jpnn.com, JAKARTA SELATAN - Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri mengkritisi kondisi penegakan hukum di Indonesia yang dinilainya terjadi ketimpangan dan makin jauh dari rasa keadilan sosial.
Hal ini disampaikan Megawati saat memberikan amanat dalam rangka upacara Peringatan HUT ke-81 RI di halaman Masjid At-Taufiq, Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8).
BACA JUGA: Hadir Upacara HUT RI di Lenteng, Megawati Ajak Rakyat Doakan Korban Gempa NTT
Mulanya, Ketua Umum PDI Perjuangan itu mempertanyakan sisi keadilan yang diterima rakyat setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.
"Apakah kemerdekaan telah benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia? Apakah rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk hidup layak," kata Megawati dalam amanatnya, Senin.
BACA JUGA: Megawati Keluarkan Instruksi, Sukarelawan PDIP Dikirim ke NTT Bantu Warga Terdampak Gempa
Wapres kedelapan RI itu lantas mempertanyakan alasan ketidakadilan terus dirasakan rakyat setelah momen kemerdekaan.
"Mengapa negara hukum sulit sekali diwujudkan sehingga ketidakadilan merajalela? Keadilan untuk semua menjadi tuntutan yang semakin kuat," lanjut Megawati.
BACA JUGA: Instruksi Megawati, PDIP Kerahkan BAGUNA dan Sukarelawan Bantu Gempa NTT
Dia prihatin melihat penegakan hukum saat ini yang mengabaikan rasa kemanusiaan dan menyindir kondisi itu mirip dengan era kolonial.
"Saya mendengar ini saya lalu tertawa. Indonesia ini, kok, kaya orang Belanda, ya? Hukum itu dilakukan, tetapi tidak berkeadilan," kritik Megawati.
Putri Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno itu menyoroti kasus seorang ibu kelaparan yang mencuri buah labu dan tetap diseret ke meja hijau hingga dijatuhi hukuman dua bulan penjara.
Menurut dia, si ibu mungkin merasa lapar, sehingga terpaksa mencuri labu untuk memenuhi kebutuhan.
Megawati pun merasa terjadi ketidakadilan ketika belakangan marak terjadi skandal korupsi besar di tengah kelaparan rakyat.
"Betapa saya tidak nangis, ada seorang ibu mungkin kelaparan itu mencuri buah labu, dijatuhi hukuman dua bulan. Saya bilang aduh orang-orang hukum ini keren banget, ya, sekarang, tetapi kalian sendiri, kan, melihat barusan ini terbuka korupsi luar biasa. Coba pikirkan, apakah keadilan itu yang ingin kita dapatkan," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Megawati membagikan pengalamannya yang berulang kali dipanggil dan diperiksa oleh aparat penegak hukum pada era Orde Baru (Orba).
Dia mengaku selalu hadir kooperatif untuk membuktikan kebenaran ketika diperiksa aparat era Orba.
"Saya datang, karena saya warga negara Indonesia yang baik. Dari jam 8.00 pagi baru selesai jam 20.00 malam, tetapi saya datang," ceritanya.
Megawati lantas menyindir sejumlah pihak atau pejabat saat ini yang justru enggan memenuhi panggilan penegak hukum ketika terseret kasus.
"Makanya bagi mereka yang dipanggil, tuh, mbok datang begitu, lo. Wah, tetapi ada beberapa orang yang baru ini, wah, enggak mau datang. Tunjukkan dengan hadir bahwa di situlah tempat menegakkan kebenaran. Buktinya saya tidak ditahan, karena apa yang ditanyakan saya jawab dengan benar," katanya. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Sidang Tahunan MPR, Megawati & SBY Absen, Jokowi Hadir
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan




Komentar (0)