Sultan Alauddin Melawan Monopoli VOC: Jangan Ambil Nasi dari Mulut Orang Lain

republika.co.id
51 menit lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Upaya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda memaksakan monopoli perdagangan di Indonesia Timur mendapat perlawanan keras dari Kerajaan Gowa. Di bawah Sultan Alauddin raja Gowa ke-14, kerajaan tersebut menolak tekanan VOC yang hendak membatasi kebebasan orang-orang Makassar berdagang hingga ke Maluku dan Banda. Sikap tegas Sultan Alauddin bahkan tercermin dalam pernyataannya bahwa larangan berdagang sama saja dengan “mengambil nasi dari mulut orang lain.”

Dalam catatan sejarah, usaha Belanda atau VOC untuk mengadakan hubungan dagang dengan Gowa sudah dimulai tahun 1601 dan disusul tahun 1607, tetapi selalu ditolak oleh raja Gowa. Dengan berbagai cara, VOC tetap berusaha untuk menjalankan hak monopoli dagangnya, termasuk di kawasan Indonesia Timur.

Baca Juga
  • Pertamina Peduli, Salurkan Energi Kebaikan untuk Menguatkan 700 Warga Terdampak Gempa di Maumere
  • Gempa Susulan di NTT Capai 1.624 Kali, BMKG Catat 23 Gempa di Atas M5
  • HUT ke-81 RI, Menaker: Hilirisasi Butuh Pekerja Kompeten

Sejak VOC terbentuk tahun 1602, beberapa tahun kemudian sudah diadakan hubungan dagang di Indonesia Barat, khususnya di Jawa. Tetapi di Indonesia Timur barulah Maluku, sedangkan Kerajaan Gowa masih sulit untuk dihadapi.

Tahun 1615, semasa pemerintahan Sultan Alauddin, Belanda atau VOC mengulangi lagi usahanya untuk mengadakan kontak dengan Gowa. Kapal dagang Belanda Enkhuysen berlabuh di bandar Sombaopu. Seorang Belanda bernama Abraham Sterck tidak mendapat perlakuan layak dari orang Makassar, ia kembali ke kapal melaporkan hal tersebut kepada kapten kapal, yaitu Dirck de Vries.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Tipu Muslihat VOC

Merespon peristiwa tersebut, pihak Belanda atau VOC mengadakan tipu muslihat dengan mengundang beberapa orang bangsawan dan pembesar Kerajaan Gowa untuk beramah-tamah dengan Belanda di atas kapal.

Ternyata setelah berada di atas kapal, orang-orang Gowa tersebut dilucuti senjatanya. Mereka tidak mau menyerah begitu saja, sehingga terjadilah perkelahian yang membawa korban bagi kedua belah pihak.

Karena kekuatan yang tidak seimbang, perlawanan orang Gowa di kapal Belanda dapat dipatahkan dan beberapa di antaranya dibawa ke Jawa sebagai tawanan VOC.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
007 First Light, Ngerasain Jadi James Bond Pas Masih Labil
• 20 jam lalu
0
thumb
Peringatan HUT RI, Mobil Kepresidenan Era Soeharto-BJ Habibie Mejeng di Istana
• 6 jam lalu
0
thumb
Pesan SBY dari AS untuk Pemerintahan Prabowo: Do Your Best, Jaga Kesehatan Fiskal
• 16 jam lalu
0
thumb
Saat Gen Z Mulai Melirik Pekerjaan Kuno, 12 Profesi Jadul Ini Kembali Populer di 2026
• 15 jam lalu
0
thumb
Dari Kabel Fiber ke Lapangan, Padel Fifer CUP Jadi Ajang Silaturahim Industri Telekomunikasi
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.