Frustasi Diperas, Ahok Ceritakan Alasan Menutup Pabriknya

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengungkap salah satu pengalaman yang menjadi titik balik dalam kehidupannya sebelum terjun ke dunia politik. Ia mengaku pernah sengaja menutup pabrik miliknya pada 2003 karena tidak tahan menghadapi tekanan dan arogansi oknum pejabat.

Kisah tersebut disampaikan Ahok saat berbincang dengan akademisi Rhenald Kasali dalam program Cafe Berisi yang tayang di kanal YouTube Rhenald Kasali, Jumat (14/8/2026).

Ahok menceritakan, sebelum masuk politik, dirinya merupakan pengusaha di Belitung. Saat itu, fokusnya adalah mengembangkan usaha sekaligus memberikan kesejahteraan kepada para pekerja melalui gaji yang layak, asuransi, dan jaminan pensiun.

Ia mengaku tidak tertarik dengan dunia politik. Namun, pandangan tersebut berubah setelah bisnisnya berhadapan dengan tekanan dari oknum pejabat.

Ahok mengatakan, ketika itu pabriknya didatangi sejumlah pihak, termasuk oknum pejabat pajak dan perwakilan perusahaan BUMN yang berstatus joint venture dengan pihak asing.

Menurut Ahok, berbagai tekanan diberikan hingga membuat kegiatan pabrik sulit berjalan.

"Orangnya banyak yang Melayu kita juga, orang bule yang lama-lama juga sudah jadi oknum juga semua kan kalau sudah di Indonesia. Jadi akhirnya kita ditekan macam-macam supaya (pabrik) enggak bisa jalan," ujar Ahok.

Situasi semakin memanas ketika salah satu oknum pejabat disebut mengatakan bahwa kelangsungan pabrik berada di tangannya.

Ucapan tersebut membuat Ahok tersinggung sebagai pemilik usaha. Ia kemudian memutuskan untuk menutup pabriknya.

"Wah saya tersinggung. Pabrik saya tergantung saya dong! Saya mau tutup sekarang juga, saya tutup," kata Ahok.

Ahok juga mengaku sempat terpancing emosi hingga memiliki keinginan untuk memukul oknum pejabat tersebut.

"Gua pikir kau tabok dia nih. Gua pikir nih minimal ompong lah gua pikir gitu," ujar Ahok sambil tertawa.

Namun, ia tidak melakukan tindakan kekerasan tersebut.

Peristiwa itu kemudian membuat Ahok teringat pada nasihat ayahnya yang telah meninggal pada 1997. Sang ayah pernah menyampaikan pepatah Tiongkok kuno mengenai hubungan antara kekayaan dan kekuasaan.

Baca Juga: Ditekan Oknum Pajak, Ahok Ungkap Pamannya Meninggal

Menurut Ahok, nasihat tersebut menggambarkan bahwa orang kaya sekalipun memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan pejabat yang memiliki kewenangan.

"Jadi orang kaya jangan lawan pejabat... Aku enggak mungkin bisa nabok dia kalau kita sama-sama bukan pejabat kan? Kalau hanya dia (pejabat) dan orang kaya aja, enggak bisa (dilawan)," tuturnya.

Pengalaman menutup pabrik pada 2003 tersebut akhirnya mengubah cara pandang Ahok terhadap politik. Ia menyadari bahwa kekayaan tidak selalu cukup untuk menghadapi kesewenang-wenangan birokrasi.

Dari pengalaman itu pula, Ahok mulai melihat politik sebagai jalur untuk memiliki kewenangan dalam membuat kebijakan dan menghadapi persoalan yang sebelumnya ia alami sebagai pengusaha.

Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu pintu masuk Ahok ke dunia politik. Setelah mendapat pendekatan dari sejumlah tokoh partai yang telah mengenalnya, ia akhirnya memutuskan meninggalkan dunia usaha dan mulai menapaki karier politik.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
180.000 Warga Bertahan Tanpa Listrik usai Diterjang Badai Dahsyat
• 16 menit lalu
0
thumb
Catat! 27 Lokasi Parkir Jika Ingin Rayakan HUT ke-81 RI di Monas, GBK hingga Ancol
• 9 jam lalu
0
thumb
Peringatan HUT Ke-81 RI, Prabowo akan Pimpin Renungan Suci di TMPN Utama Kalibata
• 16 jam lalu
0
thumb
Bandung Kembali Jadi Panggung Panjat Tebing Dunia
• 17 jam lalu
0
thumb
Mobil Pertama Orang Indonesia, Daihatsu Punya Angka Mengejutkan
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.