Dalam lorong panjang di sebuah gang sempit di Jalan Masjid Darul Falah, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, cuaca panas yang menyengat terasa sejuk saat embusan angin menerobos terpal yang menutupi gang. Di sebuah meja, puluhan bola pingpong berwarna orange diletakkan di atas gelas plastik yang dipenuhi air. Bola pingpong tampak bergerak pelan terkena tiupan angin.
Gadis berparas manis mendekatkan mikrofon kemulutnya dan dari pengeras suara terdengar dia meminta peserta lomba untuk bersiap. ”1..2..3…” dan sejuruh kemudian beberapa anak berlari kecil dengan menggigit sendok plastik mencoba menyendok bola pingpong itu. Beberapa gagal di kesempatan pertama. Sejumlah anak lain yang tidak berlomba memberikan semangat sebisanya.
Keceriaan lomba yang diselenggarakan untuk memeriahkan HUT ke-81 RI, Senin (17/8/2026) tersebut berlangsung sederhana. Gang sempit yang hanya muat untuk motor berpapasan itu tidak bisa menggelar lomba warga secara besar-besaran, namun semua yang hadir menikmatinya.
Semua warga negara Indonesia, dimanapun mereka berada, memaknai kemerdekaan RI dengan suka cita. Warga yang tinggal perkampungan hingga kompleks perumahan elit, dari ujung barat hingga ujung timur nusantara, masing-masing mempunyai cara untuk merayakannya. Mereka berkumpul, bergotong royong untuk menyebarkan energi kegembiraan di hari kemerdekaan. Lomba 17-an adalah salah satu cara untuk kembali bermasyarakat, membaur dengan warga, dan mungkin berkabar kondisi saat ini.
Lomba memakai baju sambil mengontrol balon Kompas/Yuniadhi Agung
Lomba memakai baju sambil mengontrol balon Kompas/Yuniadhi Agung
Lomba memakai baju sambil mengontrol balon Kompas/Yuniadhi Agung
Bagi mereka yang mempunyai ruang terbuka yang lumayan luas, seperti lapangan atau pekarangan di kampung, lomba diselenggarakan dengan lebih meriah. Aneka hiasan bernuasa merah putih menjadi pemain suasana.
Tanpa ada pelindung dari terik matahari, warga yang didominasi anak-anak serta remaja yang menjadi panitia tampak semangat untuk memeriahkan lomba. Menang gembira, kalah tidak apa-apa. Kehadiran orangtua mereka yang memberi semangat cukup menjadi kekuatan bagi mereka saat berkompetisi.
Lomba 17-an adalah kegiatan organik yang menjadi tradisi budaya bangsa. Momen merayakan hari merdeka menjadi hiburan yang menyenangkan, sekaligus cara untuk sebentar lupa akan beratnya hidup di tengah kondisi yang serba sulit.






Komentar (0)