, penahanan tersebut dilakukan tanpa proses pengadilan. Bung Karno sempat ditempatkan di Istana Bogor, kemudian Batu Tulis, sebelum akhirnya dipindahkan ke Wisma Yaso.
“Coba kamu bayangkan, Bung Karno itu proklamator, terus tiba-tiba pada zaman Orde Baru, ketika zaman Pak Harto itu, beliau karena Pak Harto ingin menjadi presiden, maka Bung Karno itu dilakukan suatu penahanan. Saya pun tidak tahu namanya apa. Hanya ditaruh permulaan di Istana Bogor, setelah itu di Batu Tulis, setelah itu lalu di Wisma Yaso. Tanpa sebuah proses pengadilan,” ucap Megawati.
Dengan demikian, kata Megawati, sekitar 18 tahun kehidupan politik Bung Karno harus dijalani dalam penjara dan pengasingan. Rentang waktu itu bukan sekadar angka. Bagi Bung Karno, apa yang dialaminya bukanlah semata-mata penderitaan, melainkan pengorbanan demi cita-cita Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
“Angka 18 tahun itu bukan sekadar hitungan waktu, di dalamnya terdapat penderitaan seorang pejuang,” ucap Megawati.
Sebelum menutup pidatonya, Megawati menegaskan bahwa cita-cita Indonesia merdeka bukanlah mimpi belaka. Cita-cita itu juga bukan sekadar mimpi masa lalu, melainkan pekerjaan sejarah yang belum selesai.
Indonesia, lanjutnya, ditakdirkan lahir sebagai bangsa pejuang. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat datang ke taman-taman makam pahlawan untuk memberikan bunga dan doa. Bukan hanya kepada pahlawan yang namanya dikenal, tetapi juga kepada mereka yang namanya tidak tercatat di batu nisan.
“Bawa anak-anakmu, seperti saya membawa anak-anak saya ketika mulai TK, saya suruh cari nisan-nisan yang tidak bernama. Betul mereka bertanya, ‘Kenapa nisan-nisannya tidak bernama?’ Karena apa? Mereka jiwa raga diserahkan kepada yang namanya belum ada Indonesia. Itulah namanya jiwa perjuangan,” kata Megawati.
Suara Megawati kemudian mulai lirih. Air mata kembali menitik ketika Megawati menyebut Indonesia ditakdirkan lahir sebagai bangsa pejuang.
“Bangsa yang seharusnya bisa lebih berdiri di atas kaki sendiri, berdisiplin tinggi, dan menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa di dunia ini. Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka!” pekik Megawati dengan suara bergetar seraya menutup pidatonya.
Sementara itu, Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto saat ditemui usai upacara mengatakan, keputusan Megawati tidak menghadiri upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di Istana Merdeka berkaitan dengan amanat Megawati untuk mewujudkan keadilan dalam sejarah.
Menurut Hasto, bangsa yang sejarah masa lalunya dimanipulasi, baik dengan menghilangkan sisi baik maupun buruknya, akan kehilangan jati diri dan pembelajaran bagi generasi mendatang.
Oleh karena itu, kata Hasto, Megawati menggunakan momentum 17 Agustus untuk menyampaikan rangkaian sejarah sekaligus mengingatkan tugas bangsa ke depan. Salah satunya adalah pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi agar Indonesia menjadi bangsa yang berdikari. Syaratnya, bangsa Indonesia harus terlebih dahulu percaya pada kemampuannya sendiri.
Hasto mengatakan, kemerdekaan Indonesia bukan pemberian Jepang. Indonesia juga mampu menghadapi tentara Sekutu yang merupakan pemenang Perang Dunia II karena semangat perjuangan yang berkobar. Semangat tersebut kini terasa hilang akibat sejarah yang diputarbalikkan.
“Itulah yang kemudian dirasakan hilang karena sejarah yang diputarbalikkan. Jadi Ibu punya suatu misi khusus untuk mengadakan upacara di Sekolah Partai PDI Perjuangan,” ujar Hasto.
Megawati, lanjut Hasto, juga mengingatkan pentingnya belajar dari bangsa-bangsa lain. Indonesia lahir dari dialektika sejarah dunia sehingga perlu mempelajari pengalaman berbagai negara, seperti China, Jerman, dan Korea Selatan. Indonesia juga dapat belajar dari militansi dan patriotisme bangsa-bangsa seperti Iran dan Korea Utara yang menunjukkan rasa percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Menurut Hasto, upacara yang digelar di Sekolah Partai PDI-P tersebut disiarkan kepada seluruh pengurus partai di Indonesia. Tujuannya untuk membangkitkan kesadaran bahwa Proklamasi Kemerdekaan harus menjadi momentum perjuangan agar rakyat Indonesia benar-benar merdeka, berdaulat, bebas berbicara dan berserikat, diperlakukan setara, serta mendapatkan keadilan hukum.
“Itulah otokritik yang tadi disampaikan oleh Bu Mega agar itu menjadi pembelajaran termasuk bagi seluruh anggota dan kader PDI Perjuangan,” kata Hasto.






Komentar (0)